Berikut ini hadist yang terdapat di dalam kitab "Fadhillah Amal" yang disusun oleh Maulana Muhammad Zakaria Al-Khandalawi RA :
Dalam suatu riwayat Nabi SAW bersabda,: "Barang siapa menyia-nyiakan sholat, maka Allah SWT akan mengazabnya dengan 15 siksaan.Enam macam siksaan akan ditimpakan ketika di dunia, tiga macam siksaan ketika mati, tiga macam siksaan ketika di alam kubur, dan Tiga macam siksaan ketika bangkit dari kubur.
Adapun Enam macam siksaan yang akan ditimpakan di dunia adalah :
1. Allah SWT akan mencabut keberkahan umurnya.
2. Allah SWT akan menghapuskan ciri-ciri keshalihan dari wajahnya.
3. Seluruh amal shalihnya tidak akan mendapat ganjaran dari Allah SWT.
4. Allah SWT tidak akan mengangkat do'anya ke langit.
5. Seluruh makhluk di dunia akan mencercanya.
6. Tidak akan mendapat bagian dari do'a orang-orang shalih.
Tiga macam siksaan ketika mati adalah :
1. Dia akan mati dalam keadaan hina.
2. Dia akan mati dalam keadaan lapar.
3. Dia akan mati dalam keadaan haus, sehingga walaupun dia diberi minum air seluruh samudra di dunia tidak akan bisa menghilangkan kehausannya.
Tiga macam siksaan ketika di alam kubur adalah :
1. Allah SWT akan menyempitkan kuburnya dan menghimpit tubuhnya, sehingga tulang-tulang rusuk kiri & kanannya saling bersilangan.
2. Api akan dinyalakan di dalam kuburnya dan ia akan diguling-gulingkan di dalam baranya siang dan malam.
3. Allah SWT akan memasukkan ular berbisa yang bernama Syuja'ul-Agra' ke dalam kuburnya, kedua mata ular tersebut terbuat dari api, kuku-kukunya dari besi, panjang setiap kukunya sepanjang sehari perjalanan. Ular itu akan memekik kepadanya, "Saya adalah Syuja'ul-Aqra'!". Suaranya seperti petir yang menyambar, ia berkata lagi, "Tuhanku telah memerintahkan aku untuk menderamu, karena kamu telah menyia-nyiakan sholat Shubuh hingga Dzuhur. Karena kamu telah menyia-nyiakan sholat Dzuhur hingga, Ashar, Ashar hingga Maghrib, Maghrib hingga Isya', dan Isya' hingga Shubuh". Setiap pukulan akan membenamkan orang itu ke dalam tanah sedalam 70 hasta, lalu dengan kukunya ular itu akan mencungkilnya lagi keluar dari tanah, terus berulang-ulang sampai hari kiamat. Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari adzab kubur.
Tiga macam siksaan yang akan ditimpakan pada hari kiamat (ketika dibangkitkan dari kubur) adalah :
1. Allah SWT memerintahkan malaikat untuk menarik orang itu hingga ke neraka Jahanam dengan wajah terseret.
2. Pada hari Hisab, Allah SWT akan memandang dia dengan pandangan murka, sehingga rontoklah daging wajah orang itu.
3. Allah SWT akan menghisabnya dengan hisab yang sangat keras, tiada keringanan sedikitpun baginya selama-lamanya, sehingga Allah SWT memasukkannya ke dalam neraka yang merupakan seburuk-buruk tempat.
Na'udzubillahi min dzalik. Semoga Allah SWT melindungi kita dari siksa-siksa tersebut dan menjadikan diri kita, keluarga, sanak famili kita dan semua manusia mampu menjaga sholat dengan baik sesuai yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.
