Fathimah adalah seorang gadis kecil yang lemah lembut dan berani, namun hidup dalam keprihatinan. Pada masa kanak-kanak, dia tidak memperoleh kehidupan dalam kemanjaan yang biasa dinikmati oleh anak-anak sebayanya. Keluarganya hidup dalam pengasingan sehingga kecerian bermain, bercanda, dan bermanja berganti dengan hinaan dan cercaan dari kaum Quraisy. Ketika berangkat remaja, diapun ditinggalkan oleh ibu tercintanya, Khadijah. Tugas rumah tangga pun beralih kepadanya, karena semua saudara perempuannya telah mengikuti suami mereka. Semua itu dijalaninya dengan penuh keprihatinan, namun ikhlas.
Hari-harinya penuh dengan tugas kerumahtanggaan. Dialah yang menyediakan makanan, minuman, dan segala keperluan untuk ayah tercintanya, Rasulullah Saw. Dia pulalah yang menghibur dan menyenangkan hati sang ayah bila duka melandanya. Gadis kecil yang tabah dan lembut itu telah menjadi pengganti ibu di rumah tangga ayahnya.
Pada suatu hari, ketika sedang asyik menyediakan makanan untuk ayahnya, tiba-tiba temannya memanggil dari luar, "Fathimah, Fathimah, kesinilah, lihatlah ayahmu." "Kenapa dengan Ayahku ?" tanya Fathimah dengan cemas. "Orang-orang Quraisy telah memperolok-olokkan ayahmu di Masjidil Haram,"kata teman Fathimah. Tanpa mendengarkan lanjutan cerita temannya itu, Fathimah tergesa-gesa berlari dan berlari menuju Ka'bah. Setibanya dilapangan terbuka dekat Ka'bah, Fathimah melihat ayahnya, Rasulullah, sedang bersujud, sementara orang-orang kafir mengerumuninya. Dia bergegas menghampiri orang tuanya.
"Astaghfirullah," kata Fathimah.Dia melihat punggung orang tuanya berlumuran dengan kotoran unta. Secepat kilat dibersihkannya kotoran yang menempel dipunggung ayahnya. Ketika hampir selesai didengarnya orang ramai terbahak-bahak. Fathimah berpaling dan dengan kesal berkata, "Alangkah sampai hati kalian memperolok-olok ayahku, padahal dia adalah keluarga kalian sendiri. "
Mendengar ucapan Fathimah, olok-olok mereka tidak malah reda, tetapi bahkan tawa mereka semakin seru. Salah seorang diantara mereka berkata, "Orang tuamu yang telah memperolok-olok agama nenek moyang kita."
"Ketahuilah, apa yang telah dikatakan oleh ayahku adalah ajaran yang benar. Kalian telah sesat selama ini. Tidak ada yang dikatakan oleh ayahku, kecuali apa yang telah diwahyukan Tuhan kepadanya." balas Fathimah dengan berani.
"Haaa,haaa,haa," tawa meraka bertambah seru mendengar cerita Fathimah seraya berkata, "Cerita kamu itu adalah cerita orang gila." Fathimah merasa tersinggung. Dia berkata,"Janganlah kau tuduhkan hal yang demikian itu kepada keluargamu sendiri. Pernahkah ayahku membohongi kalian? Bukankah dia yang telah menyelesaikan perselisihan diantara kalian ?Bukankah kalian yang memberinya gelar Al-Amin (yang dapat dipercaya)?"
Mereka terdiam. Apa yang dikatakan Fathimah adalah benar. Mereka tidak dapat menyangkalnya. Mereka terdiam sejenak, dan berangsur-angsur meninggalkan fathimah. Mereka bergumam,"Seorang Kanak-kanak membela ayahnya."
Fathimah pun kembali membersihkan punggung ayahnya, sementara air matanya menetes tak tertahan melihat penderitaan ayah tercintanya.Akhirnya, diapun menangis sesenggukan.
Setelah ayahnya mengucapkan salam sujudnya, Dilihatnya Fathimah menangis tersedu- sedu. "kenapa kau menangis, anakku?" tanya Rasulullah. fathimah bertambah menangis, sehingga nafasnya memburu menahan sedu."Duh Ayahku, alangkah tabah hatimu. Mereka telah melumuri pakaianmu dengan kotoran, meraka telah memperolok-olokmu, namun tidak ada dendam di hatimu."
"Ketahuilah anakku, mereka tidak menyadari perbuatannya, "Rasulullah menghibur anak gadisnya. Sambil berbimbingan mereka pulang kerumah. Selama dalam perjalanan, fathimah bersesenggukan. Dia prihatin terhadap nasib yang menimpa rasulullah.
Pada suatu hari yang lain, Rasulullah pulang ke rumah dengan muka sembab dan pakaian yang penuh kotoran. Di pelipis tampak ada darah mengalir. Fathimah tersedu lagi,"Duh ayahku, alangkah menderitanya engkau." Ayah tersayang menjawab, "Anakku ..., tidak ada kebahagiaan tanpa penderitaan." Fathimah segera saja mengambil kain dan air, kemudian membersihkan luka ayahnya. Hatinya pilu dan air matanya tak tertahankan lagi. Dia pun menangis sesenggukan.
"Jangan menangis anakku, dan jangan marah kepada orang yang telah berbuat tidak baik kepada ayahmu. Doakanlah mereka semoga mereka cepat menyadari kesesatannya," ujar Rasulullah menasehati anaknya.
Sifat seorang ayah yang suka memaafkan orang yang berbuat jahil terhadapnya ini, mengalir kepada Fathimah. "Alangkah pemaafnya engkau ayahh, " kata batin Fathimah. "Adakah orang yang telah menyakiti dirimu, tetapi tidak kau maafkan ? Dapatkah aku memaafkan orang yang telah berbuat pada diriku? Oh ayah alangkah baiknya jiwamu. Akan kuingat sifat ayah yang pemaaf ini"."Sifat pemaaf inilah yang menempa gadis cilik ini. Sifat ini telah menjadikannya bersifat zuhud, menerima dengan ridha apa yang menimpa dirinya.
Kenyataan pahit yang melanda keluarganya, gangguan-gangguan menyakitkan yang menimpa ayahnya, menyebabkan gadis kecil lebih cepat dewasa di banding umurnya. Fathimah cepat dewasa dalam berfikir, sehingga cepat menanggapi situasi yang dihadapinya.
