Al-'Ashr

<a href="http://www.clock4blog.eu">clock for blog</a>
Free clock for your blog

Rabu, 13 November 2013

Kiat-Kiat Menuju Keluarga Sakinah Pernikahan Dalam Islam

Agama Islam telah memberikan petunjuk nan lengkap & rinci terhadap persoalan pernikahan. Mulai dari anjuran menikah, cara memilih pasangan nan ideal, melakukan khitbah (peminangan), bagaimana mendidik anak, serta memberikan jalan keluar jika terjadi kemelut dlm rumah tangga, sampai dlm proses nafaqah (memberi nafkah) & harta waris, semua diatur oleh Islam secara rinci, detail & gamblang.
Selanjutnya utk memahami konsep pernikahan dlm Islam, maka rujukan nan paling benar & sah adalah Al Qur'an & As Sunnah Ash Shahihah nan sesuai dgn pemahaman Salafush Shalih. Berdasar rujukan ini, kita ini akan memperoleh kejelasan tentang aspek-aspek pernikahan, maupun beberapa penyimpangan & pergeseran nilai pernikahan nan terjadi di dlm masyarakat kita.
Pernikahan adalah fitrah kemanusiaan, maka dari itu Islam menganjurkan utk menikah, karena nikah merupakan gharizah insaniyah (naluri kemanusiaan). Allah Subhanhu wa Ta'ala berfirman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dgn lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah nan telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama nan lurus; tetapi kebanyakan manusia tak mengetahui”. [Ar Ruum: 30].
Islam Menganjurkan Nikah
Penghargaan Islam terhadap ikatan pernikahan besar sekali, Allah menyebutkan sebagai ikatan nan kuat. 
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنكُم مِّيثَاقًا غَلِيظًا
“. . . Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian nan kuat”. [An Nisaa: 21].
Sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dgn separuh agama. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:
إِذَا تَزَوَّجَ اْلعَبْد،ُ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِيْمَا بَقِي
“Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dlm memelihara nan separuhnya lagi”. (*1)
Islam Tidak Menyukai Membujang
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan utk menikah & melarang keras kepada orang nan tak mau menikah. Anas bin Malik rahimahullah berkata: “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kami utk menikah & melarang kami membujang dgn larangan nan keras. ” Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ، فَإنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ
“Nikahilah wanita nan subur & penyayang. Karena aku akan berbanggga dgn banyaknya umatku di hadapan umat-umat”. (*2)
Pernah suatu ketika, 3 orang sahabat g datang bertanya kepada isteri-isteri Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang peribadahan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian setelah diterangkan, masing-masing ingin meningkatkan ibadah mereka. Salah seorang dari mereka berkata: “Adapun saya, akan puasa sepanjang masa tanpa putus”. Sahabat nan lain berkata: “Adapun saya akan menjauhi wanita, saya tak akan nikah selamanya . . . . “. Ketika hal itu didengar oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau keluar seraya bersabda:
“أَنْتُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا ؟ أَمَا وَاللهِ إنِّي َلأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، وَلَكِنِّي أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّى وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي. “
“Benarkah kalian telah berkata begini & begitu? Sungguh demi Allah, sesungguhnya akulah nan paling takut & taqwa kepada Allah diantara kalian, akan tetapi aku berpuasa & aku berbuka, aku shalat & aku juga tidur & aku juga menikahi wanita. Maka barangsiapa nan tak menyukai sunnahku, maka ia tak termasuk golonganku”. (*3)
Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan utk menikah. Dan seandainya mereka fakir, niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan membantu dgn memberikan rezeki kepada mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala menjanjikan suatu pertolongan kepada orang nan menikah, dlm firmanNya:
وَأَنكِحُوا الأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُوْنُوْا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمْ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ. “
“Dan nikahkanlah orang-orang nan sendirian diantara kamu & orang-orang nan layak (bernikah) dari hamba-hamba sahayamu nan laki-laki & wanita. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dgn karuniaNya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui”. [An Nuur:32].
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menguatkan janji Allah Subhanahu wa Ta'ala itu dgn sabdanya:
ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُمْ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ، وَالْمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيْدُ الاَدَاءَ وَ النَّاكِحُ الَّذِي يُرِيْدُ الْعَفَافَ
“Ada 3 golongan manusia nan berhak mendapat pertolongan Allah. Yaitu, mujahid fi sabilillah, budak nan menebus dirinya supaya merdeka, & orang nan menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (*4)
TUJUAN PERNIKAHAN DALAM ISLAM
1. Untuk Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia nan Asasi
Pernikahan adalah fitrah manusia, maka jalan nan sah utk memenuhi kebutuhan ini adalah dgn aqad nikah (melalui jenjang pernikahan), bukan dgn cara nan kotor & menjijikan, seperti cara-cara orang sekarang ini dgn berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, & lain sebagainya nan telah menyimpang & diharamkan oleh Islam.
