Al-'Ashr

<a href="http://www.clock4blog.eu">clock for blog</a>
Free clock for your blog

Selasa, 25 Januari 2011

10 JENIS SOLAT YANG TIDAK DITERIMA OLEH ALLAH S.W.T

Rasulullah S.A.W. telah bersabda yang bermaksud : "Sesiapa yang memelihara solat, maka sholat itu sebagai cahaya baginya, petunjuk dan jalan selamat dan barangsiapa yang tidak memelihara sholat, maka sesungguhnya solat itu tidak menjadi cahaya, dan tidak juga menjadi petunjuk dan jalan selamat baginya." (Tabyinul Mahaarim)
Rasulullah S.A.W telah bersabda bahawa : "10 orang solatnya tidak diterima oleh Allah S.W.T, antaranya :

1. Orang lelaki yang sholat sendirian tanpa membaca sesuatu.
2. Orang lelaki yang mengerjakan solat tetapi tidak mengeluarkan zakat.
3. Orang lelaki yang menjadi imam, padahal orang yang menjadi makmum membencinya.
4. Orang lelaki yang melarikan diri.
5. Orang lelaki yang minum arak tanpa mahu meninggalkannya (Taubat).
6. Orang perempuan yang suaminya marah kepadanya.
7. Orang perempuan yang mengerjakan solat tanpa memakai tudung.
8. Imam atau pemimpin yang sombong dan zalim menganiaya.
9. Orang-orang yang suka makan riba'.
10. Orang yang solatnya tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan yang keji dan mungkar."

Sabda Rasulullah S.A.W yang bermaksud : "Barang siapa yang sholatnya itu tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan keji dan mungkar, maka sesungguhnya sholatnya itu hanya menambahkan kemurkaan Allah S.W.T dan jauh dari Allah."
Hassan r.a berkata : "Kalau sholat kamu itu tidak dapat menahan kamu dari melakukan perbuatan mungkar dan keji, maka sesungguhnya kamu dianggap orang yang tidak mengerjakan sholat. Dan pada hari kiamat nanti sholatmu itu akan dilemparkan semula ke arah mukamu seperti satu bungkusan kain tebal yang buruk."

Prosedur dan Jenis Pelayanan Kantor Urusan Agama Kecamatan Bantan

I. NIKAH

A. Rukun Dan Syarat Nikah

  1. Rukun Nikah
a. Calon pengantin laki-laki dan perempuan
b. Wali (dari calon mempelai perempuan)
c. Dua orang saksi yang adil (laki-laki)
d. Ijab dari pihak wali calon mempelai perempuan atau wakilnya.
e. Qabul dari calon mempelai laki-laki atau wakilnya.

2. Syarat Nikah
a. Syarat calon suami : Islam, terang laki-laki (bukan banci), tidak dipaksa, tidak beristri 4 orang, bukan mahrom calon istri, tidak punya istri yang haram dimadu dengan calon istri, mengetehui calon istri tidak haram dinikahi dan tidak sedang ihram haji atau umrah.
b. Syarat calon istri : Islam, terang wanitanya (bukan banci), telah memberi izin kepada wali untuk menikahkannya, tidak bersuami dan tidak dalam masa iddah, bukan mahram calon suami, sudah pernah dilihat calon suami, dan tidak dalam ihram haji dan umrah.
c. Syarat wali: Islam, baligh, berakal, tidak dipaksa, terang laki-lakinya, adil (bukan fasik), tidak sedang ihram haji dan umrah, tidak dicabut haknya dalam menguasai harta bendanya oleh pemerintah (mahjur bissafah), dan tidak rusak fikirannya karena tua atau sebagainya.
d. Syarat saksi : Islam, laki-laki, baligh, berakal, adil, mendengar (tidak tuli)), melihat (tidak buta), tidak bisu, tidak pelupa (mughaffal), menjaga harga diri (menjaga maruah), mengerti maksud ijab kabul, tidak merangkap menjadi wali.
e. Ijab dan kabul : Ijab dari pihak wali perempuan seperti: :” Hai fulan bin............ Aku nikahkan engkau dengan Fulanah binti......... dengan mas kawinnya (mahar).........
  Qabul : dari calon mempelai pria: “ Aku terima nikah Fulanah binti...........dengan mas kawinnya (mahar) ................

B. Prosedur Pendaftaran Pernikahan

1. Calon pengantin datang ke KUA untuk mengisi formulir pendaftaran nikah yang disediakan oleh KUA kecamatan setempat (PP No. 9 Tahun 1975 Pasal 3 Ayat 1)
2. Waktu pendaftaran minimal 10 hari sebelum menikah (PP No. 9 Tahun 1975 Pasal 10 Ayat 1)
3. Membawa surat keterangan asal-usul (model N2), surat persetujuan mempelai (model N3), surat keterangan orang tua (model N4), dan surat pemberitahuan kehendak nikah (model (N7) dari kantor desa / kelurahan setempat.
4. Membawa bukti imunisasi TT I bagi calon pengantin wanita dari puskesmas/rumah sakit setempat.

