Al-'Ashr

<a href="http://www.clock4blog.eu">clock for blog</a>
Free clock for your blog

Sabtu, 24 Desember 2011

Pernikahan sebagai Landasan Menuju Keluarga Sakinah

Keluarga sebagai basis inti masyarakat, adalah wahana yang paling tepat untuk memberdayakan manusia dan ‘mencekal’ berbagai bentuk frustasi sosial, ini adalah hal yang aksiomatis dan universal. Masyarakat Eropa misalnya, saat ini para sosiolog mereka merasa gelisah karena prediksi kepunahan bangsa. Betapa tidak, tatanan, sakralitas dan antusiasme terhadap keluarga sudah tipis sekali di kalangan muda mereka. Ini tentu saja berdampak buruk terhadap angka pertumbuhan penduduk. Hingga iming-iming berbagai hadiah dan fasilitas dari pemerintah bagi ibu yang melahirkan dan keluarganya, tidak membuat mereka bergeming. Berbagai penyakit sosial pun muncul. Mulai dari angka bunuh diri yang tinggi hingga anomali kemanusiaan yang lain.
Ini adalah saat yang tepat untuk memberi perhatian yang lebih besar terhadap keluarga, khususnya dalam skala nasional. Berbagai pelajaran di atas menyuarakan hal ini. Dan ini adalah tugas kita bersama.
I. Arti Pernikahan dalam Islam
Dalam menganjurkan ummatnya untuk melakukan pernikahan, Islam tidak semata-mata beranggapan bahwa pernikahan merupakan sarana yang sah dalam pembentukan keluarga, bahwa pernikahan bukanlah semata sarana terhormat untuk mendapatkan anak yang sholeh, bukan semata cara untuk mengekang penglihatan, memelihara fajar atau hendak menyalurkan biologis, atau semata menyalurkan naluri saja. Sekali lagi bukan alasan tersebut di atas. Akan tetapi lebih dari itu Islam memandang bahwa pernikahan sebagai salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemayarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi ummat Islam.
II. Fungsi Keluarga dalam Islam
Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat, perlu diberdayakan fungsinya agar dapat mensejahterakan ummat secara keseluruhan. Dalam Islam fungsi keluarga meliputi :
A. Penerus Misi Ummat Islam
Dalam sejarah dapat kita lihat, bagaimana Islam sanggup berdiri tegap dan tegar dalam menghadapi berbagai ancaman dan bahaya, bahkan Islam dapat menyapu bersih kekuatan musryik dan sesat yang ada, terlebih kekuatan Romawi dan Persia yang pada waktu itu merupakan Negara adikuasa di dunia.
Menurut riwayat Abu Zar’ah Arrozi bahwa jumlah kaum muslimin ketika Rasulullah Saw wafat sebanyak 120.000 orang pria dan wanita [1]. Para sahabat sebanyak itu kemudian berguguran dalam berbagai peperangan, ada yang syahid dalam perang jamal atau perang Shiffin. Namun sebagian besar dari para syuhada itu telah meninggalkan keturunan yang berkah sehingga muncullah berpuluh “singa” yang semuanya serupa dengan sang ayah dalam hal kepahlawanan dan keimanan. Kaum muslimin yang jujur tersebut telah menyambut pengarahan Nabi-nya: “Nikah-lah kalian, sesungguhnya aku bangga dengan jumlah kalian dari ummat lainnya, dan janganlah kalian berfaham seperti rahib nashrani” [2].
Demikianlah, berlomba-lomba untuk mendapatkan keturunan yang bermutu merupakan faktor penting yang telah memelihara keberadaan ummat Islam yang sedikit. Pada waktu itu menjadi pendukung Islam dalam mempertahankan kehidupannya.
B. Perlindungan Terhadap Akhlaq
Islam memandang pembentukan keluarga sebagai sarana efektif memelihara pemuda dari kerusakan dan melidungi masyarakat dari kekacauan. Karena itulah bagi pemuda yang mampu dianjurkan untuk menyambut seruan Rosul.
“Wahai pemuda! Siapa di antara kalian berkemampuan maka menikahlah. Karena nikah lebih melindungi mata dan farji, dan barang siapa yang tidak mampu maka hendaklah shoum, karena shoum itu baginya adalah penenang” ( HR.AL-Khosah dari Abdullah bin Mas’ud ).
C. Wahana Pembentukan Generasi Islam
Pembentukan generasi yang handal, utamanya dilakukan oleh keluarga, karena keluargalah sekolah kepribadian pertama dan utama bagi seorang anak. Penyair kondang Hafidz Ibrohim mengatakan: “Ibu adalah sekolah bagi anak-anaknya. Bila engaku mendidiknya berarti engkau telah menyiapkan bangsa yang baik perangainya“. Ibu sangat berperan dalam pendidikan keluarga, sementara ayah mempunyai tugas yang penting yaitu menyediakan sarana bagi berlangsungnya pendidikan tersebut. Keluarga-lah yang menerapkan sunnah Rosul sejak bangun tidur, sampai akan tidur lagi, sehingga bimbingan keluarga dalam melahirkan generasi Islam yang berkualitas sangat dominan.
D. Memelihara Status Sosial dan Ekonomi
Dalam pembentukan keluarga, Islam mempunyai tujuan untuk mewujudkan ikatan dan persatuan. Dengan adanya ikatan keturunan maka diharapkan akan mempererat tali persaudaraan anggota masyarakat dan antar bangsa.
Islam memperbolehkan pernikahan antar bangsa Arab dan Ajam (non Arab), antara kulit hitam dan kulit putih, antara orang Timur dan orang Barat. Berdasarkan fakta ini menunjukkan bahwa Islam sudah mendahului semua “sistem Demokrasi ” dalam mewujudkan persatuan Ummat manusia. Bernard Shaw mengatakan:
“Islam adalah agama kebebasan bukan agama perbudakan, ia telah merintis dan mengupayakan terbentuknya persaudaraan Islam sejak Seribu Tiga Ratus Lima Puluh tahun yang lalu, suatu prinsip yang tidak pernah dikenal oleh bangsa Romawi, tidak pernah ditemukan oleh bangsa Eropa dan bahkan Amerika Modern sekalipun “.
Selanjutnya mengatakan:
“Apabila Anda bertanya kepada seorang Arab atau India atau Persia atau Afganistan, siapa anda? Mereka akan menjawab “Saya Muslim (orang Islam)”. Akan tetapi apabila anda bertanya pada orang Barat maka ia akan menjawab “Saya orang Inggris, saya orang Itali, saya orang Perancis”. Orang Barat telah melepaskan ikatan agama, dan mereka berpegang teguh pada ikatan darah dan tanah air” [3].
Untuk menjamin hubungan persudaraan yang akrab antara anak-anak satu agama, maka Islam menganjurkan dilangsungkannya pernikahan dengan orang-orang asing (jauh), karena dengan tujuan ini akan terwujud apa-apa yang tidak pernah direalisasikan melalui pernikahan keluarga dekat.
Selain fungsi sosial, fungsi ekonomi dalam berkeluarga juga akan nampak. Mari kita simak hadist Rosul “Nikahilah wanita, karena ia akan mendatangkan Maal” (HR. Abu Dawud, dari Urwah RA). Maksud dari hadist tersebut adalah bahwa perkawinan merupakan sarana untuk mendapatkan keberkahan, karena apabila kita bandingkan antara kehidupan bujangan dengan yang telah berkeluarga, maka akan kita dapatkan bahwa yang telah berkeluarga lebih hemat dan ekonomis dibandingkan dengan yang bujangan. Selain itu orang yang telah berkeluarga lebih giat dalam mencari nafkah karena perasaan bertanggung jawab pada keluarga daripada para bujangan.
E. Menjaga Kesehatan
Ditinjau dari segi kesehatan, pernikahan berguna untuk memelihara para pemuda dari kebiasaan onani yang banyak menguras tenaga, dan juga dapat mencegah timbulnya penyakit kelamin.
F. Memantapkan Spiritual (Ruhiyyah)
Pernikahan berfungsi sebagai pelengkap, karena ia setengah dari keimanan dan pelapang jalan menuju sabilillah, hati menjadi bersih dari berbagai kecendrungan dan jiwa menjadi terlindung dari berbagai waswas.
III. Menegakkan Keluarga Sakinah sebagai Salah SAtu Fungsi Keluarga
Selain fungsi keluarga tersebut di atas, fungsi kesakinahan merupakan kebutuhan setiap manusia. Karena keluarga sakinah yang berarti: keluarga yang terbentuk dari pasangan suami istri yang diawali dengan memilih pasangan yang baik, kemudian menerapkan nilai-nilai Islam dalam melakukan hak dan kewajiban rumah tangga serta mendidik anak dalam suasana mawaddah warahmah. Sebagaimana dianjurkan Allah dalam surat Ar-Rum ayat 21 yang artinya:
“Dan diantara tanda-tanda kebesaran-Nya ia ciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenang kepadanya dan dijadikannya diantaramu rasa cinta dan kasih saying. Sesungguhnya dalam hal ini terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang memikirkan”. (QS. Ar-Ruum:21)
Faktor-Faktor Pembentukan Keluarga Sakinah
A. Faktor Utama:
Untuk membentuk keluarga sakinah, dimulai dari pranikah, pernikahan, dan berkeluarga. Dalam berkeluarga ada beberapa hal yang perlu difahami, antara lain :
1. Memahami hak suami terhadap istri dan kewajiban istri terhadap suami
a. Menjadikannya sebagai Qowwam (yang bertanggung jawab)
Suami merupakan pemimpin yang Allah pilihkan
Suami wajib ditaati dan dipatuhi dalam setiap keadaan kecuali yang bertentangan dengan syariat Islam.
b. Menjaga kehormatan diri
Menjaga akhlak dalam pergaulan
Menjaga izzah suami dalam segala hal
Tidak memasukkan orang lain ke dalam rumah tanpa seizin suami
c. Berkhidmat kepada suami
Menyiapkan dan melayani kebutuhan lahir batin suami
Menyiapkan keberangkatan
Mengantarkan kepergian
Suara istri tidak melebihi suara suami
Istri menghargai dan berterima kasih terhadap perlakuan dan pemberian suami
2. Memahami hak istri terhadap suami dan kewajiban suami terhadap istri
a. Istri berhak mendapat mahar
b. Mendapat perhatian dan pemenuhan kebutuhan lahir batin
Mendapat nafkah: sandang, pangan, papan
Mendapat pengajaran Diinul Islam
Suami memberikan waktu untuk memberikan pelajaran
Memberi izin atau menyempatkan istrinya untuk belajar kepada seseorang atau lembaga dan mengikuti perkembangan istrinya
Suami memberi sarana untuk belajar
Suami mengajak istri untuk menghadiri majlis ta’lim, seminar atau ceramah agama
c. Mendapat perlakuan baik, lembut dan penuh kasih saying
Berbicara dan memperlakukan istri dengan penuh kelembutan lebih-lebih ketika haid, hamil dan paska lahir
Sekali-kali bercanda tanpa berlebihan
Mendapat kabar perkiraan waktu kepulangan
Memperhatikan adab kembali ke rumah
B. Faktor Penunjang
1. Realistis dalam kehidupan berkeluarga
Realistis dalam memilih pasangan
Realistis dalam menuntut mahar dan pelaksanaan walimahan
Realistis dan ridho dengan karakter pasangan
Realistis dalam pemenuhan hak dan kewajiban
2. Realistis dalam pendidikan anak
Penanganan Tarbiyatul Awlad (pendidikan anak) memerlukan satu kata antara ayah dan ibu, sehingga tidak menimbulkan kebingungan pada anak. Dalam memberikan ridho’ah (menyusui) dan hadhonah (pengasuhan) hendaklah diperhatikan muatan:
Tarbiyyah Ruhiyyah (pendidikan mental)
Tarbiyah Aqliyyah (pendidikan intelektual)
Tarbiyah Jasadiyyah (pendidikan Jasmani)
3. Mengenal kondisi nafsiyyah suami istri
4. Menjaga kebersihan dan kerapihan rumah
5. Membina hubungan baik dengan orang-orang terdekat
a. Keluarga besar suami / istri
b. Tetangga
c. Tamu
d. Kerabat dan teman dekat
6. Memiliki ketrampilan rumah tangga
7. Memiliki kesadaran kesehatan keluarga
C. Faktor Pemeliharaan
1. Meningkatkan kebersamaan dalam berbagai aktifitas
2. Menghidupkan suasana komunikatif dan dialogis
3. Menghidupkan hal-hal yang dapat merusak kemesraan keluarga baik dalam sikap, penampilan maupun prilaku
Demikianlah sekelumit tentang pernikahan dan pembentukan keluarga sakinah. Semoga Allah memberi kekuatan, kesabaran dan keberkahan kepada kita dalam membentuk keluarga sakinah yang mawaddah wa rahmah sehingga terealisir izzatul islam walmuslimin. Amin