2. Untuk Membentengi Akhlaq nan Mulia
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَ أَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَ مَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِا لصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai, para pemuda Barangsiapa diantara kalian berkemampuan utk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, & lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa nan tak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya”. (*5)
3. Untuk Menegakkan Rumah Tangga nan Islami
Dalam Al Qur'an disebutkan, bahwa Islam membenarkan adanya thalaq (perceraian), jika suami isteri sudah tak sanggup lagi menegakkan batas-batas Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dlm ayat berikut: “Thalaq (yang dapat dirujuki) 2 kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dgn cara ma'ruf atau menceraikan dgn cara nan baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu nan telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-isteri) tak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tak ada dosa atas keduanya tentang bayaran nan diberikan oleh isteri utk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa nan melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang nan zhalim”. [Al Baqarah:229].
Jadi tujuan nan luhur dari pernikahan adalah agar suami isteri melaksanakan syari'at Islam dlm rumah tangganya. Hukum ditegakkannya rumah tangga berdasarkan syari'at Islam adalah wajib. Oleh karena itu, setiap muslim & muslimah harus berusaha membina rumah tangga nan Islami. Ajaran Islam telah memberikan beberapa kriteria tentang calon pasangan nan ideal, agar terbentuk rumah tangga nan Islami. Di antara kriteria itu ialah harus kafa'ah & shalihah.
Kafa'ah Menurut Konsep Islam
Kafa'ah (setaraf, sederajat) menurut Islam hanya diukur dgn kualitas iman & taqwa serta akhlaq seseorang, bukan diukur dgn status sosial, keturunan & lain-lainnya.
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki & seorang wanita & menjadikan kamu berbangsa-bangsa & bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang nan paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang-orang nan paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. [Al Hujurat:13].
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لاِ َرْبَعٍِ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَ لِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Seorang wanita dinikahi karena 4 hal. Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, & agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita nan taat agamanya (ke-Islamannya), niscaya kamu akan beruntung”. (*6)
Memilih nan Shalihah
Orang nan hendak menikah, harus memilih wanita nan shalihah, demikian pula wanita harus memilih laki-laki nan shalih. Allah berfirman:
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُوْلاَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقُُ كَرِيمُُ
“…Dan wanita-wanita nan baik utk laki-laki nan baik, & laki-laki nan baik utk wanita-wanita nan baik pula…” [An Nuur:26].
Menurut Al Qur'an, wanita nan shalihah adalah:
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ
“Wanita nan shalihah ialah nan ta'at kepada Allah lagi memelihara diri bila suami tak ada, sebagaimana Allah telah memelihara (mereka)”. [An Nisaa:34].
Menurut Al Qur'an & Al Hadits nan shahih, diantara ciri-ciri wanita nan shalihah ialah:
a. Ta'at kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala & ta'at kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. 
b. Ta'at kepada suami & menjaga kehormatannya di saat suami ada atau tak ada, serta menjaga harta suaminya. 
c. Menjaga shalat nan 5 waktu tepat pada waktunya. 
d. Melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan. 
e. Banyak shadaqah dgn seizin suaminya. 
f. Memakai jilbab nan menutup seluruh auratnya & tak utk pamer kecantikan (tabarruj) seperti wanita jahiliyah (Al Ahzab:33). 
g. Tidak berbincang-bincang & berdua-duaan dgn laki-laki nan bukan mahramnya, karena nan ketiganya adalah syetan. 
h. Tidak menerima tamu nan tak disukai oleh suaminya. 
i. Ta'at kepada kedua orang tua dlm kebaikan. 
j. Berbuat baik kepada tetangganya sesuai dgn syari'at. 
k. Mendidik anak-anaknya dgn pendidikan Islami.
Bila kriteria ini dipenuhi, insya Allah rumah tangga nan Islami akan terwujud.
4. Untuk Meningkatkan Ibadah Kepada Allah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
. . وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ ؟ قَالَ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي الْحَرَامِ، أَكَانَ عَلَيْهِ فِيْهَا وِزْرٌ ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرًا. . .
“. . . Dan di hubungan suami-isteri salah seorang diantara kalian adalah sedekah Mendengar sabda Rasulullah, para sahabat keheranan & bertanya: “Wahai, Rasulullah. Apakah salah seorang dari kita ini memuaskan syahwatnya (kebutuhan biologisnya) terhadap isterinya akan mendapat pahala?” Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: “Bagaimana menurut kalian, jika mereka (para suami) bersetubuh dgn selain isterinya, bukankah mereka berdosa?” Jawab para sahabat: “Ya, benar”. Beliau bersabda lagi: “Begitu pula kalau mereka bersetubuh dgn isterinya (di tempat nan halal), mereka akan memperoleh pahala”(*7)