5. Membawa :
a. Surat izin pengadilan apabila tidak ada izin dari orang tua/wali (bagi yang belum berusia 21 tahun);
b. Pas Foto ukuran 3 x 4 sebanyak 4 lembar; 2 x 3 sebanyak 4 lembar
c. Dispensasi dari pengadilan bagi calon suami yang belum berumur 19 tahun dan bagi calon istri yan belum berumur 16 tahun.
d. Surat izin dari atasan/kesatuan jika calon pengantin adalah anggota TNI/POLRI;
e. Surat izin pengadilan bagi suami yang hendak beristri lebih dari seorang;
f. Akta cerai atau kutipan buku pendaftaran talak / buku pendaftaran cerai bagi mereka yang perceraiannya sudah terjadi sebelum berlakunya Undang-undang nomor 7 Tahun 1989;
g. Akta kematian atau surat keterangan kematian suami / istri yang ditandatangani oleh kepala desa/lurah atau pejabat berwenang yang menjadi dasar pengisian model N6 bagi janda/duda yang akan menikah, serta surat ganti nama bagi warga negara Indonesia keturunan.
h. Calon pengantin wajib mengikuti kursus calon pengantin (suscatin)
 i. Pelaksanaan akad nikah dipimpin oleh Pegawai Pencatat Nikah / Penghulu.
j. PPN / Penghulu menyerahkan buku kutipan akta nikah kepada calon pengantin sesaat setelah akad nikah.
k. Membayar biaya pencatatan nikah sebesar Rp.30.000,- sesuai dengan PP No.47 Tahun 2004.

C. Prosedur Pernikahan Campuran

Bagi Warga Negara Asing (WNA) yang akan melakukan pernikahan campuran di Indonesia, maka yang bersangkutan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Foto copy paspor yang bersangkutan;
2. Surat izin menikah / status dari negara atau perwakilan negara yang bersangkutan dan telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh penerjemah resmi;
3. Pas Foto ukuran 2 x 3 sebanyak 3 lembar;
4. Kepastian kehadiran wali, atau menyerahkan wakalah wali bagi WNA wanita;
5. Bagi WNI harus memenuhi prosedur sebagaimana pada poin IV;
6. Membayar biaya pencatatan nikah sebesar Rp. 30.000,-, sesuai dengan PP No. 47 Tahun 2004.

D. Legalisasi Buku Nikah dan Surat Keterangan Status

1. Tata Cara Legalisasi Buku Nikah dan Surat Keterangan Status
a. Bagi Suami Istri yang telah selesai melangsungkan akad nikah dan menerima buku kutipan akta nikah, maka kepada suami istri dilanjutkan melegalisasi copy buku nikah. ( Kpts Menag No. 298 tahun 2003 Pasal 27 Ayat 1).
b. Dalam hal legalisir buku nikah atau surat keterangan status bukan untuk keperluan keluar negeri dapat dilakukan oleh PPN yang mengeluarkan buku nikah atau PPN yang mewilayahi tempat tinggal yang berkepentingan, atau pejabat yang membidangi masalah kepenghuluan di tingkat kabupaten/kota, provinsi atau pusat. ( Kpts Menag No. 298 tahun 2003 Pasal 27 Ayat 2).
c. Bagi suami istri yang akan keluar negeri legalisasi buku nikahnya dilakukan oleh PPN yang mengeluarkan buku nikah atau PPN setempat dan pejabat di tingkat pusat yang membidangi masalah kepenghuluan. ( Kpts Menag No. 298 tahun 2003 Psal 27 Ayat 3).
d. Bagi mereka yang berstatus belum menikah/janda/duda dan akan melangsungkan pernikahan dan atau keperluan lain di luar negeri, legalisasi surat keterangan status dilakukan oleh PPN setempat dan pejabat di tingkat pusat yang membidangi masalah kepenghuluan. ( Kpts Menag No. 298 tahun 2003 Pasal 27 Ayat 4).
e. Dalam hal pencatatan nikah dan rujuk dilaksanakan di luar negeri, legalisasi buku nikah dilakukan oleh pejabat yang membidangi masalah kekonsuleran pada perwakilan Republik Indonesia setempat, atau PPN wilayah tempat tinggal yang berkepentingan, atau pejabat di tingkat pusat yang membidangi masalah kepenghuluan. ( Kpts Menag No. 298 tahun 2003 Pasal 27 Ayat 5).