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2008/08/903/pernikahan-sebagai-landasan-menuju-keluarga-sakinah/#ixzz1hQBAu8Iz

Jumat, 23 Desember 2011

Tips Membina Rumah Tangga yang Sakînah

Setiap insan yang hidup pasti menginginkan dan mendambakan suatu kehidupan yang bahagia, tentram, sejahtera, penuh dengan keamanan dan ketenangan atau bisa dikatakan kehidupan yang sakinah, karena memang sifat dasar manusia adalah senantiasa condong kepada hal-hal yang bisa menentramkan jiwa serta membahagiakan anggota badannya, sehingga berbagai cara dan usaha ditempuh untuk meraih kehidupan yang sakinah tersebut.

Pembaca yang budiman, sesungguhnya sebuah kehidupan yang sakinah, yang dibangun diatas rasa cinta dan kasih sayang, tentu sangat berarti dan bernilai dalam sebuah rumah tangga. Betapa tidak, bagi seorang pria atau seorang wanita yang akan membangun sebuah rumah tangga melalui tali pernikahan, pasti berharap dan bercita-cita bisa membentuk sebuah rumah tangga yang sakinah, ataupun bagi yang telah menjalani kehidupan berumah tangga senantiasa berupaya untuk meraih kehidupan yang sakinah tersebut.

HAKEKAT KEHIDUPAN RUMAH TANGGA YANG SAKINAH

Pembaca yang budiman, telah disebutkan tadi bahwasanya setiap pribadi, terkhusus mereka yang telah berumah tangga, pasti dan sangat berkeinginan untuk merasakan kehidupan yang sakinah, sehingga kita menyaksikan berbagai macam cara dan usaha serta berbagai jenis metode ditempuh, yang mana semuanya itu dibangun diatas presepsi yang berbeda dalam mencapai tujuan kehidupan yang sakinah tadi. Maka nampak di pandangan kita sebagian orang ada yang berusaha mencari dan menumpuk harta kekayaan sebanyak-banyaknya, karena mereka menganggap bahwa dengan harta itulah akan diraih kehidupan yang sakinah. Ada pula yang senantiasa berupaya untuk menyehatkan dan memperindah tubuhnya, karena memang di benak mereka kehidupan yang sakinah itu terletak pada kesehatan fisik dan keindahan bentuk tubuh. Disana ada juga yang berpandangan bahwa kehidupan yang sakinah bisa diperoleh semata-mata pada makanan yang lezat dan beraneka ragam, tempat tinggal yang luas dan megah, serta pasangan hidup yang rupawan, sehingga mereka berupaya dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan itu semua. Akan tetapi, pembaca yang budiman, perlu kita ketahui dan pahami terlebih dahulu apa sebenarnya hakekat kehidupan yang sakinah dalam sebuah kehidupan rumah tangga.