Berdakwah Untuk Membentuk Penduduk Kecamatan Bantan dan Umat Islam Yang Agamis
Al-'Ashr
Minggu, 09 September 2007
SIKSAAN BAGI ORANG YANG MENYIA-NYIAKAN SHOLAT LIMA WAKTU
Kamis, 09 Agustus 2007
Wudhuk
Dari Abu Hurairah r.a. katanya: Saya mendengar Rasulullah s.a.w bersabda : Sesungguhnya umatku itu akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya wajahnya dan amat putih bersih tubuhnya dari sebab bekas-bekasnya berwuduk. Maka dari itu, barangsiapa yang dapat di antara engkau semua hendak memperpanjang- yakni menambahkan bercahayanya, maka wajarlah ia melakukannya dengan menyempurnakan berwuduk itu sesempurna mungkin.
Dari Usman bin Affan r.a. katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda : Barangsiapa yang berwuduk lalu memperbaguskan wuduknya, yakni memyempurnakan sesempurna mungkin, maka keluarlah kesalahan-kesalahannya sehingga keluarnya itu sampai dari bawah kuku-kukunya.
(Riwayat Muslim)
Dari Abu Hurairah r.a. pula bahawasanya Rasulullah s.a.w bersabda : Sukakah engkau semua kalau saya tunjukkan akan sesuatu amalan yang dapat melebur semua kesalahan dan dengannya dapat pula menaikkan beberapa darjat?. Para sahabat menjawab : Baikah, ya Rasulullah. Beliau s.a.w. lalu bersabda : Yaitu menyempurnakan wuduk sekalipun menemui beberapa hal yang tidak disenangi, seperti telampau dingin dan sebagainya, banyaknya melangkahkan kaki untuk kemasjid dan menantikan salat sesudah melakukan salat. Itulah yang disebut ribath, iaitu perjuangan menahan nafsu untuk memperbanyakkan ketaatan pada Tuhan.
(Riwayat Muslim)
Dari Umar bin al-Khaththab r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya : Tiada seseorangpun dari engkau semua yang berwuduk lalu ia memyampaikan yakni memyempurnakan wuduknya, kemudian mengucapkan: Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh, melainkan dibukakanlah untuknya pintu syurga yang delapan buah banyaknya. Ia diperbolehkan masuk dari pintu manpun juga yang dikehendaki olehnya. (Riwayat Muslim)
Dari Usman bin Affan r.a. katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda : Barangsiapa yang berwuduk lalu memperbaguskan wuduknya, yakni memyempurnakan sesempurna mungkin, maka keluarlah kesalahan-kesalahannya sehingga keluarnya itu sampai dari bawah kuku-kukunya.
(Riwayat Muslim)
Dari Abu Hurairah r.a. pula bahawasanya Rasulullah s.a.w bersabda : Sukakah engkau semua kalau saya tunjukkan akan sesuatu amalan yang dapat melebur semua kesalahan dan dengannya dapat pula menaikkan beberapa darjat?. Para sahabat menjawab : Baikah, ya Rasulullah. Beliau s.a.w. lalu bersabda : Yaitu menyempurnakan wuduk sekalipun menemui beberapa hal yang tidak disenangi, seperti telampau dingin dan sebagainya, banyaknya melangkahkan kaki untuk kemasjid dan menantikan salat sesudah melakukan salat. Itulah yang disebut ribath, iaitu perjuangan menahan nafsu untuk memperbanyakkan ketaatan pada Tuhan.
(Riwayat Muslim)
Dari Umar bin al-Khaththab r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya : Tiada seseorangpun dari engkau semua yang berwuduk lalu ia memyampaikan yakni memyempurnakan wuduknya, kemudian mengucapkan: Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh, melainkan dibukakanlah untuknya pintu syurga yang delapan buah banyaknya. Ia diperbolehkan masuk dari pintu manpun juga yang dikehendaki olehnya. (Riwayat Muslim)
Senin, 09 Juli 2007
Tangisan Seorang Gadis Cilik
Fathimah adalah seorang gadis kecil yang lemah lembut dan berani, namun hidup dalam keprihatinan. Pada masa kanak-kanak, dia tidak memperoleh kehidupan dalam kemanjaan yang biasa dinikmati oleh anak-anak sebayanya. Keluarganya hidup dalam pengasingan sehingga kecerian bermain, bercanda, dan bermanja berganti dengan hinaan dan cercaan dari kaum Quraisy. Ketika berangkat remaja, diapun ditinggalkan oleh ibu tercintanya, Khadijah. Tugas rumah tangga pun beralih kepadanya, karena semua saudara perempuannya telah mengikuti suami mereka. Semua itu dijalaninya dengan penuh keprihatinan, namun ikhlas.