2. Syarat – Syarat Legalisasi Buku Nikah

a. Mengisi formulir permohonan legalisasi
b. Menyerahkan Fotocopy KTP / Surat Keterangan Domisili.
c Menyerahkan Fotocopy kutipan akta nikah yang sudah dilegalisir oleh KUA yang menerbitkan sebanyak 3 eksemplar.
d. Menyerahkan Fotocopy bagi WNI.
e. Menyerahkan Fotocopy paspor bagi WNA.
f. Menyerahkan surat izin tidak berhalangan menikah dari kedutaan / perwakilan negara pemohon yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia (bagi pernikahan campuran)..
g. Menyerahkan Fotocopy Akta Cerai jika yang bersangkutan berstatus janda / duda.


II. RUJUK

A. Prosedur Pencatatan Rujuk

1. Bagi suami istri yang akan melaksanakan rujuk, memberitahukan halnya kepada PPN secara tertulis dengan dilengkapi akta cerai / talak.(Permenag No.11 Tahun 2007 Pasal 29 ayat 1).
2. PPN atau petugas kantor Urusan Agama memeriksa dan menilai syarat-syarat rujuk.(Permenag No.11 Tahun 2007 Pasal 29 ayat 2).
3. Suami mengucapkan ikrar rujuk dihadapan PPN atau penghulu atau pembantu PPN. (Permenag No.11 Tahun 2007 Pasal 29 ayat 3).
4. PPN mencatat pristiwa rujuk dalam akta rujuk yang ditanda tangani oleh suami, istri saksi-saksi dan PPN. (Permenag No.11 Tahun 2007 Pasal 29 ayat 4).
5. PPN menyerahkan buku catatan rujuk kepada suami istri setelah akta rujuk disahkan (Permenag No.11 Tahun 2007 Pasal 30 ayat 2)
6. KUA menyampaikan pemberitahuan rujuk kepada pengadilan untuk pengambil buku nikah. (Permenag No.11 Tahun 2007 Pasal 29 ayat 3).


III . WAKAF

A. Tata Cara mewakafkan dan Pendaftaran Tanah Wakaf

1. Pihak yang hendak mewakafkan tanahnya diharuskan datang dihadapan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf untuk melaksanakan Ikrar Wakaf (PP No. 28 Tahun 1977 Pasal 9 ayat 1)
2. Pelaksanaan ikrar, demikian pula pembuatan akta ikrar wakaf, dianggap sah jika dihadiri dan disaksikan oleh sekurang-kurangnya 2 (dua) orang saksi. (PP No. 28 Tahun 1977 Pasal 9 ayat 4)
3. Dalam melaksanakan ikrar wakaf pihak yang mewakafkan tanah harus membawa serta dan menyerahkan kepada Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf surat-surat sebagai berikut :
a. Sertifikat hak milik atau tanda bukti pemilikan tanah lainnya;
b. Surat keterangan dari kepala desa yang diperkuat oleh kepala kecamatan setempat yang menerangkan kebenaran pemilikan tanah dan tidak tersangkut suatu sengketa.
c. Surat keterangan pendaftaran tanah.
d. Izin Bupati / Walikota Kepala Daerah c/q. Kepala Sub Direktorat Agraria Setempat.
  (PP No. 28 Tahun 1977 Pasal 9 ayat 5)


B. Tata Cara Pendaftaran Wakaf Yang Terjadi Sebelum PP Nomor 28 Tahun 1977

1. Tanah wakaf yang sudah pernah terjadi sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah pendaftarannya dilakukan oleh nadzir yang bersangkutan kepada KUA setempat.(Permenag No.1 Tahun 1978 pasal 15 ayat 1)
2. Apabila nadzir yang bersangkutan sudah tidak ada lagi maka wakif atau ahlinya warisnya anak keturunan nadzir atau anggota masyarakat yang mengetahuinya mendaftarkan kepada KUA setempat.(Permenag No.1 Tahun 1978 pasal 15 ayat 2)
3. Apabila ada tanah wakaf dan tidak ada orang yang mau mendaftarkannya maka kepala desa berkewajiban mendaftarkannya kepada KUA setempat. (Permenag No.1 Tahun 1978 pasal 15 ayat 3)

4. Pendaftaran tanah wakaf disertai ;
a. Surat keterangan tanah atau surat keterangan kepala desa tentang perwakafan tanah tersebut. (Permenag No.1 Tahun 1978 pasal 15 ayat 4 poin a)
b. Dua orang saksi ikrar wakaf atau dua orang saksi istifadhah (orang yang mengetahui atau mendengar tentang perwakafan tersebut) (Permenag No.1 Tahun 1978 pasal 15 ayat 4 poin b).