Sesungguhnya hakekat kehidupan yang sakinah adalah suatu kehidupan yang dilandasi mawaddah warohmah (cinta dan kasih sayang) dari Allah subhanahu wata’ala Pencipta alam semesta ini. Yakni sebuah kehidupan yang dirihdoi Allah, yang mana para pelakunya/orang yang menjalani kehidupan tersebut senantiasa berusaha dan mencari keridhoan Allah dan rasulNya, dengan cara melakukan setiap apa yang diperintahkan dan meninggalkan segala apa yang dilarang oleh Allah dan rasulNya.

Maka kesimpulannya, bahwa hakekat sebuah kehidupan rumah tangga yang sakinah adalah terletak pada realisasi/penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan berumah tangga yang bertujuan mencari ridho Allah subhanahu wata’ala. Karena memang hakekat ketenangan jiwa (sakinah) itu adalah ketenangan yang terbimbing dengan agama dan datang dari sisi Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firman Allah (artinya):

“Dia-lah yang telah menurunkan sakinah (ketenangan) ke dalam hati orang-orang yang beriman agar keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (Al Fath: 4)

BIMBINGAN RASULULLAH DALAM KEHiDUPAN BERUMAH TANGGA

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selaku uswatun hasanah (suri tauladan yang baik) yang patut dicontoh telah membimbing umatnya dalam hidup berumah tangga agar tercapai sebuah kehidupan rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah. Bimbingan tersebut baik secara lisan melalui sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam maupun secara amaliah, yakni dengan perbuatan/contoh yang beliau shalallahu ‘alaihi wasallam lakukan. Diantaranya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa menghasung seorang suami dan isteri untuk saling ta’awun (tolong menolong, bahu membahu, bantu membantu) dan bekerja sama dalam bentuk saling menasehati dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan ketakwaan, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam:

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ

“Nasehatilah isteri-isteri kalian dengan cara yang baik, karena sesungguhnya para wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya (paling atas), maka jika kalian (para suami) keras dalam meluruskannya (membimbingnya), pasti kalian akan mematahkannya. Dan jika kalian membiarkannya (yakni tidak membimbingnya), maka tetap akan bengkok. Nasehatilah isteri-isteri (para wanita) dengan cara yang baik.” (Muttafaqun ‘alaihi. Hadits shohih, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Dalam hadits tersebut, kita melihat bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membimbing para suami untuk senantiasa mendidik dan menasehati isteri-isteri mereka dengan cara yang baik, lembut dan terus-menerus atau berkesinambungan dalam menasehatinya. Hal ini ditunjukkan dengan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam:

وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ

yakni “jika kalian para suami tidak menasehati mereka (para isteri), maka mereka tetap dalam keadaan bengkok,” artinya tetap dalam keadaan salah dan keliru. Karena memang wanita itu lemah dan kurang akal dan agamanya, serta mempunyai sifat kebengkokan karena diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok sebagaimana disebutkan dalam hadits tadi, sehingga senantiasa butuh terhadap nasehat.

Akan tetapi tidak menutup kemungkinan juga bahkan ini dianjurkan bagi seorang isteri untuk memberikan nasehat kepada suaminya dengan cara yang baik pula, karena nasehat sangat dibutuhkan bagi siapa saja. Dan bagi siapa saja yang mampu hendaklah dilakukan. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al ‘Ashr: 3)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

“Agama itu nasehat.” (HR. Muslim no. 55)

Maka sebuah rumah tangga akan tetap kokoh dan akan meraih suatu kehidupan yang sakinah, insya Allah, dengan adanya sikap saling menasehati dalam kebaikan dan ketakwaan.

DIANTARA TIPS/CARA MERAIH KEHIDUPAN YANG SAKINAH

1. Berdzikir

Ketahuilah, dengan berdzikir dan memperbanyak dzikir kepada Allah, maka seseorang akan memperoleh ketenangan dalam hidup (sakinah). Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Ketahuilah, dengan berdzikir kepada Allah, (maka) hati (jiwa) akan (menjadi) tenang.” (Ar Ra’d: 28)

Baik dzikir dengan makna khusus, yaitu dengan melafazhkan dzikir-dzikir tertentu yang telah disyariatkan, misal:

أَسْتَغْفِرُالله ,

dan lain-lain, maupun dzikir dengan makna umum, yaitu mengingat, sehingga mencakup/meliputi segala jenis ibadah atau kekuatan yang dilakukan seorang hamba dalam rangka mengingat Allah subhanahu wata’ala, seperti sholat, shoum (puasa), shodaqoh, dan lain-lain.

2. Menuntut ilmu agama

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ

“Tidaklah berkumpul suatu kaum/kelompok disalah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid), (yang mana) mereka membaca Al Qur`an dan mengkajinya diantara mereka, kecuali akan turun (dari sisi Allah subhanahu wata’ala) kepada mereka as sakinah (ketenangan).” (Muttafaqun ‘alaihi. Hadits shohih, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Dalam hadits diatas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan kabar gembira bagi mereka yang mempelajari Al Qur`an (ilmu agama), baik dengan mempelajari cara membaca maupun dengan membaca sekaligus mengaji makna serta tafsirnya, yaitu bahwasanya Allah akan menurunkan as sakinah (ketenangan jiwa) pada mereka.