Hari-harinya penuh dengan tugas kerumahtanggaan. Dialah yang menyediakan makanan, minuman, dan segala keperluan untuk ayah tercintanya, Rasulullah Saw. Dia pulalah yang menghibur dan menyenangkan hati sang ayah bila duka melandanya. Gadis kecil yang tabah dan lembut itu telah menjadi pengganti ibu di rumah tangga ayahnya.
Pada suatu hari, ketika sedang asyik menyediakan makanan untuk ayahnya, tiba-tiba temannya memanggil dari luar, "Fathimah, Fathimah, kesinilah, lihatlah ayahmu." "Kenapa dengan Ayahku ?" tanya Fathimah dengan cemas. "Orang-orang Quraisy telah memperolok-olokkan ayahmu di Masjidil Haram,"kata teman Fathimah. Tanpa mendengarkan lanjutan cerita temannya itu, Fathimah tergesa-gesa berlari dan berlari menuju Ka'bah. Setibanya dilapangan terbuka dekat Ka'bah, Fathimah melihat ayahnya, Rasulullah, sedang bersujud, sementara orang-orang kafir mengerumuninya. Dia bergegas menghampiri orang tuanya.
"Astaghfirullah," kata Fathimah.Dia melihat punggung orang tuanya berlumuran dengan kotoran unta. Secepat kilat dibersihkannya kotoran yang menempel dipunggung ayahnya. Ketika hampir selesai didengarnya orang ramai terbahak-bahak. Fathimah berpaling dan dengan kesal berkata, "Alangkah sampai hati kalian memperolok-olok ayahku, padahal dia adalah keluarga kalian sendiri. "
Mendengar ucapan Fathimah, olok-olok mereka tidak malah reda, tetapi bahkan tawa mereka semakin seru. Salah seorang diantara mereka berkata, "Orang tuamu yang telah memperolok-olok agama nenek moyang kita."
"Ketahuilah, apa yang telah dikatakan oleh ayahku adalah ajaran yang benar. Kalian telah sesat selama ini. Tidak ada yang dikatakan oleh ayahku, kecuali apa yang telah diwahyukan Tuhan kepadanya." balas Fathimah dengan berani.
"Haaa,haaa,haa," tawa meraka bertambah seru mendengar cerita Fathimah seraya berkata, "Cerita kamu itu adalah cerita orang gila." Fathimah merasa tersinggung. Dia berkata,"Janganlah kau tuduhkan hal yang demikian itu kepada keluargamu sendiri. Pernahkah ayahku membohongi kalian? Bukankah dia yang telah menyelesaikan perselisihan diantara kalian ?Bukankah kalian yang memberinya gelar Al-Amin (yang dapat dipercaya)?"
Mereka terdiam. Apa yang dikatakan Fathimah adalah benar. Mereka tidak dapat menyangkalnya. Mereka terdiam sejenak, dan berangsur-angsur meninggalkan fathimah. Mereka bergumam,"Seorang Kanak-kanak membela ayahnya."
Fathimah pun kembali membersihkan punggung ayahnya, sementara air matanya menetes tak tertahan melihat penderitaan ayah tercintanya.Akhirnya, diapun menangis sesenggukan.
Setelah ayahnya mengucapkan salam sujudnya, Dilihatnya Fathimah menangis tersedu- sedu. "kenapa kau menangis, anakku?" tanya Rasulullah. fathimah bertambah menangis, sehingga nafasnya memburu menahan sedu."Duh Ayahku, alangkah tabah hatimu. Mereka telah melumuri pakaianmu dengan kotoran, meraka telah memperolok-olokmu, namun tidak ada dendam di hatimu."