5. Untuk Memperoleh Keturunan nan Shalih
Tujuan pernikahan diantaranya ialah utk melestarikan & mengembangkan Bani Adam, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ
“Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami istri & menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak & cucu-cucu, & memberimu rezeki nan baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada nan bathil & mengingkari nikmat Allah ? ” [An Nahl:72].
Yang terpenting lagi dlm pernikahan bukan hanya sekedar memperoleh anak, tetapi berusaha mencari & membentuk generasi nan berkualitas, yaitu mencari anak nan shalih & bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ
“… & carilah apa nan telah ditetapkan Allah utk kalian (yaitu anak)”. [Al Baqarah:187].
Yang dimaksud dgn ayat ini, “Hendaklah kalian mencampuri isteri kalian & berusaha utk memperoleh anak”. (*8)
TATA CARA PERNIKAHAN DALAM ISLAM
1. Khitbah (Peminangan)
Seorang muslim nan akan menikahi seorang muslimah, hendaknya ia meminang terlebih dahulu, karena dimungkinkan ia sedang dipinang oleh orang lain. Dalam hal ini Islam melarang seorang muslim meminang wanita nan sedang dipinang oleh orang lain.
2. Aqad Nikah
Dalam aqad nikah ada beberapa syarat, rukun & kewajiban nan harus dipenuhi:
-. Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai. 
-. Adanya ijab qabul. 
-. Adanya mahar
-. Adanya wali. 
-. Adanya saksi-saksi.
3. Walimah
Walimatul 'urusy (pesta pernikahan) hukumnya wajib & diusahakan sesederhana mungkin & dlm walimah hendaknya diundang pula orang-orang miskin. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
. . . أَوْلِمْ وَلَوْبِشَاةٍ
“Selenggarakanlah walimah meskipun hanya dgn menyembelih seekor kambing”. (*9)
SEBAGIAN PELANGGARAN nan TERJADI DALAM PERNIKAHAN nan WAJIB DIHINDARKAN (DIHILANGKAN)
1. Pacaran. 
2. Tukar cincin. 
3. Menuntut mahar nan tinggi. 
4. Mengikuti upacara adat. 
5. Mencukur jenggot bagi laki-laki & mencukur alis mata bagi wanita. 
6. Kepercayaan terhadap hari baik & sial dlm menentukan waktu pernikahan. 
7. Mengucapkan ucapan selamat ala kaum jahiliyah. 
8. Adanya ikhtilath (bercampurnya, berbaurnya antara laki-laki & wanita). 
9. Musik, nyanyi & pelanggaran-pelanggaran lainnya.
Marilah kita ini berupaya utk melaksanakan pernikahan secara Islami & membina rumah tangga nan Islami, serta kita ini berusaha meninggalkan aturan, tata-cara, upacara & adat-istiadat nan bertentangan dgn Islam. Jangan meniru cara-cara orang-orang kafir & orang-orang nan banyak berbuat dosa & maksiat.
HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI-ISTERI
Anjuran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam utk menikah mengandung berbagai manfaat, sebagaimana nan dijelaskan oleh para ulama, diantaranya:
1. Dapat menundukkan pandangan,
2. Akan terjaga kehormatan. 
3. Terpelihara kemaluan dari beragam maksiat. 
4. Akan ditolong & dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 
5. Dapat menjaga syahwat, nan merupakan salah 1 sebab dijaminnya ia utk masuk ke dlm surga. 
5. Mendatangkan ketenangan dlm hidup. 
6. Akan terwujud keluarga nan sakinah, mawaddah wa rahmah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan Allah, ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung & merasa tentram kepadanya. Dan dijadikanNya diantara kamu rasa kasih & sayang. Sesungguhnya pada nan demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum nan berpikir”. [Ar Ruum:21].
7. Akan mendapatkan keturunan nan shalih. 
8. Menikah dapat menjadi sebab semakin banyaknya jumlah ummat Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Ada sebagian kaum muslimin nan telah menikah & dikaruniai oleh Allah seorang anak atau 2 orang anak, kemudian mereka membatasi kelahiran, tak mau mempunyai anak lagi dgn berbagai alasan nan tak syar'i. Perbuatan mereka telah melanggar syari'at Islam. Fatwa-fatwa ulama Ahlus Sunnah Wal Jama'ah telah menjelaskan dgn tegas, bahwa membatasi kelahiran atau dgn istilah lainnya “keluarga berencana”, hukumnya adalah haram.
Sesungguhnya banyak anak itu banyak manfaatnya. Diantara manfaat dgn banyaknya anak & keturunan, adalah:
1. Di dunia mereka akan saling menolong dlm kebajikan. 
2. Mereka akan membantu meringankan beban orang tuanya. 
3. Do'a mereka akan menjadi amal nan bermanfaat ketika orang tuanya sudah tak bisa lagi beramal (telah meninggal dunia). 
4. Jika ditaqdirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala anaknya meninggal ketika masih kecil, insya Allah, ia akan menjadi syafa'at (penolong) bagi orang tuanya nanti di akhirat. 
5. Anak akan menjadi hijab (pembatas) dirinya dgn api neraka, manakala orang tuanya mampu menjadikan anak-anaknya sebagai anak nan shalih & shalihah. 
6. Dengan banyaknya anak, akan menjadikan salah 1 sebab bagi kemenangan kaum muslimin ketika dikumandangkan jihad fi sabilillah, karena jumlahnya nan sangat banyak. 
7. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bangga dgn jumlah umatnya nan banyak. Apabila seorang muslim cinta kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka hendaklah ia mengikuti keinginan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam utk memperbanyak anak, karena Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bangga dgn banyaknya ummatnya pada hari kiamat.
Bila Belum Dikaruniai Anak