IV. PENDIRIAN RUMAH IBADAH

A. Pendirian rumah ibadah didasarkan pada keperluan nyata dan sungguh-sungguh berdasarkan komposisi jumlah penduduk bagi pelayanan umat beragama yang bersangkutan di wilayah kelurahan/desa.(Peraturan bersama menteri agama dan menteri dalam negeri No:9 Tahun 2006 pasal 13 ayat 1)
B. Pendirian rumah ibadah dilakukan dengan tetap menjaga kerukunan umat beragama, tidak mengganggu ketentraman dan ketertiban umum, serta mematuhi peraturan perundang-undangan. (Peraturan bersama menteri agama dan menteri dalam negeri No:9 Tahun 2006 pasal 13 ayat 2)
C. Dalam hal keperluan nyata bagi pelayanan umat beragama di wilayah kelurahan / desa sebagaimana dimaksud dalam Peraturan bersama menteri agama dan menteri dalam negeri No:9 Tahun 2006 pasal 13 ayat 1 tidak terpenuhi, pertimbangan komposisi jumlah penduduk digunakan batas wilayah kecamatan atau kabupaten/kota atau provinsi. (Peraturan bersama menteri agama dan menteri dalam negeri No:9 Tahun 2006 pasal 13 ayat 3)
D. Pendirian rumah ibadah harus memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan teknis bangunan gedung. (Peraturan bersama menteri agama dan menteri dalam negeri No:9 Tahun 2006 pasal 14 ayat 1)
E. Selain memenuhi persyaratan, pendirian rumah ibadah harus memenuhi persyaratan khusus meliputi ;
1. Daftar nama dan Kartu Tanda Penduduk pengguna rumah ibadah paling sedikit 90 (sembilan puluh) orang yang disahkan oleh pejabat setempat sesuai dengan tingkat batas wilayah. (Peraturan bersama menteri agama dan menteri dalam negeri No:9 Tahun 2006 pasal 14 ayat 2 poin a)
2. Dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 (enam puluh) orang yang disahkan oleh lurah / kepala desa.(Peraturan bersama menteri agama dan menteri dalam negeri No:9 Tahun 2006 pasal 13 ayat 1 poin b)
3. Rekomendasi tertulis kepala kantor departemen agama kabupaten/kota.(Peraturan bersama menteri agama dan menteri dalam negeri No:9 Tahun 2006 pasal 13 ayat 1 poin c)
4. Rekomendasi tertulis FKUB kabupaten/kota.

 V. HAJI

A. Syarat-Syarat Menjadi Calon Jemaah Haji

1. Membuka tabungan haji di bank (B. RIAU, BNI, BRI, Atau B. MANDIRI, minimal sebesar (Dua Puluh Juta Seratus Ribu Rupiah).
2. Cek kesehatan di puskesmas setempat yang dilengkapi dengan tinggi badan, berat badan, dan golongan darah.
3. Foto diri 80 % tampilan wajah dengan ukuran 3 x 4 cm = 24 Lembar dan 4 x 6 cm = 20 Lembar dan 4 x 6 = 20 Lembar ( tidak boleh menggunakan baju dinas).
4. MemFotocopy persyaratan sebagai berikut :
a. Fotocopy KTP yang masih berlaku 15 Lembar.
b. Fotocopy buku tabungan haji 2 Lembar.
c. Fotocopy KIR 6 Lembar.
5. Mengisi blanko SPPH di Kantor Departemen Agama Kab. Bengkalis Penyelenggaraan Haji dan Umrah.
6. Bagi yang sudah pernah pergi haji apabila membawa muhrim yang belum pernah haji, melampirkan :
a. Akta Nikah
b. Akta Kelahiran
c. Kartu Keluarga
7. Semua persyaratan diatas (1,2,3,4 dan 6) dibawa ke bagian Haji Dan Umrah Kantor Departemen Agama Kab. Bengkalis dengan map kertas tebal :
a. Warna Merah (BRI)
b. Warna Kuning (B. RIAU)
c. Warna Biru (B. MANDIRI/B. SYARIAH MANDIRI)
d. Warna Hijau (BNI)
8. Membuat surat pernyataan barang bawaan calon jemaah haji .
9. Pendaftaran dibuka sepanjang masa setiap jam kerja.


VI. PENDIRIAN TPQ/TPA/TKA/RA

A. Pendirian TPQ/TPA/TKA

  Syarat – syarat mendirikan TPQ/TPA/TKA
1. Surat keterangan dari desa tentang keberadaan TPQ/TPA/TKA yang sudah berjalan minimal 6 bulan.
2. TPQ/TPA/TKA mempunyai jumlah siswa minimal 30 orang dan guru minimal 2 orang.
3. Mengajukan proposal pendirian TPQ/TPA/TKA yang ditujukan ke Kantor Departemen Agama untuk penerbitan piagam TPQ/TPA/TKA dengan melampirkan surat keterangan dari desa serta profil TPQ/TPA/TKA.