Berdakwah Untuk Membentuk Penduduk Kecamatan Bantan dan Umat Islam Yang Agamis
Al-'Ashr
Senin, 09 Juli 2007
Tangisan Seorang Gadis Cilik
Sabtu, 09 Juni 2007
JAUHILAH 7 PERKARA
Bismillah Walhamdulillah Was Salaatu Was Salaam 'ala Rasulillah.
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya : Rasulullah SAW telah bersabda: Jauhilah tujuh perkara yang boleh membinasakan kamu iaitu menyebabkan kamu masuk Neraka atau dilaknati oleh Allah. Para Sahabat bertanya : Wahai Rasulullah! Apakah tujuh perkara itu? Rasulullah SAW bersabda: Mensyirikkan Allah iaitu :
1. MenyekutukanNya
2. melakukan perbuatan sihir
3. membunuh manusia yang diharamkan oleh Allah melainkan dengan hak
4. memakan harta anak yatim
5. memakan harta riba
6. lari dari medan pertempuran
7. dan memfitnah perempuan-perempuan yang baik iaitu yang boleh dikahwini serta menjaga maruah dirinya, juga perempuan yang tidak memikirkan untuk melakukan perbuatan jahat serta perempuan yang beriman dengan Allah dan RasulNya dengan fitnah melakukan perbuatan zina.
[Bukhari & Muslim]
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya : Rasulullah SAW telah bersabda: Jauhilah tujuh perkara yang boleh membinasakan kamu iaitu menyebabkan kamu masuk Neraka atau dilaknati oleh Allah. Para Sahabat bertanya : Wahai Rasulullah! Apakah tujuh perkara itu? Rasulullah SAW bersabda: Mensyirikkan Allah iaitu :
1. MenyekutukanNya
2. melakukan perbuatan sihir
3. membunuh manusia yang diharamkan oleh Allah melainkan dengan hak
4. memakan harta anak yatim
5. memakan harta riba
6. lari dari medan pertempuran
7. dan memfitnah perempuan-perempuan yang baik iaitu yang boleh dikahwini serta menjaga maruah dirinya, juga perempuan yang tidak memikirkan untuk melakukan perbuatan jahat serta perempuan yang beriman dengan Allah dan RasulNya dengan fitnah melakukan perbuatan zina.
[Bukhari & Muslim]
Rabu, 09 Mei 2007
Tertutupnya Kalbu
Upaya mendapatkan cahaya (petunjuk) Allah memang ibarat astronom yang berupaya menangkap cahaya alam dengan sistem teleskop besar yang sangat peka, manusia pun harus menggunakan kalbu (qalb) yang sangat peka.
Kalbu manusia memang merupakan detektor yang sangat peka. Namun, sering kali kepekaannya bisa berkurang atau bahkan menghilang ketika kalbu itu mulai tertutup debu-debu dosa dan tak ada upaya membersihkannya. Perilaku kalbu itu pun memang mirip dengan fungsi teleskop dan detektornya.
Bayangkan, astronom yang bekerja dengan teleskopnya menangkap cahaya alam. Malam cerah tak berawan, cahaya bintang begitu cemerlang menembus teleskop dan direkam detektor kamera CCD. Berpuluh megabite data dapat terekam semalaman siap untuk diolah. Namun, upaya itu percuma ketika analisis citra menunjukkan adanya ghost image, gambar aneh yang merusak kecemerlangan cahaya bintang.
Ternyata, detektor peka itu terselubung titik-titik embun. Walaupun sekadar embun tipis, hal itu cukup untuk menghilangkan makna cahaya bintang. Apalagi bila debu tebal yang menutupinya, pasti cahaya tak mungkin masuk.
Kalbu pun demikian. Bila debu-debu dosa menyelimutinya, kepekaannya makin hilang. Jangankan berfungsi sebagai detektor yang bisa membimbing manusia, untuk sekadar menangkap cahaya Allah pun mustahil. Padahal, kalbu berfungsi sebagai detektor pembeda yang baik dan buruk. Rasulullah saw telah berpesan, ''Mintalah fatwa pada kalbumu; kebajikan adalah segala yang menenteramkan jiwa dan kalbu, sedangkan dosa adalah segala yang meragukan dalam jiwa dan hati, walaupun orang lain membenarkannya,''
(HR Ahmad dan Addarimi).
Kemunafikan dapat menutup kalbu (QS 63: 3), apalagi kekafiran (QS 2:7, 2:88). Kalbunya tidak dapat dibersihkan lagi (QS 5:41). Bahkan, kalbunya menjadi sangat keras, tanpa celah yang dapat ditembus (QS 2:74). Kalbu yang demikian sama sekali tak dapat lagi menerima cahaya Allah, termasuk cahaya Alquran (QS 6:25).
Dan sesungguhnya Kami jadikan (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai kalbu, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (QS 7:179).
Walaupun mata dan telinga berfungsi juga sebagai detektor fisis, tetapi dalam hal menangkap cahaya Allah kalbulah yang paling berperan. Pokok pangkal kesesatan itu bukan karena butanya mata atau tulinya telinga, tetapi karena tidak berfungsinya kalbu (QS 22:46).
Kalbu yang tidak berfungsi baik, karena telah tertutup atau mengeras, cenderung membentuk perilaku manipulatif. Korupsi, kolusi, dan segala ketidakadilan bersumber dari tidak berfungsinya kalbu.
Hanya dengan iman dan zikir kalbu dapat dipelihara kepekaannya (QS 64:11) dan menjadi tenteram (QS 13:28) hingga mampu bergetar setiap cahaya Allah menyentuhnya (QS 8:2).
Kalbu manusia memang merupakan detektor yang sangat peka. Namun, sering kali kepekaannya bisa berkurang atau bahkan menghilang ketika kalbu itu mulai tertutup debu-debu dosa dan tak ada upaya membersihkannya. Perilaku kalbu itu pun memang mirip dengan fungsi teleskop dan detektornya.
Bayangkan, astronom yang bekerja dengan teleskopnya menangkap cahaya alam. Malam cerah tak berawan, cahaya bintang begitu cemerlang menembus teleskop dan direkam detektor kamera CCD. Berpuluh megabite data dapat terekam semalaman siap untuk diolah. Namun, upaya itu percuma ketika analisis citra menunjukkan adanya ghost image, gambar aneh yang merusak kecemerlangan cahaya bintang.
Ternyata, detektor peka itu terselubung titik-titik embun. Walaupun sekadar embun tipis, hal itu cukup untuk menghilangkan makna cahaya bintang. Apalagi bila debu tebal yang menutupinya, pasti cahaya tak mungkin masuk.