"Ketahuilah anakku, mereka tidak menyadari perbuatannya, "Rasulullah menghibur anak gadisnya. Sambil berbimbingan mereka pulang kerumah. Selama dalam perjalanan, fathimah bersesenggukan. Dia prihatin terhadap nasib yang menimpa rasulullah.
Pada suatu hari yang lain, Rasulullah pulang ke rumah dengan muka sembab dan pakaian yang penuh kotoran. Di pelipis tampak ada darah mengalir. Fathimah tersedu lagi,"Duh ayahku, alangkah menderitanya engkau." Ayah tersayang menjawab, "Anakku ..., tidak ada kebahagiaan tanpa penderitaan." Fathimah segera saja mengambil kain dan air, kemudian membersihkan luka ayahnya. Hatinya pilu dan air matanya tak tertahankan lagi. Dia pun menangis sesenggukan.
"Jangan menangis anakku, dan jangan marah kepada orang yang telah berbuat tidak baik kepada ayahmu. Doakanlah mereka semoga mereka cepat menyadari kesesatannya," ujar Rasulullah menasehati anaknya.
Sifat seorang ayah yang suka memaafkan orang yang berbuat jahil terhadapnya ini, mengalir kepada Fathimah. "Alangkah pemaafnya engkau ayahh, " kata batin Fathimah. "Adakah orang yang telah menyakiti dirimu, tetapi tidak kau maafkan ? Dapatkah aku memaafkan orang yang telah berbuat pada diriku? Oh ayah alangkah baiknya jiwamu. Akan kuingat sifat ayah yang pemaaf ini"."Sifat pemaaf inilah yang menempa gadis cilik ini. Sifat ini telah menjadikannya bersifat zuhud, menerima dengan ridha apa yang menimpa dirinya.
Kenyataan pahit yang melanda keluarganya, gangguan-gangguan menyakitkan yang menimpa ayahnya, menyebabkan gadis kecil lebih cepat dewasa di banding umurnya. Fathimah cepat dewasa dalam berfikir, sehingga cepat menanggapi situasi yang dihadapinya.
Hari-harinya penuh dengan tugas kerumahtanggaan. Dialah yang menyediakan makanan, minuman, dan segala keperluan untuk ayah tercintanya, Rasulullah Saw. Dia pulalah yang menghibur dan menyenangkan hati sang ayah bila duka melandanya. Gadis kecil yang tabah dan lembut itu telah menjadi pengganti ibu di rumah tangga ayahnya.
Pada suatu hari, ketika sedang asyik menyediakan makanan untuk ayahnya, tiba-tiba temannya memanggil dari luar, "Fathimah, Fathimah, kesinilah, lihatlah ayahmu." "Kenapa dengan Ayahku ?" tanya Fathimah dengan cemas. "Orang-orang Quraisy telah memperolok-olokkan ayahmu di Masjidil Haram,"kata teman Fathimah. Tanpa mendengarkan lanjutan cerita temannya itu, Fathimah tergesa-gesa berlari dan berlari menuju Ka'bah. Setibanya dilapangan terbuka dekat Ka'bah, Fathimah melihat ayahnya, Rasulullah, sedang bersujud, sementara orang-orang kafir mengerumuninya. Dia bergegas menghampiri orang tuanya.
"Astaghfirullah," kata Fathimah.Dia melihat punggung orang tuanya berlumuran dengan kotoran unta. Secepat kilat dibersihkannya kotoran yang menempel dipunggung ayahnya. Ketika hampir selesai didengarnya orang ramai terbahak-bahak. Fathimah berpaling dan dengan kesal berkata, "Alangkah sampai hati kalian memperolok-olok ayahku, padahal dia adalah keluarga kalian sendiri. "
Mendengar ucapan Fathimah, olok-olok mereka tidak malah reda, tetapi bahkan tawa mereka semakin seru. Salah seorang diantara mereka berkata, "Orang tuamu yang telah memperolok-olok agama nenek moyang kita."
"Ketahuilah, apa yang telah dikatakan oleh ayahku adalah ajaran yang benar. Kalian telah sesat selama ini. Tidak ada yang dikatakan oleh ayahku, kecuali apa yang telah diwahyukan Tuhan kepadanya." balas Fathimah dengan berani.