Senin, 19 Desember 2011

PESAN UNTUK WANITA

Allah berfirman yang bermaksud : Dan katakan kepada perempuan-perempuan yang beriman, supaya mereka menahan sebahagian penglihatan, memelihara kehormatannya dan tiada memperlihatkan perhiasannya (tubuhnya) selain dari yang nyata (mesti terbuka terdiri dari bahagian badannya yang sangat perlu dalam pekerjaan sehari-hari, seperti mukanya dan tapak tangan). Dan hendaklah mereka sampaikan kudungnya ke leher (tutup kepalanya sampai ke leher dan dadanya), dan tiada memperlihatkan perhiasannya (tubuhnya), kecuali kepada suaminya, bapanya, bapa suaminya, anak-anaknya, anak-anak suaminya, saudara-saudaranya, anak-anak saudara lelaki, anak-anak saudara perempuannya, sesama perempuan Islam, hamba sahaya kepunyaannya, laki-laki yang menjalankan kewajubannya tetapi tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan - umpanya pelayan-pelayan lelaki yang sudah tua dan tiada lagi mempunyai keinginan kepada perempuan)dan kanak-kanak yang belum mempunyai pengertian kepada aurat perempuan. Dan janganlah mereka pukulkan kakinya, supaya diketahui prang perhiasannya yang tersembunyi (misalannya melangkah dengan cara yang menyebabkan betisnya terbuka atau perhiasan seperti gelang/rantai kakinya nampak). Dan taubatlah kamu semuanya kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung. (surah An-Nur ayat 31)

Allah berfirman yang bermaksud : Belum sampaikah lagi masanya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyuk (taat) hati mereka mematuhi peringatan dan pengajaran (suruhan dan larangan) Allah serta (taat) mematuhi kebenaran (Al-Quran) yang diturunkan (kepada mereka)? Dan janganlah pula mereka menjadi seperti orang-orang yang telah diberi kitab sebelum mereka (Yahudi dan Nasrani), setelah orang-orang itu melalui masa yang lanjut (jauh dari zman nabi mereka) maka hati mereka menjadi keras (dari mengikuti perintah/ajaran nabi mereka) dan banyak di antaranya orang-orang fasik. (surah Al-Hadid ayat 16)

Bila ayat menutup aurat turun sahaja semua wanita ketika itu tidak kira dari golongan Ansar mahupun Muhajirin dengan segera menutup aurat masing-masing. Yang ada di pasar, yang ada di rumah, yang sedang dalam perjalanan capai apa sahaja untuk menutup aurat masing-masing dengan SEGERA dan bukannya NANTI DULU. Yang tidak mendapat apa-apa mereka segera memalingkan muka menghadap dinding supaya tiada lelaki terpandang wajah mereka. Itulah kekuatan iman yang ada pada wanita-wanita ketika itu. Tetapi kini segala-galanya telah berubah makin jauh kita dari zaman Rasulullah makin kita jauh dari amalan agama.

Dalam ayat yang sama juga Allah menegur kita supaya tidak menjadi seperti ahli kitab sebelum kita (Yahudi dan Nasrani) di mana semakin mereka jauh dari zaman nabi mereka maka semakin kurang mengamalkan agama. Itulah keadaan kita ketika ini. Saudari-saudari seagama dengan kita bukan tidak tahu kewajiban menutup aurat, tetapi oleh kerana kelemahan iman serta sikap acuh tak acuh membuatkan mereka lalai. Perkataan yang biasa kita dengar dari saudari-saudari kita ialah "belum sampai seruan". Seruan apa yang ditunggunya atau seruan dari siapa yang sedang mereka tunggu? Bukankah Allah telah seru untuk menutup aurat sejak 14 abad dahulu lagi. Tetapi kenapa masih tak tutup-tutup lagi?

Lihat lagi ayat di atas Allah berfirma "Katakan kepada orang-orang perempuan yang beriman" Allah dengan khusus gunakan perkataan "beriman" dan bukannya "wahai manusia" kerana segala perintah hanya boleh didukung oleh orang-orang yang beriman sahaja.

Dalam ayat kedua pun sama yang ditujukan ayat-ayat ini adalah kepada orang-orang yang beriman. Kita kata kami beriman dengan Allah, Rasul-rasulNya dan, Kitab-kitabNya tetapi apa yang kita ucapkan dan buat adalah sungguh bertentangan. Allah telah menggariskan peraturan dan rasul telah mengajarkannya dan peraturan itu telah termaktub di dalam kalamNya. Tetapi kenapa masih leka? Kita bimbang kalau-kalau kita dibungkus dengan kain putih sebelum kita sempat menutup aurat.

Maka wahai saudari-saudari seagamaku (YANG BERIMAN), sebelum terlewat rebutlah peluang yang ada jangan tunggu esok amalkan sekarang juga. Bimbang "esok tiada bagi mu". Gembirakanlah Allah dan rasulNya dengan mengikut perintah mereka supaya dikala kamu dirundung malang Allah dan rasulnya dapat menggembirakan kamu. BIAR KAMU TIDAK CANTIK DI MATA PENDUDUK BUMI TETAPI NAMAMU MENJADI PERBUALAN PENDUDUK LANGIT.