Kalbu pun demikian. Bila debu-debu dosa menyelimutinya, kepekaannya makin hilang. Jangankan berfungsi sebagai detektor yang bisa membimbing manusia, untuk sekadar menangkap cahaya Allah pun mustahil. Padahal, kalbu berfungsi sebagai detektor pembeda yang baik dan buruk. Rasulullah saw telah berpesan, ''Mintalah fatwa pada kalbumu; kebajikan adalah segala yang menenteramkan jiwa dan kalbu, sedangkan dosa adalah segala yang meragukan dalam jiwa dan hati, walaupun orang lain membenarkannya,''
(HR Ahmad dan Addarimi).
Kemunafikan dapat menutup kalbu (QS 63: 3), apalagi kekafiran (QS 2:7, 2:88). Kalbunya tidak dapat dibersihkan lagi (QS 5:41). Bahkan, kalbunya menjadi sangat keras, tanpa celah yang dapat ditembus (QS 2:74). Kalbu yang demikian sama sekali tak dapat lagi menerima cahaya Allah, termasuk cahaya Alquran (QS 6:25).
Dan sesungguhnya Kami jadikan (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai kalbu, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (QS 7:179).
Walaupun mata dan telinga berfungsi juga sebagai detektor fisis, tetapi dalam hal menangkap cahaya Allah kalbulah yang paling berperan. Pokok pangkal kesesatan itu bukan karena butanya mata atau tulinya telinga, tetapi karena tidak berfungsinya kalbu (QS 22:46).
Kalbu yang tidak berfungsi baik, karena telah tertutup atau mengeras, cenderung membentuk perilaku manipulatif. Korupsi, kolusi, dan segala ketidakadilan bersumber dari tidak berfungsinya kalbu.
Hanya dengan iman dan zikir kalbu dapat dipelihara kepekaannya (QS 64:11) dan menjadi tenteram (QS 13:28) hingga mampu bergetar setiap cahaya Allah menyentuhnya (QS 8:2).
Kamis, 12 April 2007
Sebab-sebab Naik-turunnya Iman Dan Cara Meningkatkan Keimanan
CARA MENAIKKAN KADAR IMAN :
1. Pelajarilah berbagai ilmu agama Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits
a. Perbanyaklah membaca Al-Qur’an dan renungkan maknanya
Ayat-ayat Al-Qur’an memiliki target yang luas dan spesifik sesuai kebutuhan masing-masing orang yang sedang mencari atau memuliakan Tuhannya. Sebagian ayat Al-Qur’an mampu menggetarkan kulit seseorang yang sedang mencari kemuliaan Allah, dilain pihak Al-Qur’an mampu membuat menangis seorang pendosa, atau membuat tenang seorang pencari ketenangan.
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.”(QS, Shaad 38:29)
”Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim selain kerugian.” (QS, al-Israa’ 17:82)
b. Pelajarilah ilmu mengenai Asma’ul Husna, Sifat-sifat Yang Maha Agung.
Bila seseorang memahami sifat Allah yang Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Mengetahui, maka ia akan menahan lidahnya, anggota tubuhnya dan gerakan hatinya dari apapun yang tidak disukai Allah.
Bila seseorang memahami sifat Allah yang Maha Indah, Maha Agung dan Maha Perkasa, maka semakin besarlah keinginannya untuk bertemu Allah di hari akhirat sehingga iapun secara cermat memenuhi berbagai persyaratan yang diminta Allah untuk bisa bertemu dengan-Nya (yaitu dengan memperbanyak amal ibadah).
Bila seseorang memahami sifat Allah yang Maha Santun, Maha Halus dan Maha Penyabar, maka iapun merasa malu ketika ia marah, dan hidupnya merasa tenang karena tahu bahwa ia dijaga oleh Tuhannya secara lembut dan sabar.
c. Pelajari dengan cermat sejarah (Siroh) kehidupan Rasulullah SAW.
Dengan memahami perilaku, keagungan dan perjuangan Rasulullah, akan menumbuhkan rasa cinta kita terhadapnya, kemudian berkembang menjadi keinginan untuk mencontoh semua perilaku beliau dan mematuhi pesan-pesan beliau selaku utusan Allah.
Seorang sahabat r.a. mendatangi Rasulullah saw dan bertanya, “Wahai Rasul Allah, kapan tibanya hari akhirat?”. Rasulullah saw balik bertanya : “Apakah yang telah engkau persiapkan untuk menghadapi hari akhirat?”. Si sahabat menjawab , “Wahai Rasulullah, aku telah sholat, puasa dan bersedekah selama ini, tetap saja rasanya semua itu belum cukup. Namun didalam hati, aku sangat mencintai dirimu, ya Rasulullah”. Rasulullah saw menjawab, “Insya Allah, di akhirat kelak engkau akan bersama orang yang engkau cintai”. (HR Muslim) Inilah hadits yang sangat disukai para sahabat Rasulullah SAW. Jelaslah bahwa mencintai Rasulullah adalah salah satu jalan menuju surga, dan membaca riwayat hidupnya (siroh) adalah cara terpenting untuk lebih mudah memahami dan mencintai Rasulullah SAW.
d. Mempelajari Jasa-jasa dan Kualitas Agama Islam
Perenungan terhadap syariat Islam, hukum-hukumnya, akhlak yang diajarkannya, perintah dan larangannya, akan menimbulkan kekaguman terhadap kesempurnaan ajaran agama Islam ini. Tidak ada agama lain yang memiliki aturan dan etiket yang sedemikian rincinya seperti Islam, dimana untuk makan dan ke WC pun ada adabnya, untuk aspek hukum dan ekonomi ada aturannya, bahkan untuk berhubungan suami -istripun ada aturannya.
e. Mempelajari Kehidupan Orang-orang Sholeh (generasi Shalafus Sholihin, para sahabat Rasulullah SAW, murid-murid para sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in)
Mereka adalah generasi-generasi terbaik dari Islam. Mereka adalah orang-orang yang kadar keimanannya diibaratkan sebesar gunung Uhud sementara manusia zaman kini diibaratkan kadar keimananya tak lebih dari sebutir debu dari gunung Uhud. Umar r.a. pernah memuntahkan makanan yang sudah masuk ke perutnya ketika tahu bahwa makanan yang diberikan padanya kurang halal sumbernya. Sejarah lain menceritakan tentang lumrahnya seorang tabi’in meng-khatamkan Qur’an dalam satu kali sholatnya. Atau cerita tentang seorang sholeh yang lebih dari 40 tahun hidupnya berturut-turut tidak pernah sholat wajib sendiri kecuali berjamaah di mesjid. Atau seorang sholeh yang menangis karena lupa mengucap doa ketika masuk mesjid. Inilah cerita-cerita teladan yang mampu menggetarkan hati seorang yang sedang meningkatkan keimanannnya.