"Haaa,haaa,haa," tawa meraka bertambah seru mendengar cerita Fathimah seraya berkata, "Cerita kamu itu adalah cerita orang gila." Fathimah merasa tersinggung. Dia berkata,"Janganlah kau tuduhkan hal yang demikian itu kepada keluargamu sendiri. Pernahkah ayahku membohongi kalian? Bukankah dia yang telah menyelesaikan perselisihan diantara kalian ?Bukankah kalian yang memberinya gelar Al-Amin (yang dapat dipercaya)?"
Mereka terdiam. Apa yang dikatakan Fathimah adalah benar. Mereka tidak dapat menyangkalnya. Mereka terdiam sejenak, dan berangsur-angsur meninggalkan fathimah. Mereka bergumam,"Seorang Kanak-kanak membela ayahnya."
Fathimah pun kembali membersihkan punggung ayahnya, sementara air matanya menetes tak tertahan melihat penderitaan ayah tercintanya.Akhirnya, diapun menangis sesenggukan.
Setelah ayahnya mengucapkan salam sujudnya, Dilihatnya Fathimah menangis tersedu- sedu. "kenapa kau menangis, anakku?" tanya Rasulullah. fathimah bertambah menangis, sehingga nafasnya memburu menahan sedu."Duh Ayahku, alangkah tabah hatimu. Mereka telah melumuri pakaianmu dengan kotoran, meraka telah memperolok-olokmu, namun tidak ada dendam di hatimu."
"Ketahuilah anakku, mereka tidak menyadari perbuatannya, "Rasulullah menghibur anak gadisnya. Sambil berbimbingan mereka pulang kerumah. Selama dalam perjalanan, fathimah bersesenggukan. Dia prihatin terhadap nasib yang menimpa rasulullah.
Pada suatu hari yang lain, Rasulullah pulang ke rumah dengan muka sembab dan pakaian yang penuh kotoran. Di pelipis tampak ada darah mengalir. Fathimah tersedu lagi,"Duh ayahku, alangkah menderitanya engkau." Ayah tersayang menjawab, "Anakku ..., tidak ada kebahagiaan tanpa penderitaan." Fathimah segera saja mengambil kain dan air, kemudian membersihkan luka ayahnya. Hatinya pilu dan air matanya tak tertahankan lagi. Dia pun menangis sesenggukan.
"Jangan menangis anakku, dan jangan marah kepada orang yang telah berbuat tidak baik kepada ayahmu. Doakanlah mereka semoga mereka cepat menyadari kesesatannya," ujar Rasulullah menasehati anaknya.
Sifat seorang ayah yang suka memaafkan orang yang berbuat jahil terhadapnya ini, mengalir kepada Fathimah. "Alangkah pemaafnya engkau ayahh, " kata batin Fathimah. "Adakah orang yang telah menyakiti dirimu, tetapi tidak kau maafkan ? Dapatkah aku memaafkan orang yang telah berbuat pada diriku? Oh ayah alangkah baiknya jiwamu. Akan kuingat sifat ayah yang pemaaf ini"."Sifat pemaaf inilah yang menempa gadis cilik ini. Sifat ini telah menjadikannya bersifat zuhud, menerima dengan ridha apa yang menimpa dirinya.
Kenyataan pahit yang melanda keluarganya, gangguan-gangguan menyakitkan yang menimpa ayahnya, menyebabkan gadis kecil lebih cepat dewasa di banding umurnya. Fathimah cepat dewasa dalam berfikir, sehingga cepat menanggapi situasi yang dihadapinya.
Sabtu, 09 Juni 2007
JAUHILAH 7 PERKARA
Bismillah Walhamdulillah Was Salaatu Was Salaam 'ala Rasulillah.