B. Pendirian RA
Syarat – syarat mendirikan RA
1. Mengajukan proposal pendirian RA yang ditujukan ke Kantor Departemen Agama.
2. Rekomendasi dari Pengawas RA
3. Bersedia untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar pada waktu pagi.


VII. MASUK ISLAM

Syarat-syarat dan tata cara masuk islam :
1. Pihak Yang hendak memeluk agama islam datang ke Kantor Urusan Agama setempat.
2. Mengajukan permohonan pengislaman kepada Ketua Pengurus Rumah Ibadah atau Organisasi islam.
3. Membuat surat pernyataan tidak ada paksaan memeluk agama islam (bermaterai).
4. Membuat surat pernyataan memeluk agama islam yang dituntun oleh Pengurus Rumah Ibadah atau Organisasi Islam dengan disaksikan oleh 2 orang saksi.
5. Memperoleh surat keterangan masuk islam dari kantor urusan agama.

Selasa, 11 Januari 2011

TUGAS DAN FUNGSI KUA

Dalam rangka mewujudkan cita-cita UUD 1945 khususnya dalam bidang keagamaan, Kantor Urusan Agama merupakan salah satu lembaga yang cukup penting di wilayah kecamatan.
Di Kecamatan Bantan, Kantor Urusan Agama terletak di Ibu Kota Kecamatan yaitu berada di Jl. Soekarno Hatta, dan merupakan salah satu diantara KUA yang ada di Kabupaten Bengkalis. Kecamatan ini terdiri dari 9 (sembilan) desa yang terdiri dari desa selatbaru, jangkang, bantan tua, bantan tengah, bantan air, muntai, teluk pambang, kembung luar dan desa teluk lancar.
Keberadaan KUA Kecamatan Bantan telah berdiri sejak tahun 1996. Sepanjang berdirinya KUA di Kecamatan Bantan telah banyak kemajuan yang dicapai khususnya dalam melaksanakan tugas yang diembannya yang berhadapan langsung dengan masyarakat. Berbagai program dan kegiatan telah dilakukan dan diharapkan mampu mewujudkan tujuan dan sasaran dibidang keagamaan. Hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan keberadaan Kantor Urusan Agama sebagai Lembaga pemerintah yang mengurus masalah keagamaan khususnya agama Islam
B. Tugas Pokok dan Fungsi
a. Tugas
KUA Kecamatan Bantan mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Kantor Kementerian Agama Khususnya dalam bidang urusan Agama Islam
b. Fungsi
Untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut di atas, KUA Kecamatan Bantan mempunyai fungsi :
1. Memberikan pelayanan kepada masyarakat dibidang :
• Administrasi Umum
• Nikah dan rujuk
• Wakaf
• Zakat, Infaq dan Sedekah
• Pembinaan Keagamaan
• Mualaf
• Pembinaan Jamaah Calon Haji
• Membina calon pengantin
• Pendataan Rumah Ibadah

2. Melaksanakan pembinaan terhadap lembaga-lembaga keagamaan seperti :
• Lembaga Penasehatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4).
• Badan Amil Zakat (BAZ)
• Pembinaan Pengamalan Agama (P2A)
• Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ)
• Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI)
• Majlis Ulama Indonesia (MUI)
• Peringatan Hari Besar Islam (PHBI)

3. Melaksanakan Kegiatan Lintas Sektoral dengan instansi atau ORMAS yang ada di Kecamatan Bantan.
4. Mengadakan Sarana dan Prasarana KUA Kec. Bantan

Minggu, 09 Desember 2007

SELAWAT

Allah Ta'ala berfirman: Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya menyampaikan salawatnya kepada Nabi yakni Nabi Muhammad. Hai orang-orang yang beriman, ucapkanlah salawat dan salam dengan sebenar-benarnya salam kepada Nabi itu. (l-Ahzab:56)

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash r.a. bahwasanya ia mendengar Rasulullah s.a.w bersabda : Barangsiapa yang membaca salawat kepadaku sekali salawat, maka Allah akan memberikan kerahmatan padanya sepuluh kali dengan sebanyak sekali salawat tadi. (Riwayat Muslim).