Apabila ditaqdirkan Allah Subhanahu wa Ta'ala, sepasang suami-isteri sudah menikah sekian lama, namun belum juga dikaruniai anak, maka janganlah ia berputus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hendaknya ia terus berdo'a sebagaimana Nabi Ibrahim Alaihissallam & Zakaria Alaihissallam telah berdo'a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, sampai Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabulkan do'a mereka. Dan hendaknya bersabar & ridha dgn qadha' & qadar nan Allah tentukan, serta meyakini bahwa semua itu ada hikmahnya.
Do'a mohon dikaruniai keturunan nan baik & shalih terdapat dlm Al Qur'an, yaitu:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) nan termasuk orang-orang nan shalih”. [Ash Shaafat: 100]. 
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami & keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), & jadikanlah kami imam bagi orang-orang nan bertaqwa”. [Al Furqaan: 74].
رَبِّ لاَ تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ
“Ya Rabbku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri & Engkaulah warits nan paling baik”. [Al Anbiyaa: 89].
Mudah-mudahan Allah l memberikan keturunan nan shalih kepada pasangan suami-isteri nan belum dikaruniai anak.
HAK ISTERI nan HARUS DIPENUHI SUAMI
Diantara kewajiban-kewajiban & hak-hak tersebut adalah seperti nan terdapat di dlm sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dari sahabat Muawiyah bin Haidah bin Mu'awiyah bin Ka'ab Al Qusyairy Radhiyallahu 'anhu (*10), ia berkata: Saya telah bertanya,”Ya Rasulullah, apa hak seorang isteri nan harus dipenuhi oleh suaminya?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:
أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِي الْبَيْتِ
1. Engkau memberinya makan apabila engkau makan,
2. Engkau memberinya pakaian apabila engkau berpakaian,
3. Janganlah engkau memukul wajahnya, dan
4. Janganlah engkau menjelek-jelekkannya, dan
5. Janganlah engkau tinggalkan dia melainkan di dlm rumah (jangan berpisah tempat tidur melainkan di dlm rumah). (*11)
Mengajarkan Ilmu Agama
Di samping hak di atas harus dipenuhi oleh seorang suami, seorang suami juga wajib mengajarkan ajaran Islam kepada isterinya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لاَ يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang nan beriman, peliharalah dirimu & keluargamu dari api neraka nan bahan bakarnya (terbuat dari) manusia & batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat nan kasar lagi keras, nan tak mendurhakai (perintah) Allah terhadap apa nan diperintahkanNya kepada mereka & selalu mengerjakan apa nan diperintahkan”. [At Tahrim: 6].
Untuk itulah, kewajiban sang suami utk membekali dirinya dgn menuntut ilmu syar'i (thalabul ‘ilmi) dgn menghadiri majelis-majelis ilmu nan mengajarkan Al Qur'an & As Sunnah sesuai dgn pemahaman Salafush Shalih –generasi nan terbaik, nan mendapat jaminan dari Allah– sehingga dgn bekal tersebut, serang suami mampu mengajarkannya kepada isteri, anak & keluarganya. Jika ia tak sanggup mengajarkan mereka, seorang suami harus mengajak isterinya menuntut ilmu syar'i & menghadiri majelis-majelis taklim nan mengajarkan tentang aqidah, tauhid mengikhlaskan agama kepada Allah, & mengajarkan tentang bersuci, berwudhu', shalat, adab & lainnya.
HAK SUAMI nan HARUS DIPENUHI ISTERI
Ketaatan Istri Kepada Suaminya. 
Setelah wali (orang tua) sang isteri menyerahkan kepada suaminya, maka kewajiban taat kepada sang suami menjadi hak nan tertinggi nan harus dipenuhi, setelah kewajiban taatnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala & RasulNya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَِ حَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Kalau seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya”. (*12)
Sang isteri harus taat kepada suaminya, dlm hal-hal nan ma'ruf (mengandung kebaikan dlm hal agama), misalnya ketika diperintahkan utk shalat, berpuasa, mengenakan busana muslimah, menghadiri majelis ilmu, & bentuk-bentuk perintah lainnya sepanjang tak bertentangan dgn syari'at. Hal inilah nan justru akan mendatangkan surga bagi dirinya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَةِ شَاءَتْ
“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat nan 5 waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, menjaga kehormatannya & dia taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk surga dari pintu surga mana saja nan dia kehendaki”. (*13)
Istri Harus Banyak Bersyukur & tak Banyak Menuntut. 
Perintah ini sangat ditekankan dlm Islam, bahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala tak akan melihatnya pada hari kiamat, manakala sang isteri banyak menuntut kepada suaminya & tak bersyukur kepadanya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أُرِيْتُ النَّارَ، فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ. يَكْفُرْنَ. قِيْلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللهِ ؟ يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئاً، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطٌّ
“Sesungguhnya aku diperlihatkan neraka & melihat kebanyakan penghuni neraka adalah wanita. ” Sahabat bertanya: “Sebab apa nan menjadikan mereka paling banyak menghuni neraka?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: “Dengan sebab kufur”. Sahabat bertanya: “Apakah dgn sebab mereka kufur kepada Allah?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: “(Tidak), mereka kufur kepada suaminya & mereka kufur kepada kebaikan. Seandainya seorang suami dari kalian berbuat kebaikan kepada isterinya selama setahun, kemudian isterinya melihat sesuatu nan jelek pada diri suaminya, maka dia mengatakan ‘Aku tak pernah melihat kebaikan pada dirimu”. (*14)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لاَيَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَتَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِي عَنْهُ
“Sesungguhnya Allah tak akan melihat kepada seorang wanita nan tak bersyukur kepada suaminya, & dia selalu menuntut (tidak pernah merasa cukup)”. (*15)
Isteri Wajib Berbuat Baik Kepada Suaminya
Perbuatan ihsan (baik) seorang suami harus dibalas pula dgn perbuatan nan serupa atau nan lebih baik. Isteri harus berkhidmat kepada suaminya & menunaikan amanah mengurus anak-anaknya menurut syari'at Islam nan mulia. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mewajibkan kepada dirinya utk mengurus suaminya, mengurus rumah tangganya, mengurus anak-anaknya.
Nasihat Untuk Suami-Isteri
1. Bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dlm keadaan bersama maupun sendiri, di rumahnya maupun di luar rumah. 
2. Wajib menegakkan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala & menjaga batas-batas Allah Subhanahu wa Ta'ala di dlm keluarga. 
3. Melaksanakan kewajiban terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala & minta tolong kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Laki-laki wajib mengerjakan shalat 5 waktu di masjid secara berjama'ah. Dan perintahkan anak-anak utk shalat pada waktunya. 
4. Menegakan shalat-shalat sunnah, terutama shalat malam. 
5. Perbanyak berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bacalah Al Qur'an setiap hari, terutama surat Al Baqarah. Bacalah pula do'a & dzikir nan telah diajarkan oleh Rasululah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ingatlah, bahwa syetan tak senang kepada keutuhan rumah tangga & syetan selalu berusaha mencerai-beraikan suamiisteri. Dan ajarkan anak-anak utk membaca Al Qur'an & dzikir. 
6. Bersabar atas musibah nan menimpa & bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala atas segala nikmatNya. 
7. Terus-menerus berintropeksi antara suami-isteri. Saling menasihati, tolong menolong & mema'afkan serta mendo'akan. Jangan egois & gengsi. 
8. Berbakti kepada kedua orang tua. 
9. Mendidik anak-anak agar menjadi anak-anak nan shalih, ajarkan tentang aqidah, ibadah & akhlak nan benar & mulia. 
10. Jagalah anak-anak dari media nan merusak aqidah & akhlak.
NASIHAT KHUSUS UNTUK SUAMI
Wahai para Suami
1. Apa nan memberatkanmu –wahai hamba Allah– utk tersenyum di hadapan isterimu ketika engkau masuk menemuinya, agar engkau memperoleh ganjaran dari Allah Subhanahu wa Ta'ala ?
2. Apa nan membebanimu utk bermuka cerah ketika engkau melihat isteri & anak-anakmu? Engkau akan dapat pahala?
3. Apa sulitnya apabila engkau masuk ke rumah sambil mengucapkan salam secara sempurna: “Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh” agar engkau memperoleh 3 puluh kebaikan?
4. Apa nan kira-kira akan menimpamu jika engkau berkata kepada isterimu dgn perkataan nan baik, sehingga dia meridhaimu, sekalipun dlm perkataanmu tersebut agak sedikit dipaksakan?
5. Apakah menyusahkanmu -wahai hamba Allah- jika engkau berdo'a: “Ya Allah Perbaikilah isteriku, & curahkan keberkahan padanya. “
6. Tahukah engkau bahwa ucapan nan lembut merupakan shadaqah?
NASIHAT UNTUK ISTERI
Wahai para isteri 
1. Apakah menyulitkanmu, jika engkau menemui suamimu ketika dia masuk ke rumahmu dgn wajah nan cerah sambil tersenyum manis?
2. Berhiaslah utk suamimu & raihlah pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala, sesungguhnya Allah itu indah & menyukai keindahan, gunakanlah wangi-wangian Bercelaklah Berpakaianlah dgn busana terindah nan kau miliki utk menyambut kedatangan suamimu. Ingat, janganlah sekali-kali engkau bermuka muram & cemberut di hadapannya. 
3. Jadilah engkau seorang isteri nan memiliki sifat lapang dada, tenang & selalu ingat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dlm segala keadaan. 
4. Didiklah anak-anakmu dgn baik, penuhilah rumahmu dgn tasbih, takbir, tahmid & tahlil serta perbanyaklah membaca Al Qur'an, khususnya surat Al Baqarah, karena surat tersebut dapat mengusir syetan
5. Bangunkanlah suamimu utk mengerjakan shalat malam, anjurkanlah dia utk berpuasa sunnah & ingatkanlah dia kembali tentang keutamaan berinfak, serta janganlah melarangnya utk bersilaturahim. 
6. Perbanyaklah istighfar utk dirimu, suamimu, orang tuamu, & semua kaum muslimin, & berdo'alah selalu agar diberikan keturunan nan shalih & memperoleh kebaikan dunia & akhirat, & ketahuilah bahwasannya Rabb-mu Maha Mendengar do'a. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
وَقَالَ رَبُّكُمْ ادعُوْنِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Dan Rabb kalian berfirman: “Berdo'alah kepadaKu, niscaya Aku akan mengabulkan utk kalian”. [Al Mu'min:60].
Kepemimpinan Laki-laki Atas Wanita
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللاّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّ&#157 
sumber: www.almanhaj.or.id penulis Al Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas tags: Pernikahan Dalam Islam, Agama Islam, Al Qur, Memilih Pasangan