Kamis, 15 Desember 2011

Hidup Sesudah Mati

Setiap manusia yang hidup di dunia pasti akan mati . Ini adalah realitas yang tak perlu dipertanyakan lagi. Tapi banyak yang tak diketahui orang, ada apa setelah mati? Adakah kehidupan setelah mati? Apakah sama kehidupan setelah mati dengan kehidupan yang dijalani manusia di dunia? Ada yang menyangka bahwa manusia akan mengalami reinkarnasi, yakni hidup kembai ke dunia, menitis pada orang atau hewan tertentu sesuai dengan amalan dalam kehidupam mereka sebelumnya di dunia. Ada juga yang berpendapat bahwa kehidupan manusia tidak lain hanya di dunia saja, tak ada kehidupan lagi setelah mati. Jelas perkara-perkara tersebut tak bisa dijangkau oleh akal pikiran manusia dan alam semesta. Harus ada informasi dari Allah Swt. yang menciptakan manusia dan alam semesta. Oleh karena itu, secara tegas Allah Swt menolak pendapat para filosof faham dahriyah yang hanya meyakini kehidupan di dunia ini saja, sebagaimana firmanNya:

“Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa’. Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”(QS. Al Jatsiyah 24).

Allah Swt. menegaskan bahwa kehidupan itu tidak hanya di dunia saja, melailnkan ada kehidupan akhirat yang mau tidak mau akan dilalui manusia. Sebab, semua manusia adalah mahluk Allah, berasal dari Dia dan akan dikembalikan kepadaNya. Dia berfirman:

“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkanNya kembali, kemudian kepadaNyalah kamu dikembaikan,”(QS. Al Baqarah 28).

Bahkan Allah Swt. menyatakan bahwa akhirat adalah kehidupan yang hakiki sebagaimana firmanNya:

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenanya kehidupan kalau mereka mengetahui.”(Qs. Al Ankabut 64)

Oleh karena itulah , Allah Swt. menyuruh manusia agar mengejar akhirat dengan sekuat tenaga sebagai cita-cita hidup yang hakiki sekalipun tidak melupakan bagiannya dalam kehidupan di dunia yang harus ia lalui dan nikmati. Allah Swt. berfirman:

“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”(QS. Al Qashash 77).

Sudah jelaslah kini bahwa rumusan hidup manusia adalah akan kembali hidup setelah dia mati. Bukan hidup sembarang hidup, tapi hidup yang hakiki yang kekal abadi. Namun untuk itu manusia diminta berjuang di dunia buat mencari kebahagiaan di sana kelak, agar tidak terjerumus dalam kesengsaraan abadi. Bukan berarti orang yang mengarahkan cita-citanya kepada puncak kebahagiaan di akhirat melupakan bagiannya di dunia. Tidak, justru dia akan menikmatinya dengan penuh syukur kepada Allah, serta penuh kesadaran bahwa hidupnya tidak hanya di dunia saja. Oleh karena itu, ia akan selalu menebar kebaikan di muka bumi, Disamping itu -- sebagai konsekuensi logisnya -- dia tidak akan membuat kerusakan di muka bumi.
Untuk lebih mengartikulasikan makna hidup kita di dunia ini hendaknya bayangan kehidupan akhirat yang bakal kita lalui selalu terekam dalam benak kita. Untuk itu, tidak ada jalan lain kecuali kita selalu memberilkan perhatian yang cukup dan menambah wawasan tentang hidup setelah mati melalui informasi ilahi yang ada dalam nash-nash al Qur’an dan sunah Rasulullah Saw. Dengan begitu kita akan dapat mengambil keputusan dengan tepat tentang apa yang mesti kita perbuat dalam hidup di dunia ini. Pernah diriwayatkan bahwa salah seorang sahabat Rasulullah Saw. bertanya kepada beliau dalam suatu medan pertempuran:”Wahai Rasulullah di mana letaknya surga?” Beliau Saw. menjawab,”Itu di depan itu dalam kecamuk perang jihad”. Maka pemuda itu berkata:”Kalau aku sampai menghabiskan kurma yang ada di tanganku ini, sungguh lama rasanya!” Lalu pemuda itu segera membuang kurma yang ada dalam genggaman tangannya dan bergegas memasuki kecamuk peperangan dan gugur sebagai syuhada.

Bangkitnya Manusia dari Kubur
Siapapun manusia yang mati, di manapun kuburnya, bagaimanapun cara penguburannya, pasti akan dibangkitkan dari kuburnya. Percaya atau tidak, manusia pasti akan dihidupkan kembali untuk mempertanggungjawabkan segala yang pernah diperbuatnya di dalam kehidupan dunia ini. Allah Swt. berfirman:

“Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan dari kuburmu di hari kiamat.”(QS. Al Mukminun 15-16).

Dan orang-orang kafir yang tak mempercayainya (al Mukminun 37) akan benar-benar kaget dibuatnya, sebagaimana firman Allah ta’ala:

“Dan ditiupkan sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka. Mereka berkata: ‘Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?’ Inilah yang dijanjikan Dzat yang Maha Pemurah dan benarlah para rasulNya”(QS. Yasin 51-52).

Maka pastilah orang-orang kafir itu dihinakan oleh Allah Swt. sebagaimana firmanNya:

“..Dan bagi orang-orang kafir ada siksa yang menghinakan. Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.”(QS. al Mujaadilah 6).