Dari Ibnu Mas'ud r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: Seutama-utama manusia bagiku pada hari kiamat ialah orang yang terbanyak bacaan salawat padaku, yakni lebih diutamakan oleh beliau s.a.w untuk dapat memperoleh syafaatnya dan dapat kedudukan yang terdekat dengannya. Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

Dari Aus bin Aus r.a.katanya, Rasulullah s.a.w bersabda : Sesungguhnya di antara hari-harimu yang paling utama sekali ialah hari Jumaat, maka perbanyakkanlah membaca salawat padaku pada hari itu, sebab sesengguhnya bacaan salawatmu itu ditunjukkan kepadaku. Para sahabat berkata : Ya Rasulullah, bagaimanakanh salawat kita semua itu dapat ditunjukkan kepada Tuan, sedangkan Tuan sudah hancur tubuhnya? Nabi s.a.w bersabda : Sesungguhnya Allah mengharamkan pada tanah untuk makan tubuh sekalian Nabi. Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad sahih.

Dari Abu Hurairah r.a. katanya : Rasulullh s.a.w bersabda: Terkena debulah hidung seseorang yakni amat hina sekali seseorang yang diwaktu nama saya disebutkan di sisinya, tetapi ia tidak suka membaca salawat padaku. Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan

Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda : Tiada seorangpun yang memberi salam/selawat padaku, melainkan Allah mengembalikan rohku, sehingga saya dapat menjawab salam orang itu. Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawuyd dengan isnad sahih.

Dari Fadhalah bin Ubaid r.a. katanya: Rasulullah s.a.w. pernah mendengar seseorang yang berdoa dalam salatnya, tetapi ia tidak mengucapkan puji-pujian kepada Allah Ta'ala dan tidak pula membaca salawat pada Nabi s.a.w, lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: Tergesa-gesa sekali orang ini,
kemudian orang itu dipanggilnya. Nabi s.a.w lalu bersabda pada orang itu atau pada orang lain juga: Jikalau seseorang di antara engkau semua hendak berdoa, maka hendaklah memulai dengan mengucapkan puji-pujian kepada Tuhannya yang Maha Suci serta puja-pujaan padaNya, selanjutnya membaca salawat kepada Nabi s.a.w. seterusnya bolehlah ia berdoa dengan apa yang dikehendakinya. Diriwayatka oleh Imam-Imam Abu Dawud dan Termidzi mengatakan bahwa ia adalah Hadis sahih.

Dari Abu Mas'ud al-Badri r.a, katanya: Rasulullah s.a.w datang kepada kita dan kita semua sedang dalam majlisnya Sa'ad bin Ubadah, lalu Basyir bin Sa'ad berkata kepada beliau s.a.w : Allah menyuruh kita supaya kita membaca salawat kepada Tuan, Ya Rasulullah, maka bagaimanakah cara kita membaca salawat kepada Tuan itu ? Rasulullah s.a.w. lalu diam, sehingga kita semua mengharapkan, alangkah baiknya kalau tadi Basyir tidak bertanyakan kepada beliau tentang hal itu. Kemudian Rasulullah s.a.w bersabda: Ucapkanlah: Allahumma shalli'ala Muhammad wa'ala ali Muhamnmad. Kama shallaita'ala Ibrahim. Wa bari'ala Muhammad wa'ala ali Muhammad.
Kama barakta'ala ali Ibrahim. Innaka hamidum majid. Artinya: Ya Allah, berikanlah tambahan kerahmatan pada Muhammad dan pada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan tambahan kerahmatan pada keluarga Ibrahim. Ya Allah, berikanlah tambahan keberkahan pada Muhammad dan pada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah menambahkan keberkahan pada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Terpuji lagi Termulia. (Muttafaq 'alaih).

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda : "Perbanyakkanlah membaca selawat padaku pada malam dan hari Jumaat, maka siapa yang membaca selawat untukku satu kali, Allah akan memberinya rahmat 10 kali (Allah akan berselawat kepadanya 10 kali)". (Riwayat AlBaihaqi)

Jumat, 09 November 2007

ZIYAARATUL QOBR

Berikut adalah terjemahan kasar drp kitab Mandzorul Maut Wa Maa Ba'dal Maut, Halaman 54 & 55 & 56, oleh Khawajah Muhammad Islam (dialibahasakan ke Bahasa 'Arab oleh Haafiz Muhammad 'Abdullaah), Cetakan Matba'ah Al-Maktabah Al-'Ilmiyyah, 15 Syaari' Madrasah Al-Banaat, Lahore, Pakistan.

Fasal Yang Ketujuh Tentang Ziarah Qubur (Ziyaaratul Qobri) :

Adalah mustahab (sangat disukai) untuk menziarahi qubur pada setiap minggu. Dan yang paling afdhal ialah pada hari Jumu'at dan hari Sabtu dan hari Isnin dan hari Khamis dan malam Nisfu Sya'baan dan sepuluh hari pertama drp bulan Zulhijjah dan kedua hari 'Iid (kedua hari raya) dan sepuluh hari pertama drp bulan Muharram.