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya : Rasulullah SAW telah bersabda: Jauhilah tujuh perkara yang boleh membinasakan kamu iaitu menyebabkan kamu masuk Neraka atau dilaknati oleh Allah. Para Sahabat bertanya : Wahai Rasulullah! Apakah tujuh perkara itu? Rasulullah SAW bersabda: Mensyirikkan Allah iaitu :
1. MenyekutukanNya
2. melakukan perbuatan sihir
3. membunuh manusia yang diharamkan oleh Allah melainkan dengan hak
4. memakan harta anak yatim
5. memakan harta riba
6. lari dari medan pertempuran
7. dan memfitnah perempuan-perempuan yang baik iaitu yang boleh dikahwini serta menjaga maruah dirinya, juga perempuan yang tidak memikirkan untuk melakukan perbuatan jahat serta perempuan yang beriman dengan Allah dan RasulNya dengan fitnah melakukan perbuatan zina.
[Bukhari & Muslim]
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya : Rasulullah SAW telah bersabda: Jauhilah tujuh perkara yang boleh membinasakan kamu iaitu menyebabkan kamu masuk Neraka atau dilaknati oleh Allah. Para Sahabat bertanya : Wahai Rasulullah! Apakah tujuh perkara itu? Rasulullah SAW bersabda: Mensyirikkan Allah iaitu :
1. MenyekutukanNya
2. melakukan perbuatan sihir
3. membunuh manusia yang diharamkan oleh Allah melainkan dengan hak
4. memakan harta anak yatim
5. memakan harta riba
6. lari dari medan pertempuran
7. dan memfitnah perempuan-perempuan yang baik iaitu yang boleh dikahwini serta menjaga maruah dirinya, juga perempuan yang tidak memikirkan untuk melakukan perbuatan jahat serta perempuan yang beriman dengan Allah dan RasulNya dengan fitnah melakukan perbuatan zina.
[Bukhari & Muslim]
Rabu, 09 Mei 2007
Tertutupnya Kalbu
Upaya mendapatkan cahaya (petunjuk) Allah memang ibarat astronom yang berupaya menangkap cahaya alam dengan sistem teleskop besar yang sangat peka, manusia pun harus menggunakan kalbu (qalb) yang sangat peka.
Kalbu manusia memang merupakan detektor yang sangat peka. Namun, sering kali kepekaannya bisa berkurang atau bahkan menghilang ketika kalbu itu mulai tertutup debu-debu dosa dan tak ada upaya membersihkannya. Perilaku kalbu itu pun memang mirip dengan fungsi teleskop dan detektornya.
Bayangkan, astronom yang bekerja dengan teleskopnya menangkap cahaya alam. Malam cerah tak berawan, cahaya bintang begitu cemerlang menembus teleskop dan direkam detektor kamera CCD. Berpuluh megabite data dapat terekam semalaman siap untuk diolah. Namun, upaya itu percuma ketika analisis citra menunjukkan adanya ghost image, gambar aneh yang merusak kecemerlangan cahaya bintang.
Ternyata, detektor peka itu terselubung titik-titik embun. Walaupun sekadar embun tipis, hal itu cukup untuk menghilangkan makna cahaya bintang. Apalagi bila debu tebal yang menutupinya, pasti cahaya tak mungkin masuk.
Kalbu pun demikian. Bila debu-debu dosa menyelimutinya, kepekaannya makin hilang. Jangankan berfungsi sebagai detektor yang bisa membimbing manusia, untuk sekadar menangkap cahaya Allah pun mustahil. Padahal, kalbu berfungsi sebagai detektor pembeda yang baik dan buruk. Rasulullah saw telah berpesan, ''Mintalah fatwa pada kalbumu; kebajikan adalah segala yang menenteramkan jiwa dan kalbu, sedangkan dosa adalah segala yang meragukan dalam jiwa dan hati, walaupun orang lain membenarkannya,''
(HR Ahmad dan Addarimi).
Kemunafikan dapat menutup kalbu (QS 63: 3), apalagi kekafiran (QS 2:7, 2:88). Kalbunya tidak dapat dibersihkan lagi (QS 5:41). Bahkan, kalbunya menjadi sangat keras, tanpa celah yang dapat ditembus (QS 2:74). Kalbu yang demikian sama sekali tak dapat lagi menerima cahaya Allah, termasuk cahaya Alquran (QS 6:25).