2. Renungkanlah tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam (ma’rifatullah)
Singkirkan dulu kesombongan akal kita, renungkan secara tulus bagaimana alam ini diciptakan. Sungguh pasti ada kekuatan luar biasa yang mampu menciptakan alam yang sempurna ini, sebuah struktur dan sistem kehidupan yang rapi, mulai dari tata surya, galaksi hingga struktur pohon dan sel-sel atom.
Renungkan pula rahasia dan mukjizat Qur’an. Salah satu keajaiban Al Qur’an adalah struktur matematis Al Qur’an. Walau wahyu Allah diturunkan bertahap namun ketika seluruh wahyu lengkap maka ditemukan bahwa kata tunggal “hari” disebut sebanyak 365 kali, sebanyak jumlah hari pada satu tahun syamsiyyah (masehi). Kata jamak hari disebut sebanyak 30 kali, sama dengan jumlah hari dalam satu bulan. Sedang kata Syahrun (bulan) dalam Al Quran disebut sebanyak 12 kali sama dengan jumlah bulan dalam satu tahun. Kata Saa’ah (jam) disebutkan sebanyak 24 kali sama dengan jumlah jam sehari semalam. Dan semua kata-kata itu tersebar di 114 surat dan 6666 ayat dan ratusan ribu kata yang tersusun indah. Dan masih banyak lagi keajaiban dan mukjizat Al Quran dari sisi pandang lainnya yang membuktikan bahwa itu bukan karya manusia. Masih banyak pula mukjizat lainnya di alam ini yang membuktikan bahwa alam ini memiliki struktur yang sangat sempurna dan tidak mungkin tercipta dengan sendirinya. Adalah lumrah, bahwa sesuatu yang tidak mungkin diciptakan manusia, pastilah diciptakan sesuatu yang Maha Kuasa, Maha Besar. Inilah yang menambah kecilnya diri kita dan menambah kekaguman dan cinta serta iman kita kepada Sang Pencipta alam semesta ini.
3. Berusaha keras melakukan amal perbuatan yang baik secara ikhlas
Amal perbuatan perlu digerakkan. Dimulai dari hati, kemudian terungkap melalui lidah kita dan kemudian anggota tubuh kita. Selain ikhlas, diperlukan usaha dan keseriusan untuk melakukan amalan-amalan ini.
a. Amalan Hati
Dilakukan melalui pembersihan hati kita dari sifat-sifat buruk, selalu menjaga kesucian hati. Ciptakan sifat-sifat sabar dan tawakal, penuh takut dan harap akan Allah. Jauhi sifat tamak, kikir, prasangka buruk dan sebagainya.
b. Amalan Lidah
Perbanyak membaca Al-Qur’an, zikir, bertasbih, tahlil, takbir, istighfar, mengirim salam dan sholawat kepada Rasulullah dan mengajak orang lain kepada kebaikan, melarang kemungkaran.
c. Amalan Anggota Tubuh
Dilakukan melalui kepatuhan dalam sholat, pengorbanan untuk bersedekah, perjuangan untuk berhaji hingga disiplin untuk sholat berjamaah di mesjid (khususnya bagi pria).
SEBAB-SEBAB TURUNNYA KADAR IMAN :
Sebab-sebab dari dalam diri kita sendiri (Internal) :
1. Kebodohan
Kebodohan merupakan pangkal dari berbagai perbuatan buruk. Seseorang berbuat jahat boleh jadi karena ia tak tahu bahwa perbuatan itu dilarang agama, atau ia tidak tahu ancaman dan bahaya yang akan dihadapinya kelak di akhirat, atau ia tidak tahu keperkasaan Sang Maha Kuasa yang mengatur denyut jantungnya, mengatur musibah dan rezekinya.
2. Ketidakpedulian, keengganan dan melupakan
Ketidakpedulian menyebabkan pikiran seseorang diisi dengan hal-hal duniawi yang hanya ia sukai (yang ia pedulikan), sedangkan yang bukan ia sukai tidak diberi tempat dipikirannya. Ini menyebabkan ia tidak ingat (dzikir) pada Allah, sifatnya tidak tulus, tidak punya rasa takut dan malu (kepada Allah), tidak merasa berdosa (tidak perlu tobat), dan bisa jadi ia menjadi sombong karena tidak merasakan pentingnya berbuat rendah hati dan sederhana.
Kengganan seseorang untuk melakukan suatu kebaikan padahal ia tahu hal itu telah diperintahkan Allah, maka ia termasuk orang yang men-zhalimi (melalaikan) dirinya sendiri. Allah akan mengunci hatinya dari jalan yang lurus (al-Kahfi 18:5), dan ia akan menjadi teman syeitan (Thaaha 20:124).
Melupakan kewajiban dan kepatuhan seseorang dalam beribadah berawal dari sifat lalai atau lemah hatinya. Waktu dan energinya harus didorong agar diisi lebih banyak dengan perbuatan amal sholeh, kalau tidak maka kesenangan duniawi akan semakin menguasai dirinya hingga ia semakin jauh dari ingat (dzikir) kepada Allah.
3. Menyepelekan dan melakukan perbuatan dosa
Awal dari perbuatan dosa adalah sikap menyepelekan (tidak patuh terhadap) perintah dan larangan Allah. Perbuatan dosa umumnya dilakukan secara bertahap, misalnya dimulai dari zinah pandangan mata yang dianggap dosa kecil kemudian berkembang menjadi zinah tubuh. Dosa-dosa kecil yang disepelekan merupakan proses pendidikan jahat (pembiasaan) untuk menyepelekan dosa-dosa besar. Karena itu basmilah dosa-dosa kecil selagi belum tumbuh menjadi dosa besar.
4. Jiwa yang selalu memerintahkan berbuat jahat
Ibnul Qayyim Al Jauziyyah mengatakan, Allah menggabungkan dua jiwa, yakni jiwa jahat dan jiwa yang tenang sekaligus dalam diri manusia, dan mereka saling bermusuhan dalam diri seorang manusia. Disaat salah satu melemah, maka yang lain menguat. Perang antar keduanya berlangsung terus hingga si empunya jiwa meninggal dunia. Adalah sungguh merugi orang-orang yang jiwa jahatnya menguasai tubuhnya. Seperti sabda Rasulullah, “..barang siapa yang diberi petunjuk Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkannya maka tidak ada seorangpun yang dapat memberinya petunjuk”. Sifat lalai, tidak mau belajar agama, sombong dan tidak peduli merupakan beberapa cara untuk membiarkan jiwa jahat dalam tubuh kita berkuasa. Sedangkan sifat rendah hati, mau belajar, mau melakukan instropeksi (muhasabah) merupakan cara untuk memperkuat jiwa kebaikan (jiwa tenang) yang ada dalam tubuh kita.