Dan drp Muhammad bin Waasi', telah berkata ia : Telah sampai kepadaku bahawa orang-orang mati (al-mautaa) adalah mengetahui akan zuwwaar (penziarah2/pengunjung2/visitors) mereka pada hari Jumu'at dan sehari sebelumnya serta sehari selepasnya. Dan adalah Nabi saw pergi menziarahi Syuhadaa` Uhud pada setiap tahun. Dan ini juga menjadi 'amalan Sayyidina Abu Bakar r.a. selepas wafatnya Baginda saw. Dan ini juga kemudiannya menjadi 'amalan Sayyidina 'Umar r.a. Sesungguhnya mereka berdua ini adalah menziarahi Maqoobir Syuhadaa` Uhud. Dan telah berkata Al-'Allaamah Ibnu Hajar Al-'Asqolaani rah.a. bahawa adalah menjadi suatu kesalahan untuk menghalang (mengabaikan) penziarah-penziarah qubur daripada menziarahi qubur-qubur atas alasan tidak sunyi (atau tidak terlepas) drp adanya golongan-golongan mubtadi'iin (pembid'ah2) dan golongan-golongan faajiriin (pencabul2/pema'siat2) dan atas alasan
tidak sunyi (atau tidak terlepas) drp adanya ikhtilaaturrijaali binnisaai (percampurbauran antara lelaki2 dan wanita2) di sekitar perkuburan (maqoobir), bahkan adalah dituntut supaya 'amalan menziarahi qubur-qubur itu sentiasa hidup berterusan. Dan penyelesaian yang paling baik adalah semua pihak hendaklah berpadu mencurahkan tenaga dan kekuatan dalam usha memperbaiki keadaan dan dalam usha mencegah muhdathaat (perkara-perkara yang baru). Dan adalah diharuskan bagi seorang perempuan tua/ber'umur ('ajuuz) untuk menziarahi qubur seandainya dia mahu mengingat akan mati dan mahu memperolehi/memindahkan/menghantarkan/meyampaikan pahala (iissooluththawaab).Dan adalah mustahab (disukai dan dianjurkan) bagi sesiapa yang ingin menziarahi qubur supaya bersolat naafil/sunat dua raka'at dahulu, hendaklah ia membaca dalam setiap raka'at akan Aayat Al-Kursiyy sekali dan Suurah Al-Ikhlaas tiga kali selepas bacaan Al-Faatihah dan berniat menyampaikan/menyambungkan pahala 'amalnya ini kepada simati (al-mayyit), juga supaya quburnya diberi nur. Kemudian setelah itu hendaklah ia pergi atau berangkat ke qubur dan menanggalkan kedua kasutnya dan hendaklah ia berdiri di hadapan qubur berkenaan dalam hal keadaan membelakangi qiblat dan hendaklah ia berkata ......(antara lain/mithalnya)....: " 'Alaikumussalaam yaa ahlalqobr ! Yaghfirullaahu lanaa wa lakum, Antum lanaa salafun wa nahnu bil ithr ! " [mafhumnya: Keatas kalian kesejateraan wahai ahli qubur ! Semoga Allah mengampuni buat kami dan buat kalian, Kalian adalah leluhur/predecessors kami (yakni kalian telah mendahului kami) dan kami pula adalah pengganti/successors kalian]. Jika mungkin hendaklah ia membaca Suurah Al-Faatihah dan Suurah Al-Baqorah drp permulaan hinggalah ke "Al-Muflihuun", dan Aayat Al-Kursiyy dan drp "Aamanarrasuul" hinggalah ke akhir Suurah Al-Baqorah itu, dan Suurah Yaasin dan Suurah Al-Mulk dan Suurah At-Takaathur dan Suurah Al-Ikhlaas sebelas kali atau tujuh kali dan selepas itu hendak ia berkata/berdoa :"Yaa Allah ausil thawaaba haazihil qiraa ah ilaa fulaan !"
[Maqsudnya : Wahai Allah sampaikan pahala bacaan ini kepada sifulaan !]. Telah berkata Abu Bakar bin Sa'iid bahawa adalah mustahab membaca Suurah Al-Ikhlaas sepuluh kali atau tujuh kali maka insyaAllaah simati itu akan mendapat keampunan jika sekiranya adalah ia seorang yang berdosa dan jika tidak sipembaca itu akan mendapat keampunan. Dan telah menerangkan para 'ulaama` bahawa setiap yang bersolat naafil/sunat tadi hendaklah juga berniat menyampaikan pahalanya kepada semua mu'miniin dan mu'minaat, dengan itu setiap mu'min dan mu'minah akan memperolehi pahalanya juga dan ini tidak akan mengurangi sedikit pun pahala orang yang bersolat tadi. Dan inilah dia Mazhab AhlisSunnah Wal Jamaa'ah. Adalah Sayyidina 'Umar r.a. telah mengerjakan 'Umrah bagi pihak Rasuulullaah saw (for the sake Rasuulullaah saw) pada setiap tahun. Dan adalah Ibnu Al-Muwaffiq (Al-Mufiq atau Al-Muwaffaq) rah.a. telah mengerjakan Haji bagi pihak Rasuulullaah saw (for the sake of Rasuulullaah saw) sebanyak 70 kali. Dan Ibnu As-Siraaj rah.a. telah mengkhatamkan pembacaan Al-Quraan Al-Kariim lebih drp 10,000 kali bagi pihak Rasuulullaah saw (for the sake of Rasuulullaah saw).