Dan sesungguhnya Kami jadikan (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai kalbu, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (QS 7:179).
Walaupun mata dan telinga berfungsi juga sebagai detektor fisis, tetapi dalam hal menangkap cahaya Allah kalbulah yang paling berperan. Pokok pangkal kesesatan itu bukan karena butanya mata atau tulinya telinga, tetapi karena tidak berfungsinya kalbu (QS 22:46).
Kalbu yang tidak berfungsi baik, karena telah tertutup atau mengeras, cenderung membentuk perilaku manipulatif. Korupsi, kolusi, dan segala ketidakadilan bersumber dari tidak berfungsinya kalbu.
Hanya dengan iman dan zikir kalbu dapat dipelihara kepekaannya (QS 64:11) dan menjadi tenteram (QS 13:28) hingga mampu bergetar setiap cahaya Allah menyentuhnya (QS 8:2).
Kalbu manusia memang merupakan detektor yang sangat peka. Namun, sering kali kepekaannya bisa berkurang atau bahkan menghilang ketika kalbu itu mulai tertutup debu-debu dosa dan tak ada upaya membersihkannya. Perilaku kalbu itu pun memang mirip dengan fungsi teleskop dan detektornya.
Bayangkan, astronom yang bekerja dengan teleskopnya menangkap cahaya alam. Malam cerah tak berawan, cahaya bintang begitu cemerlang menembus teleskop dan direkam detektor kamera CCD. Berpuluh megabite data dapat terekam semalaman siap untuk diolah. Namun, upaya itu percuma ketika analisis citra menunjukkan adanya ghost image, gambar aneh yang merusak kecemerlangan cahaya bintang.
Ternyata, detektor peka itu terselubung titik-titik embun. Walaupun sekadar embun tipis, hal itu cukup untuk menghilangkan makna cahaya bintang. Apalagi bila debu tebal yang menutupinya, pasti cahaya tak mungkin masuk.
Kalbu pun demikian. Bila debu-debu dosa menyelimutinya, kepekaannya makin hilang. Jangankan berfungsi sebagai detektor yang bisa membimbing manusia, untuk sekadar menangkap cahaya Allah pun mustahil. Padahal, kalbu berfungsi sebagai detektor pembeda yang baik dan buruk. Rasulullah saw telah berpesan, ''Mintalah fatwa pada kalbumu; kebajikan adalah segala yang menenteramkan jiwa dan kalbu, sedangkan dosa adalah segala yang meragukan dalam jiwa dan hati, walaupun orang lain membenarkannya,''
(HR Ahmad dan Addarimi).
Kemunafikan dapat menutup kalbu (QS 63: 3), apalagi kekafiran (QS 2:7, 2:88). Kalbunya tidak dapat dibersihkan lagi (QS 5:41). Bahkan, kalbunya menjadi sangat keras, tanpa celah yang dapat ditembus (QS 2:74). Kalbu yang demikian sama sekali tak dapat lagi menerima cahaya Allah, termasuk cahaya Alquran (QS 6:25).
Dan sesungguhnya Kami jadikan (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai kalbu, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (QS 7:179).
Walaupun mata dan telinga berfungsi juga sebagai detektor fisis, tetapi dalam hal menangkap cahaya Allah kalbulah yang paling berperan. Pokok pangkal kesesatan itu bukan karena butanya mata atau tulinya telinga, tetapi karena tidak berfungsinya kalbu (QS 22:46).
Kalbu yang tidak berfungsi baik, karena telah tertutup atau mengeras, cenderung membentuk perilaku manipulatif. Korupsi, kolusi, dan segala ketidakadilan bersumber dari tidak berfungsinya kalbu.
Hanya dengan iman dan zikir kalbu dapat dipelihara kepekaannya (QS 64:11) dan menjadi tenteram (QS 13:28) hingga mampu bergetar setiap cahaya Allah menyentuhnya (QS 8:2).
Langganan:
Postingan (Atom)