Sebab-sebab dari luar diri kita (External) :
1. Syaitan
Syaitan adalah musuh manusia. Tujuan syaitan adalah untuk merusak keimanan orang. Siapa saja yang tidak membentengi dirinya dengan selalu mengingat Allah maka ia menjadi sarang syaitan, menjerumuskannya dalam kesesatan, ketidak patuhan terhadap Allah, membujuknya melakukan dosa.
2. Bujukan dan rayuan dunia
Allah SWT berfirman : “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (QS, al-Hadiid 57:20).
Tujuan hidup manusia seluruhnya untuk akhirat. Apapun kegiatan dunia yang kita lakukan, seperti mencari nafkah, menonton TV, bertemu teman dan keluarga, seharusnya semua itu ditujukan untuk meraih pahala akhirat. Tidak secuilpun dari kegiatan duniawi boleh dilepaskan dari aturan main yang diperintahkan atau dilarang Allah. Ibnul Qayyim mengibaratkan hati sebagai suatu wadah bagi tujuan hidup manusia (akhirat dan duniawi) dengan kapasitas (daya tampung) tertentu. Ketika tujuan duniawi tumbuh maka ia akan mengurangi porsi tujuan akhirat. Ketika porsi tujuan akhirat bertambah maka porsi tujuan duniawi berkurang. Dalam situasi dimana tujuan dunia menguasai hati kita maka hanya tersisa sedikit porsi akhirat di hati kita, dan inilah awal dari menurunnya keimanan kita.
3. Pergaulan yang buruk
Rasulullah bersabda : “Seseorang itu terletak pada agama teman dekatnya, sehingga masing-masing kamu sebaiknya melihat kepada siapa dia mengambil teman dekatnya” (HR Tirmidzi, Abu Dawud, al-Hakim, al-Baghawi).
Seorang teman yang sholeh selalu memperhatikan perintah dan larangan Allah, karenanya ia selalu mengajak siapa saja orang disekitarnya untuk menuju kepada kebaikan dan mengingatkan mereka bila mendekati kemungkaran. Teman dan sahabat yang sholeh sangat penting kita miliki di zaman kini dimana pergaulan manusia sudah sangat bebas dan tidak lagi memperhatikan nilai-nilai agama Islam. Berada diantara teman-teman yang sholeh akan membuat seorang wanita tidak merasa asing bila mengenakan jilbab. Demikian pula seorang pria bisa merasa bersalah bila ia membicarakan aurat wanita diantara orang-orang sholeh. Sebaliknya berada diantara orang-orang yang tidak sholeh atau berperilaku buruk menjadikan kita dipandang aneh bila berjilbab atau bahkan ketika hendak melakukan sholat.
Menaikkan kadar iman bukanlah suatu pekerjaan mudah, karena begitu banyak usaha (menuntut ilmu, amalan-amalan) yang harus kita lakukan disamping godaan (syaitan, duniawi) yang akan kita hadapi. Paling tidak kita termasuk orang-orang yang lebih beruntung dibanding orang lain yang belum sempat mengetahui “sebab-sebab naik-turunnya iman” dalam tulisan ini. Mari kita ingatkan teman-teman kita dengan menyebarkan tulisan ini.
Sumber :
1. Sebab-sebab Naik Turunnya Iman, oleh Syaikh Abdur Razzaaq al-Abbaad
2. Asma’ul Husna, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
3. Penawar Hati yang Sakit, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
sumber:
http://kebunhidayah.wordpress.com/2009/05/19/sebab-sebab-naik-turunnya-iman-dan-cara-meningkatkan-keimanan/
1. Pelajarilah berbagai ilmu agama Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits
a. Perbanyaklah membaca Al-Qur’an dan renungkan maknanya
Ayat-ayat Al-Qur’an memiliki target yang luas dan spesifik sesuai kebutuhan masing-masing orang yang sedang mencari atau memuliakan Tuhannya. Sebagian ayat Al-Qur’an mampu menggetarkan kulit seseorang yang sedang mencari kemuliaan Allah, dilain pihak Al-Qur’an mampu membuat menangis seorang pendosa, atau membuat tenang seorang pencari ketenangan.
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.”(QS, Shaad 38:29)
”Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim selain kerugian.” (QS, al-Israa’ 17:82)
b. Pelajarilah ilmu mengenai Asma’ul Husna, Sifat-sifat Yang Maha Agung.
Bila seseorang memahami sifat Allah yang Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Mengetahui, maka ia akan menahan lidahnya, anggota tubuhnya dan gerakan hatinya dari apapun yang tidak disukai Allah.
Bila seseorang memahami sifat Allah yang Maha Indah, Maha Agung dan Maha Perkasa, maka semakin besarlah keinginannya untuk bertemu Allah di hari akhirat sehingga iapun secara cermat memenuhi berbagai persyaratan yang diminta Allah untuk bisa bertemu dengan-Nya (yaitu dengan memperbanyak amal ibadah).
Bila seseorang memahami sifat Allah yang Maha Santun, Maha Halus dan Maha Penyabar, maka iapun merasa malu ketika ia marah, dan hidupnya merasa tenang karena tahu bahwa ia dijaga oleh Tuhannya secara lembut dan sabar.
c. Pelajari dengan cermat sejarah (Siroh) kehidupan Rasulullah SAW.
Dengan memahami perilaku, keagungan dan perjuangan Rasulullah, akan menumbuhkan rasa cinta kita terhadapnya, kemudian berkembang menjadi keinginan untuk mencontoh semua perilaku beliau dan mematuhi pesan-pesan beliau selaku utusan Allah.