Orang-orang yang tidak percaya kepada hari kebangkitan dan pembalasan itu sebenarnya lantaran pikiran picik mereka yang tak mampu menjangkau ke Mahakuasa-an Allah Swt., sebagaimana firmanNya:

“... ia berkata:’Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh? Katakanlah:’Ia akan dihidupkan kembali oleh Allah yang menciptakannya pertama kali. Dan Maha Mengetahui tentang segala mahluk.”(QS. Yasin 78-79).

Sebaliknya, orang-orang mukmin dimuliakan Allah. Dan hari kebangkitan merupakan wujud nyata janji Allah bahwa orang-orang mukmin itu lebih mulia dari pada orang-orang kafir. Itu dapat dilihat dari cara bangkit dan digiringnya manusia ke padang mahsyar yang berada dalam kondisi yangberbeda-beda sesuai dengan iman dan amalnya waktu di dunia. Siapa yang mati dalam keadaan memperjuangkan agama Allah, kelak ia akan dibangkitkan dalam keadaan baik lagi menggembirakan. Namun siapa saja yang mati dalam keadaan berbuat jahat, ia akan dibangkitkan dalam keadaan buruk dan mengerikan. Imam Muslim meriwayatkan suatu hadits dari sahabat Jabir r.a. yang pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda:

“Kelak tiap hamba akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan amal perbuatan yang sedang ia lakukannya ketika ia mati”.

Bahz bin Hakim meriwayatkan hadits dari ayahnya dari kakeknya yang mengatakan pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda:

“Sesungguhnya kalian akan digiring dengan berjalan kaki, dengan berkendaraan, dan dengan diseret ke muka kalian.”(HSR. At Turmudzi).

Semua manusia digiring ke padang mahsyar untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya di dunia.

Pengadilan Yang Adil
Hari kiamat adalah hari pembalasan di mana satu-satunya Dzat yang menjadi penguasa di hari itu (maliki yaumiddin) hanyalah Allah Swt. Ibnu Umar r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“Kelak di hari kiamat Allah akan menggenggam bumi dan menggulung langit dengan tangan kanan (kekuasaan)-Nya, kemudian Dia berfirman: Aku adalah raja (penguasa) di mana raja-raja (para penguasa) bumi?”(HR. Asy Syaikhan).


Pada hari itu setiap manusia mendapatkan pengadilan yang seadil-adilnya. Seluruh catatan amal perbuatannya diberikan dan dia disuruh membacanya. Manusia ditanya tentang berbagai perkara yang pernah dia lakukan di dunia. Manusia tak bisa lagi menutup-nutupinya, berdusta atau berkelit dengan silat lidah. Sebab yang menjawab bukanlah mulutnya, melainkan tangannya. Sementara kakinya sebagai saksi. Lalu ditimbanglah amal perbuatan manusia untuk menentukan apakah dia akan lolos ke surga ataukah malah terperosok ke dalam neraka Jahannam? Allah Swt. berfirman:

“Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu”.(QS. Al Hijr 92-93).

Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

“Kedua telapak kaki seorang hamba di hari kiamat masih belum beranjak sebelulm ditanya kepadanya mengenai umurnya, untuk apa dihabiskan, mengenai tubuhnya untuk apa ia gunakan, mengenai ilmunya apa yang dia kerjakan dengan ilmunya itu, dan mengenai hartanya, dari mana dia peroleh dan untuk apa dia belanjakan?”(HR Tirmidzi).

Disamping ditanyai, manusia juga disuruh membaca catatan amal hidup mereka di dunia yang dibuat oleh para malaikat (al Infithar 9-14). Rasulullah Saw.bersabda:

“Catatan-catatan itu semuanya disimpan di bawah arsy. Bila kiamat sudah datang, maka Allah akan mengirim angin yang membuat buku itu beterbangan ke kanan dan ke kiri. Tulisan pertama dalam buku tersebut adalah: Bacalah catatanmu (kitabmu), cukup dirimua sendiri hari ini.”

Allah Swt. berfirman:

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali pada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak ‘Celakalah aku’. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).“ (QS. al Insyiqaq)



Allah ta’ala juga berfirman:

“Dan diletakkan kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: ‘Aduh celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya dan mereka dapati apa yang mereka telha kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorangpun jua.”(QS. al Kahfi 49).

Disamping itu, setiap manusia akan mendengarkan rekaman seluruh perkatannya yang ia buat di dunia maupun ungkapan selulruh perbuatannya. Allah berfirman:

“(Allah berfirman):’Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.”(QS. al Jatsiyah 29).

Selain catatan dan rekaman dari apa yang diperbuat manusia tersebut, manusia juga akan melihat rekaman gambar dari seluruh amalnya yang pernah dia kerjakan di dunia hinggga sekecil-kecilnya. Allah berfirman:

“Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebarat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”(QS al Zalzalah 6-8).

Setelah itu manusia digiring ke tempat di mana timbangan amal perbuatannya diletakkan. Allah berfirman:

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan) itu hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.”(QS. Al Anbiya 47).