Rabu, 06 November 2013

Kunci Takwa Ada di Hati

Pada hakikatnya, kesuksesan dimensi duniawi dan ukhrawi adalah milik orang-orang yang bertakwa. Allah menyebutnya mafaza (kemenangan). “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan” (An-Naba’: 31). Jika menelaah ayat-ayat dan hadits nabi, akan ditemukan isyarat kuat bahwa kehidupan adalah sebuah pertarungan. Manusia berhadapan dengan hawa nafsu, setan dan antek-anteknya. Antara kemauan kebajikan dan kemauan jahat. Pertarungan ini memang tak selalu kontak fisik. Bahkan lebih sering non fisik dan tidak kasat mata. Tapi terkadang lebih seru, alot dan awet.
Kemenangan hakiki memang hanya di akhirat. Meski terkadang kemenangan duniawi menandai kemenangan akhirat. Kemenangan duniawi yang hakiki bagi orang bertakwa adalah ketika ia berhasil menaklukkan hawa nafsu. Kemenangan sesungguhnya adalah ketika berhasil mengendalikan hati dan menata perilaku dan tindakan sesuai dengan tuntutan Allah dan Rasul-Nya.
Di balik sengitnya pertarungan, di balik kemenangan, tersimpan kunci pembukanya. Sebab setiap kemenangan pasti ada kuncinya. Kunci takwa itu di hati. Taklukkan hati, kendalikan kalbu. Fikiran, kemauan, tindakan, dan perilaku akan mengikut. Hati ibarat panglima. Jika panglima dikendalikan, pasukan akan mengikut. Hati ibarat cermin. Jika jernih, pantulan perilaku akan terlihat terang dan bersih. Maka pekerjaan menaklukkan hati adalah kerja keras sebab kemenangan tak mungkin tanpa kerja keras.
Rasulullah bersabda, “Ingatlah bahwa dalam jasad manusia ada segumpal daging. Jika ia baik maka baiklah seluruh jasad dan jika rusak, rusaklah seluruh jasad. Ingatlah ia (segumpal daging itu) adalah hati,” (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah)
Jika takwa berada di puncak mercusuar, untuk mencapainya mesti melalui anak tangga-anak tangga. Kaum sufi menyebut anak tangga pertama takwa itu dengan takhally (pembersihan), sebelum tangga berikutnya tahally (mengiasi diri) dan tajally (tanda-tanda lahir kebaikan). Lebih tegas, ulama sekaliber Ibnu Qayyim, Ibnu Rajab dan Al-Ghazali dan lainnya menyebut penentu takwa itu dengan langkah tazkiyatunafs (penyucian diri). Bahkan tujuan diutusnya RasulullahSallallu Alaihi wa Sallam dan pensyariatan ibadah dalam Islam sesungguhnya adalah membersihkan hati dan amal dari yang mengotori dan merusaknya. (Al-Baqarah: 151).
Tak sedikit orang mengasuransikan dan menggaransikan hari tuanya ke perusahaan asuransi jiwa. Namun lupa menggaransi nasibnya di akhirat. Tapi adakah? Seandainya ada tentu kebersihan hati menjadi garansi keselamatan manusia di akhirat. Karena orang yang bertakwa adalah pemegang garansi kebersihan hati.
 “(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa,” (Asy-Syuara’: 88-90).
Adalah Abdullah bin Amr bin Al-Ash yang pernah mendapatkan garansi sebagai ahli surga Rasulullah Sallallu Alaihi wa Sallam. Para sahabat pun penasaran. Diutuslah seorang sahabat untuk menginap bersama sang pemegang garansi. Agar bisa digali faktornya dan bisa ditiru. Satu dan dua malam dilalui. Abdullah bin Amr bin Ash tidak memiliki kelebihan menonjol, menurut sahabat yang menginap. Shalat malamnya tidak lebih dari sahabat yang lain. Ia pun mengungapkan tujuannya menginap dan menyakan penyebab ia masuk dalam ahli surga. Abdullah bin Amr bin Al-Ash menjawab, “Saya tidak pernah tidur semalaman sementara di hati saya ada kedengkian terhadap saudara saya,”
Ternyata bukan hanya di akhirat, kebersihan hati adalah jaminan kelanggengan hubungan baik antar sesama saudara. Rasulullah Sallallu Alaihi wa Sallam, bersabda, “Mukmin adalah saudara mukmin lainnya. Tidak boleh ia membiarkannya dan menganiayanya. Jangan kalian saling dengki, jangan saling tidak menyapa, jangan memutus hubungan dan jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. Setiap Muslim haram darah, harta dan kehormatannya atas Muslim lainnya. Jangan seseorang melamar perempuan yang dilamar saudaranya, atau membeli barang yang dibeli saudaranya. Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik kalian dan bentuk kalian namun melihat kepada hati kalian. Takwa itu ada di sini. Rasulullah saw mengisyaratkan tangannya ke dadanya dan mengatakannya sebanyak tiga kali. (HR. Al-Baihaqi).