Seorang sahabat r.a. mendatangi Rasulullah saw dan bertanya, “Wahai Rasul Allah, kapan tibanya hari akhirat?”. Rasulullah saw balik bertanya : “Apakah yang telah engkau persiapkan untuk menghadapi hari akhirat?”. Si sahabat menjawab , “Wahai Rasulullah, aku telah sholat, puasa dan bersedekah selama ini, tetap saja rasanya semua itu belum cukup. Namun didalam hati, aku sangat mencintai dirimu, ya Rasulullah”. Rasulullah saw menjawab, “Insya Allah, di akhirat kelak engkau akan bersama orang yang engkau cintai”. (HR Muslim) Inilah hadits yang sangat disukai para sahabat Rasulullah SAW. Jelaslah bahwa mencintai Rasulullah adalah salah satu jalan menuju surga, dan membaca riwayat hidupnya (siroh) adalah cara terpenting untuk lebih mudah memahami dan mencintai Rasulullah SAW.
d. Mempelajari Jasa-jasa dan Kualitas Agama Islam
Perenungan terhadap syariat Islam, hukum-hukumnya, akhlak yang diajarkannya, perintah dan larangannya, akan menimbulkan kekaguman terhadap kesempurnaan ajaran agama Islam ini. Tidak ada agama lain yang memiliki aturan dan etiket yang sedemikian rincinya seperti Islam, dimana untuk makan dan ke WC pun ada adabnya, untuk aspek hukum dan ekonomi ada aturannya, bahkan untuk berhubungan suami -istripun ada aturannya.
e. Mempelajari Kehidupan Orang-orang Sholeh (generasi Shalafus Sholihin, para sahabat Rasulullah SAW, murid-murid para sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in)
Mereka adalah generasi-generasi terbaik dari Islam. Mereka adalah orang-orang yang kadar keimanannya diibaratkan sebesar gunung Uhud sementara manusia zaman kini diibaratkan kadar keimananya tak lebih dari sebutir debu dari gunung Uhud. Umar r.a. pernah memuntahkan makanan yang sudah masuk ke perutnya ketika tahu bahwa makanan yang diberikan padanya kurang halal sumbernya. Sejarah lain menceritakan tentang lumrahnya seorang tabi’in meng-khatamkan Qur’an dalam satu kali sholatnya. Atau cerita tentang seorang sholeh yang lebih dari 40 tahun hidupnya berturut-turut tidak pernah sholat wajib sendiri kecuali berjamaah di mesjid. Atau seorang sholeh yang menangis karena lupa mengucap doa ketika masuk mesjid. Inilah cerita-cerita teladan yang mampu menggetarkan hati seorang yang sedang meningkatkan keimanannnya.
2. Renungkanlah tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam (ma’rifatullah)
Singkirkan dulu kesombongan akal kita, renungkan secara tulus bagaimana alam ini diciptakan. Sungguh pasti ada kekuatan luar biasa yang mampu menciptakan alam yang sempurna ini, sebuah struktur dan sistem kehidupan yang rapi, mulai dari tata surya, galaksi hingga struktur pohon dan sel-sel atom.
Renungkan pula rahasia dan mukjizat Qur’an. Salah satu keajaiban Al Qur’an adalah struktur matematis Al Qur’an. Walau wahyu Allah diturunkan bertahap namun ketika seluruh wahyu lengkap maka ditemukan bahwa kata tunggal “hari” disebut sebanyak 365 kali, sebanyak jumlah hari pada satu tahun syamsiyyah (masehi). Kata jamak hari disebut sebanyak 30 kali, sama dengan jumlah hari dalam satu bulan. Sedang kata Syahrun (bulan) dalam Al Quran disebut sebanyak 12 kali sama dengan jumlah bulan dalam satu tahun. Kata Saa’ah (jam) disebutkan sebanyak 24 kali sama dengan jumlah jam sehari semalam. Dan semua kata-kata itu tersebar di 114 surat dan 6666 ayat dan ratusan ribu kata yang tersusun indah. Dan masih banyak lagi keajaiban dan mukjizat Al Quran dari sisi pandang lainnya yang membuktikan bahwa itu bukan karya manusia. Masih banyak pula mukjizat lainnya di alam ini yang membuktikan bahwa alam ini memiliki struktur yang sangat sempurna dan tidak mungkin tercipta dengan sendirinya. Adalah lumrah, bahwa sesuatu yang tidak mungkin diciptakan manusia, pastilah diciptakan sesuatu yang Maha Kuasa, Maha Besar. Inilah yang menambah kecilnya diri kita dan menambah kekaguman dan cinta serta iman kita kepada Sang Pencipta alam semesta ini.
3. Berusaha keras melakukan amal perbuatan yang baik secara ikhlas
Amal perbuatan perlu digerakkan. Dimulai dari hati, kemudian terungkap melalui lidah kita dan kemudian anggota tubuh kita. Selain ikhlas, diperlukan usaha dan keseriusan untuk melakukan amalan-amalan ini.
a. Amalan Hati
Dilakukan melalui pembersihan hati kita dari sifat-sifat buruk, selalu menjaga kesucian hati. Ciptakan sifat-sifat sabar dan tawakal, penuh takut dan harap akan Allah. Jauhi sifat tamak, kikir, prasangka buruk dan sebagainya.
b. Amalan Lidah
Perbanyak membaca Al-Qur’an, zikir, bertasbih, tahlil, takbir, istighfar, mengirim salam dan sholawat kepada Rasulullah dan mengajak orang lain kepada kebaikan, melarang kemungkaran.
c. Amalan Anggota Tubuh
Dilakukan melalui kepatuhan dalam sholat, pengorbanan untuk bersedekah, perjuangan untuk berhaji hingga disiplin untuk sholat berjamaah di mesjid (khususnya bagi pria).
SEBAB-SEBAB TURUNNYA KADAR IMAN :
Sebab-sebab dari dalam diri kita sendiri (Internal) :
1. Kebodohan
Kebodohan merupakan pangkal dari berbagai perbuatan buruk. Seseorang berbuat jahat boleh jadi karena ia tak tahu bahwa perbuatan itu dilarang agama, atau ia tidak tahu ancaman dan bahaya yang akan dihadapinya kelak di akhirat, atau ia tidak tahu keperkasaan Sang Maha Kuasa yang mengatur denyut jantungnya, mengatur musibah dan rezekinya.
2. Ketidakpedulian, keengganan dan melupakan
Ketidakpedulian menyebabkan pikiran seseorang diisi dengan hal-hal duniawi yang hanya ia sukai (yang ia pedulikan), sedangkan yang bukan ia sukai tidak diberi tempat dipikirannya. Ini menyebabkan ia tidak ingat (dzikir) pada Allah, sifatnya tidak tulus, tidak punya rasa takut dan malu (kepada Allah), tidak merasa berdosa (tidak perlu tobat), dan bisa jadi ia menjadi sombong karena tidak merasakan pentingnya berbuat rendah hati dan sederhana.
Kengganan seseorang untuk melakukan suatu kebaikan padahal ia tahu hal itu telah diperintahkan Allah, maka ia termasuk orang yang men-zhalimi (melalaikan) dirinya sendiri. Allah akan mengunci hatinya dari jalan yang lurus (al-Kahfi 18:5), dan ia akan menjadi teman syeitan (Thaaha 20:124).