Al-Faaidah : Adalah mustahab berta'ziah kepada Soohibul Musiibah (orang yang menerimah musiibah) itu drp sa'at kematian hinggalah sampai tiga hari. Dan di'amkan ta'ziah itu kepada seluruh aqooribul mayyit (kaum qerabat simati) sama ada yang kecil, muda, besar dan tua. Dan adalah mustahab bagi yang berta'ziah untuk berkata/mengucap/berdoa : (mithalnya) " Ghafarallaahu ta'aala limayyitika wa tajaawaza 'anhu wa taghammadahu birahmatihi wa razaqoka as-sobra 'alaa musiibatihi !" [maqsudnya: Semoga Allah swt mengampuni buat simatimu itu dan sempga Allah swt mema'afkannya dan semoga Allah swt melimpahinya (menutupinya) dengan rahmatNya dan semoga Allah swt memberikan kpdmu kesabaran dalam menghadapi musiibahnya!]. Dan adalah tidak mengapa bagi Ahlil Musiibah (mereka yg menerima musiibah itu) untuk duduk tinggal di rumah atau di masjid buat selama tiga hari dan dalam hal keadaan orang ramai mengunjungi mereka dan berta'ziah kepada mereka. Dan adalah tidak dibolehkan untuk meraung dengan suara yang tinggi. Dan tangisan beserta riqqotul qolb (kehalusan dan kelembutan hati) adalah tidak mengapa. Juga tidak dianjurkan bagi lelaki untuk menghitamkan pakaian dan juga untuk mengoyak-ngoyakannya. Dan ada pun menghitam-hitamkan pipi dan tangan (taswiidul khuduudi wal aidii) dan merobek-robekkan poket (syaqqul juyuub) dan mencakar-cakarkan/menggaruk-garukkan muka (khadsyul wujuuh) dan mengembang-ngembangkan/menyerak-nyerakkan rambut (nasyrusysyu'uur) dan menabur-naburkan tanah (nathrutturaab) di atas kepala dan memukul-mukul akan paha dan dada (adhdhorbu 'alal fakhzi wassodr) adalah semuanya ini termasuk resam-resam jahiliyyah (rusuumul jaahiliyyah). Dan adalah tidak mengapa (malah dianjurkan) untuk menyediakan/menghantarkan makanan kepada ahli simati itu dan adalah tidak semubahnya bagi pihak simati itu menyediakan makanan dan keperluan bagi tetamu-tetamu yg datang buat selama tiga hari. Dan yang paling baik bagi pihak simati itu (sekiranya mereka mahu) ialah membahagi-bahagikan makanan kepada masaakiin (orang-orang miskin) dan muhtaajiin (orang-orang yang berhajat) dan berniat menyampaikan pahala kepada simati itu.

Demikianlah terjemahan kasar drp kitab berkenaan. Semoga sama-sama kita mengambil i'tibaar. Sekian. Wassalaamu'alaikum wrb., Al-faqiiru ilallaah.

p/s: Berdasarkan keterangan berkenaan, [1] Sayyidina 'Umar r.a. setiap tahun telah mengerjakan 'Umrah bagi pihak Rasuulullaah saw. Kita pula bagaimana ? Atau bagaimana ? [2] Ibnu Al-Muwaffiq rah.a. pula telah mengerjakan Haji bagi pihak Rasuulullaah saw sebanyak 70 kali. Kita pula bagaimana ? Atau bagaimana ? [3] Ibnu As-Siraaj rah.a. telah mengkhatam pembacaan Al-Quraan Al-Kariim lebih drp 10,000 kali bagi pihak Rasuulullaah saw. Kita pula bagaimana ? Atau bagaimana ? Untuk itu marilah kita merenung dan memikirkannya.....!