“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.”(QS. al Qari’ah 6-9).
Masuk Surga ataukah Neraka?
Sebagaimana disebut dalam surat al Qari’ah tersebut bahwa manusia yang timbangan amal baik lebih berat, maka dia akan masuk surga. Sedangkan orang yang timbangan amal buruknya justru lebih berat, ia akan masuk neraka.
Surga adalah tempat yang penuh dengan berbagai kenikmatan yang abadi yang merupakan tempat kembali yang kekal bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Sedangkan neraka adalah tempat yang penuh dengan berbagai siksaan dan kesengsaraan yang merupakan tempat kembali orang-orang kafir. Adapun orang-orang muslim yang keburukannya lebih banyak dari kebaikannya, mereka akan disiksa dulu di dalam neraka sampai masa yang dikehendaki oleh Allah Swt. Setelah itu, orang yang masih punya sebiji sawi keimanan pun akan dientaskan dari neraka dan diangkat ke surga.
Banyak sekali surat-surat dan ayat-ayat yang menginformasikan tentang surga dan neraka. Tentang kehidupan di surga yang menurut hadits ada 100 tingkat, antara lain Allah ta’ala berfirman:

“Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir. Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk. Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.”(QS. al Waqi’ah 17-24).

Juga firmanNya:

“Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengarkan ucapan salam. Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri dan pohon pisang yang tersusun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah, dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya, dan kasur-kasur yang tebal dan empuk. Sesungguhnya Kami ciptakan mereka (bidadari-bidadari) lagi sebaya umurnya, (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan, (yaitu segolongan besar dari orang yang terdahulu, dan segolongan besar pula dari orang yang kemudian.”(QS. Al Waqi’ah 25-40).



Sedangkan mengenai keadaan kehidupan di neraka, antara lain Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(QS. An Nisaa 56).

“Disiramkan air yang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancurluluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit mereka.”(QS. al Hajj 19-20).

Siapapun yang gemar membaca ayat-ayat al Qur’an tentang surga pastilah terus menerus terbit rindunya ingin segera menemuinya. Dan siapa saja yang gemar membaca ayat-ayat Allah tentang neraka, pastilah ia akan gemetar dan takut kepada Allah serta sangat benci dijebloskan ke dalamnya. Hanya saja dalam sebuah hadits diungkapkan bahwa surga itu dikelilingi oleh perbuatan yang dibenci oleh manusia, sedangkan neraka itu dikelilingi oleh perbuatan-perbuatan yang sangat disenangi manusia. Oleh karena itu, hidup ini adalah ujian dari Allah buat menentukan siapa yang bakal masuk surga dan siapa yang bakal masuk neraka.

“Dialah yang menciptakan hidup dan mati agar Dia menguji siapa diantara kalian yang terbaik amalnya.”(QS. al Mulk 2).

Namun Allah tidak pernah menyuruh kita agar masuk neraka, tapi Dia justru menyuruh manusia segera menemuinya.

“Berlomba-lombalah kamu kepada mendapatkan ampunan dari Rabb kalian dan surga yang seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Itulah karunia Allah, diberikanNya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”(QS. al Hadid 21).

Namun demikian toh keputusan ada di tangan manusia itu sendiri, mau kemana ia; ke surgakah atau ke neraka. Allah Swt. tak akan memaksanya. Yang jelas, hidup sesudah mati dengan segala konsekuensi yang ada di dalamnya pasti akan dilalui. Maha benar Allah dengan segala firmanNya.

Rabu, 14 Desember 2011

Adab Suami memelihara Isteri

Dari kitab sirilsalikin

1. Apabila hendak menikah, laksanakanlah walimah.

2. Hendaklah memperbaiki sikap isteri dan menanggung kesakitan menghadapi kesakitan dengan kasih sayang atasnya dan sabar. Sabda Nabi saw, "Barangsiapa bersabar atas sikap buruk isterinya , ia dianugerahkan oleh Allah pahala seperti diberi pada nabi Ayub dan barangsiapa bersabar atas perangai buruk suaminya niscaya ia dianuagerahi oleh Allah pahala seperti Asiah isteri Fir'aun.

3. Hendaklah menegur dan marah kepada istri jika ada perbuatannya yang menyalahi syariat (yang disukai oleh nafsu perempuan itu menyalahi syariat)

4. Sabda Nabi saw, "Binasa dan jahat lelaki yang jadi hamba isterinya. Apabila mengikut seorang lelaki akan isterinya dalam sesuatu yang disukai oleh hawa nafsu isterinya , jadilah dia hamba isterinya dan binasalah dia dan jadilah dia diperintah oleh isterinya (dirinya jadi milik perempuan dan bukan sebaliknya)

5. Cemburu secara pertengahan.

6. Jangan biarkan isterinya berkata-kata dengan lelaki lain atau biarkan lelaki lain masuk ke rumahnya tanpa ia ada di rumah tetapi jangan berlebihan sehingga berburuk sangka akan isterinya tanpa sesuatu sebab atau alasan. Contohnya..seperti mengintai dan mencari akan kejahatan isterinya dan lain-lain.

7. Suami hendaklah mengajar fardhu ain termasuk hukum haid kepada isterinya.

8. Suami hendaklah memerintah isterinya supaya melaksanakan sholat. Jika tidak mengikuti perintah ini, tidurlah berasingan 1 hingga 3 malam.sekiranya tidak taat juga, pukullah sedikit dengan pukulan yang tidak melukakan atau memecahkan tulang isterinya.

9. Suami hendaklah meredhai isterinya untuk masuk surga bila dia mati .