Melupakan kewajiban dan kepatuhan seseorang dalam beribadah berawal dari sifat lalai atau lemah hatinya. Waktu dan energinya harus didorong agar diisi lebih banyak dengan perbuatan amal sholeh, kalau tidak maka kesenangan duniawi akan semakin menguasai dirinya hingga ia semakin jauh dari ingat (dzikir) kepada Allah.
3. Menyepelekan dan melakukan perbuatan dosa
Awal dari perbuatan dosa adalah sikap menyepelekan (tidak patuh terhadap) perintah dan larangan Allah. Perbuatan dosa umumnya dilakukan secara bertahap, misalnya dimulai dari zinah pandangan mata yang dianggap dosa kecil kemudian berkembang menjadi zinah tubuh. Dosa-dosa kecil yang disepelekan merupakan proses pendidikan jahat (pembiasaan) untuk menyepelekan dosa-dosa besar. Karena itu basmilah dosa-dosa kecil selagi belum tumbuh menjadi dosa besar.
4. Jiwa yang selalu memerintahkan berbuat jahat
Ibnul Qayyim Al Jauziyyah mengatakan, Allah menggabungkan dua jiwa, yakni jiwa jahat dan jiwa yang tenang sekaligus dalam diri manusia, dan mereka saling bermusuhan dalam diri seorang manusia. Disaat salah satu melemah, maka yang lain menguat. Perang antar keduanya berlangsung terus hingga si empunya jiwa meninggal dunia. Adalah sungguh merugi orang-orang yang jiwa jahatnya menguasai tubuhnya. Seperti sabda Rasulullah, “..barang siapa yang diberi petunjuk Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkannya maka tidak ada seorangpun yang dapat memberinya petunjuk”. Sifat lalai, tidak mau belajar agama, sombong dan tidak peduli merupakan beberapa cara untuk membiarkan jiwa jahat dalam tubuh kita berkuasa. Sedangkan sifat rendah hati, mau belajar, mau melakukan instropeksi (muhasabah) merupakan cara untuk memperkuat jiwa kebaikan (jiwa tenang) yang ada dalam tubuh kita.
Sebab-sebab dari luar diri kita (External) :
1. Syaitan
Syaitan adalah musuh manusia. Tujuan syaitan adalah untuk merusak keimanan orang. Siapa saja yang tidak membentengi dirinya dengan selalu mengingat Allah maka ia menjadi sarang syaitan, menjerumuskannya dalam kesesatan, ketidak patuhan terhadap Allah, membujuknya melakukan dosa.
2. Bujukan dan rayuan dunia
Allah SWT berfirman : “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (QS, al-Hadiid 57:20).
Tujuan hidup manusia seluruhnya untuk akhirat. Apapun kegiatan dunia yang kita lakukan, seperti mencari nafkah, menonton TV, bertemu teman dan keluarga, seharusnya semua itu ditujukan untuk meraih pahala akhirat. Tidak secuilpun dari kegiatan duniawi boleh dilepaskan dari aturan main yang diperintahkan atau dilarang Allah. Ibnul Qayyim mengibaratkan hati sebagai suatu wadah bagi tujuan hidup manusia (akhirat dan duniawi) dengan kapasitas (daya tampung) tertentu. Ketika tujuan duniawi tumbuh maka ia akan mengurangi porsi tujuan akhirat. Ketika porsi tujuan akhirat bertambah maka porsi tujuan duniawi berkurang. Dalam situasi dimana tujuan dunia menguasai hati kita maka hanya tersisa sedikit porsi akhirat di hati kita, dan inilah awal dari menurunnya keimanan kita.
3. Pergaulan yang buruk
Rasulullah bersabda : “Seseorang itu terletak pada agama teman dekatnya, sehingga masing-masing kamu sebaiknya melihat kepada siapa dia mengambil teman dekatnya” (HR Tirmidzi, Abu Dawud, al-Hakim, al-Baghawi).
Seorang teman yang sholeh selalu memperhatikan perintah dan larangan Allah, karenanya ia selalu mengajak siapa saja orang disekitarnya untuk menuju kepada kebaikan dan mengingatkan mereka bila mendekati kemungkaran. Teman dan sahabat yang sholeh sangat penting kita miliki di zaman kini dimana pergaulan manusia sudah sangat bebas dan tidak lagi memperhatikan nilai-nilai agama Islam. Berada diantara teman-teman yang sholeh akan membuat seorang wanita tidak merasa asing bila mengenakan jilbab. Demikian pula seorang pria bisa merasa bersalah bila ia membicarakan aurat wanita diantara orang-orang sholeh. Sebaliknya berada diantara orang-orang yang tidak sholeh atau berperilaku buruk menjadikan kita dipandang aneh bila berjilbab atau bahkan ketika hendak melakukan sholat.
Menaikkan kadar iman bukanlah suatu pekerjaan mudah, karena begitu banyak usaha (menuntut ilmu, amalan-amalan) yang harus kita lakukan disamping godaan (syaitan, duniawi) yang akan kita hadapi. Paling tidak kita termasuk orang-orang yang lebih beruntung dibanding orang lain yang belum sempat mengetahui “sebab-sebab naik-turunnya iman” dalam tulisan ini. Mari kita ingatkan teman-teman kita dengan menyebarkan tulisan ini.
Sumber :
1. Sebab-sebab Naik Turunnya Iman, oleh Syaikh Abdur Razzaaq al-Abbaad
2. Asma’ul Husna, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
3. Penawar Hati yang Sakit, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
sumber:
http://kebunhidayah.wordpress.com/2009/05/19/sebab-sebab-naik-turunnya-iman-dan-cara-meningkatkan-keimanan/
Senin, 09 April 2007
SIKSAAN BAGI ORANG YANG MENYIA-NYIAKAN SHOLAT LIMA WAKTU
Berikut ini hadist yang terdapat di dalam kitab "Fadhillah Amal" yang disusun oleh Maulana Muhammad Zakaria Al-Khandalawi RA :
Dalam suatu riwayat Nabi SAW bersabda,: "Barang siapa menyia-nyiakan sholat, maka Allah SWT akan mengazabnya dengan 15 siksaan.Enam macam siksaan akan ditimpakan ketika di dunia, tiga macam siksaan ketika mati, tiga macam siksaan ketika di alam kubur, dan Tiga macam siksaan ketika bangkit dari kubur.