Kewajiban utama seorang Muslim adalah membersihkan hatinya dari segala penyakit dan kotoran. Syariat dalam Islam dari shalat wajib dan sunnah, dzikir, tilawah, tadabbur ayat, zakat, puasa, haji, umrah dan lain-lain adalah sarana efektif yang diberikan Allah untuk membersihkan hati. Tazkiyatunafs dan ibadah adalah satu paket. Jika ingin membersihkan hati, lakukan dengan ibadah. Jika hati masih berkarat, mungkin ibadahnya yang bermasalah.
Banyak penyakit rohani yang bisa merusak hati. Sebagiannya bahkan bisa menggerogoti amal. Dari sekian penyakit hati yang berhaya itu ada dua; yang merusak hubungannya dengan Allah dan yang merusak hubungannya dengan manusia.
Jenis penyakit hati di antaranya ragu-ragu kepada Allah dan syariat-Nya, suudzon kepada Allah (berfikiran negatif terhadap Allah), riya (beribadah karena selain Allah), sum’ah, tidak menerima keputusan Allah, pesimis kepada rahmat Allah, ketergantungan kepada dunia. Penyakit di atas sangat berbahaya. Sebab sebagiannya menyebabkan kekufuran seperti ragu-ragu kepada Allah dan syariat-Nya. Sebagiannya lagi merusak dan menggugurkan amal seperti riya dan sum’ah karena termasuk perbuatan syirik. Termasuk ketergantungan kepada dunia.
“dan Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu Termasuk orang-orang yang merugi. (Az-Zumar: 65)
Penyakit hati jenis kedua yang merusak hubungan antara sesama saudara banyak ragamnya. Yang paling berbahaya adalah dengki, kebencian, hasad, dendam, suuddzon (negative thingking), curiga, takabur, ujub dan lain-lain. Hubungan sesama saudara tidak akan pernah terbangun baik selama penyakit-penyakit di atas bercokol dalam hati. Krisis hubungan antar manusia dari intrik, persengketaan antara saudara atau tetangga bermula dari hati yang bermasalah. Hubungan antara manusia yang sehat tercipta dari hati yang sehat dan jauh dari penyakit di atas.
Di atas itu semua, hati tidak selalu stabil dalam kebaikan. “Summiyal qalbu litaqollubihi” (disebut hati karena ia berbolak-balik kondisinya). Di bulan puasa dan Idul Fitri mungkin seseorang hatinya bersih. Besok belum tentu. Di masjid hati bisa bersih, bisakah di kantor demikian? Ketika ekononomi dan sosial stabil, hati bisa bersih. Tapi ketika menghadapi guncangan masihkah bisa bersih? Dan demikian seterusnya.
Rasulullah Sallallu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya hati berada di antara dua jari dari jari-jari Allah yang Dia bolak balik sesuai kehendak-Nya,”
Akhirnya, mari lantunkan selalu doa yang sering diucapkan Rasulullah saw,
“Ya Allah Yang Membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami dalam diin-Mu (Islam)” (HR. Tirmidzi) (by; Ahmad Tarmudli Basyir)
- See more at: http://spiritislam.net/index.php/2012/03/20/kunci-takwa-ada-di-hati/#sthash.3SRfSp9k.dpuf

Minggu, 03 November 2013

RAHASIA ZIKIR

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munafiqun: 9)
 
Mengingat Allah (Dzikrullah) merupakan salah satu anjuran yang sangat ditekankan dalam Islam dan merupakan bentuk nyata dari penghambaan kita kepada Allah Swt. Dzikrullah (mengingat Allah) merupakan amalan yang sangat agung. Ia merupakan sebab diturunkannya berbagai nikmat, Penolak segala bala’ dan musibah. Dzikir juga merupakan sebab kuatnya hati dan penyejuk hati manusia.
 
Aktifitas ini mempunyai manfaat yang sangat besar. Baik dalam kehidupan duniawi maupun ukhrawi. Begitu juga sebaliknya, seorang yang lalai dalam mengingat Allah tentu akan meraih kerugian yang tak terhinggah. Allah Swt menggolongkan orang-orang yang lalai dalam mengingat-Nya sebagai kelompok yang rugi.
 