Adapun Enam macam siksaan yang akan ditimpakan di dunia adalah :
1. Allah SWT akan mencabut keberkahan umurnya.
2. Allah SWT akan menghapuskan ciri-ciri keshalihan dari wajahnya.
3. Seluruh amal shalihnya tidak akan mendapat ganjaran dari Allah SWT.
4. Allah SWT tidak akan mengangkat do'anya ke langit.
5. Seluruh makhluk di dunia akan mencercanya.
6. Tidak akan mendapat bagian dari do'a orang-orang shalih.
Tiga macam siksaan ketika mati adalah :
1. Dia akan mati dalam keadaan hina.
2. Dia akan mati dalam keadaan lapar.
3. Dia akan mati dalam keadaan haus, sehingga walaupun dia diberi minum air seluruh samudra di dunia tidak akan bisa menghilangkan kehausannya.
Tiga macam siksaan ketika di alam kubur adalah :
1. Allah SWT akan menyempitkan kuburnya dan menghimpit tubuhnya, sehingga tulang-tulang rusuk kiri & kanannya saling bersilangan.
2. Api akan dinyalakan di dalam kuburnya dan ia akan diguling-gulingkan di dalam baranya siang dan malam.
3. Allah SWT akan memasukkan ular berbisa yang bernama Syuja'ul-Agra' ke dalam kuburnya, kedua mata ular tersebut terbuat dari api, kuku-kukunya dari besi, panjang setiap kukunya sepanjang sehari perjalanan. Ular itu akan memekik kepadanya, "Saya adalah Syuja'ul-Aqra'!". Suaranya seperti petir yang menyambar, ia berkata lagi, "Tuhanku telah memerintahkan aku untuk menderamu, karena kamu telah menyia-nyiakan sholat Shubuh hingga Dzuhur. Karena kamu telah menyia-nyiakan sholat Dzuhur hingga, Ashar, Ashar hingga Maghrib, Maghrib hingga Isya', dan Isya' hingga Shubuh". Setiap pukulan akan membenamkan orang itu ke dalam tanah sedalam 70 hasta, lalu dengan kukunya ular itu akan mencungkilnya lagi keluar dari tanah, terus berulang-ulang sampai hari kiamat. Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari adzab kubur.
Tiga macam siksaan yang akan ditimpakan pada hari kiamat (ketika dibangkitkan dari kubur) adalah :
1. Allah SWT memerintahkan malaikat untuk menarik orang itu hingga ke neraka Jahanam dengan wajah terseret.
2. Pada hari Hisab, Allah SWT akan memandang dia dengan pandangan murka, sehingga rontoklah daging wajah orang itu.
3. Allah SWT akan menghisabnya dengan hisab yang sangat keras, tiada keringanan sedikitpun baginya selama-lamanya, sehingga Allah SWT memasukkannya ke dalam neraka yang merupakan seburuk-buruk tempat.
Na'udzubillahi min dzalik. Semoga Allah SWT melindungi kita dari siksa-siksa tersebut dan menjadikan diri kita, keluarga, sanak famili kita dan semua manusia mampu menjaga sholat dengan baik sesuai yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.
Dalam suatu riwayat Nabi SAW bersabda,: "Barang siapa menyia-nyiakan sholat, maka Allah SWT akan mengazabnya dengan 15 siksaan.Enam macam siksaan akan ditimpakan ketika di dunia, tiga macam siksaan ketika mati, tiga macam siksaan ketika di alam kubur, dan Tiga macam siksaan ketika bangkit dari kubur.
Adapun Enam macam siksaan yang akan ditimpakan di dunia adalah :
1. Allah SWT akan mencabut keberkahan umurnya.
2. Allah SWT akan menghapuskan ciri-ciri keshalihan dari wajahnya.
3. Seluruh amal shalihnya tidak akan mendapat ganjaran dari Allah SWT.
4. Allah SWT tidak akan mengangkat do'anya ke langit.
5. Seluruh makhluk di dunia akan mencercanya.
6. Tidak akan mendapat bagian dari do'a orang-orang shalih.
Tiga macam siksaan ketika mati adalah :
1. Dia akan mati dalam keadaan hina.
2. Dia akan mati dalam keadaan lapar.
3. Dia akan mati dalam keadaan haus, sehingga walaupun dia diberi minum air seluruh samudra di dunia tidak akan bisa menghilangkan kehausannya.
Tiga macam siksaan ketika di alam kubur adalah :
1. Allah SWT akan menyempitkan kuburnya dan menghimpit tubuhnya, sehingga tulang-tulang rusuk kiri & kanannya saling bersilangan.
2. Api akan dinyalakan di dalam kuburnya dan ia akan diguling-gulingkan di dalam baranya siang dan malam.
3. Allah SWT akan memasukkan ular berbisa yang bernama Syuja'ul-Agra' ke dalam kuburnya, kedua mata ular tersebut terbuat dari api, kuku-kukunya dari besi, panjang setiap kukunya sepanjang sehari perjalanan. Ular itu akan memekik kepadanya, "Saya adalah Syuja'ul-Aqra'!". Suaranya seperti petir yang menyambar, ia berkata lagi, "Tuhanku telah memerintahkan aku untuk menderamu, karena kamu telah menyia-nyiakan sholat Shubuh hingga Dzuhur. Karena kamu telah menyia-nyiakan sholat Dzuhur hingga, Ashar, Ashar hingga Maghrib, Maghrib hingga Isya', dan Isya' hingga Shubuh". Setiap pukulan akan membenamkan orang itu ke dalam tanah sedalam 70 hasta, lalu dengan kukunya ular itu akan mencungkilnya lagi keluar dari tanah, terus berulang-ulang sampai hari kiamat. Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari adzab kubur.
Tiga macam siksaan yang akan ditimpakan pada hari kiamat (ketika dibangkitkan dari kubur) adalah :
1. Allah SWT memerintahkan malaikat untuk menarik orang itu hingga ke neraka Jahanam dengan wajah terseret.
2. Pada hari Hisab, Allah SWT akan memandang dia dengan pandangan murka, sehingga rontoklah daging wajah orang itu.
3. Allah SWT akan menghisabnya dengan hisab yang sangat keras, tiada keringanan sedikitpun baginya selama-lamanya, sehingga Allah SWT memasukkannya ke dalam neraka yang merupakan seburuk-buruk tempat.
Na'udzubillahi min dzalik. Semoga Allah SWT melindungi kita dari siksa-siksa tersebut dan menjadikan diri kita, keluarga, sanak famili kita dan semua manusia mampu menjaga sholat dengan baik sesuai yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.
Langganan:
Postingan (Atom)