Hakikat Dzikir
 
Dzikir bukan hanya sebuah tutur kata dan lafadz yang keluar dari lisan, melainkan suatu hakikat yang mengakar dalam jiwa sehingga dapat menjadikan manusia terhubung dengan sang pencipta, yaitu Allah Swt. Inti dari mengingat Allah adalah hati dan jiwa kita. Yaitu dengan mengingat Allah Swt, manusia merasakan kehadiran dan Kebesaran-Nya. Ucapan dzikir yang keluar dari lisan seseorang  merupakan reaksi dari kontak  yang terjadi antara  jiwa manusia bersama Tuhan-Nya.
 
Manfaat Dzikrullah
 
Sebagaimana yang telah disinggung di atas. Dzikrullah merupakan aktifitas mulia yang menyimpan segudang  manfaat. Diantaranya sebagai berikut :
 
1.      Menerangi hati dan pikiran
 
Mengingat Allah atau Dzikrullah dapat menerangi hati dan akal pikiran. Terkait hal ini Imam Ali as, berkata, “مَن ذَکَّرَ اللهُ سُبحانَهُ اَحیَا الله قَلبَهُ وَ نَوِّرَ عَقلَهُ وَ لُبَّهُ”, barang siapa yang berdzikir dan mengingat Allah, Allah Swt akan menghidupkan hatinya serta menerangi akal dan pikirannya.(1)
 
2.      Kemenangan dan kekuatan
 
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.(QS. 8:45)
 
Dalam ayat ini Allah Taala memerintahkan kepada kaum Muslimin apabila mereka menjumpai segolongan dari pasukan musuh supaya meneguhkan hati dan selalu menyebut nama Allah dengan banyak berzikir agar mereka mencapai kejayaan dan kemenangan. Hal ini merupakan suatu pokok kekuatan yang menyebabkan kemenangan dalam setiap perjuangan.
Dengan meningat Allah yang maha besar serta meyakini bahwa kemenangan itu berada di tangan-Nya dan Allah akan menolong kaum Muslimin, maka seorang Muslim akan optimis dan mengerahkan segala kemampuannya dalam menaklukkan musuhnya. 
 
Dalam kitab Mizanul-hikmah, Imam Ali bin Abi Thalib menyeru kita untuk sedikit berbicara dan banyak mengingat Allah Swt dalam duel melawan musuh.(2)
 
3.      Allah Swt akan mengingat kita
 
ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah     kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.(QS. 2:152)
 
ayat diatas  menjelaskan salah satu dari manfaat dzikir. Apabila kita senantiasa mengingat Allah, maka tentu Allah Swt senantiasa mengingat kita dan apabila kita dilanda musibah, maka Allah Swt tidak akan lupa untuk menolong kita selaku hambanya yang lemah.
 
Dalam kitab Biharul-anwar, Imam Ja'far al-Sadiq as mengatakan bahwa Allah Swt bersabda kepada hamba-hambanya demikian, “ wahai anak adam, ingatlah aku dalam hati dan jiwamu sehingga aku juga mengingatmu dalam hati dan jiwaku, ingatlah aku dalam keramaian sehingga aku mengingatmu dalam keramaian”.(3)
 
4.      Penyucian Jiwa
 
Mengingat Allah merupakan perantara penyucian jiwa. oleh karena itu, hati manusia yang selalu terkontaminasi oleh berbagai keburukan dapat dibersihkan melalui berdzikir. Berkaitan dengan hal ini, Imam Ali bin Abi Thalib as dalam nasehatnya kepada putranya Imam Hasan Mujtaba berkata, “ putraku,aku menasehatimu untuk  senantiasa bertakwa kepada Allah Swt dan membersihkan jiwamu melalui Dzikrullah”.(4)
 
5.      Mencegah tipu daya syaitan
 
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.(QS. 7:201)
 
Ayat ini mengajarkan kita perihal keharusan berlindung kepada Allah swt dari godaan syaitan. Ayat ini juga menjelaskan kepada kita bahwa Senjata yang paling ampuh mengusir syaitan ialah ingat dan muraqabah kepada Allah swt di dalam segala keadaan. Ingat selalu kepada Allah itu menanamkan ke dalam jiwa cinta kebenaran dan kebajikan, melemahkan kecenderungan negatif/buruk dalam jiwa sehingga dapat menjadi pencegah dari tipu daya syaitan yang terkutuk.
 
Berkenaan dengan hal ini, Dalam kitab Ghurarul Hikam, Imam Ali bin Abi Thalib as mengatakan bahwasannya mengingat  Allah Swt  dapat menyebabkan syaitan terpenjara dan melindungi diri kita dari godaan serta tipu daya syaitan.

6. Ketenangan jiwa  
 
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (surat al-Ra'ad ayat 28)
 
Ketenangan dan kenyamanan jiwa adalah sesuatu yang dikejar oleh semua manusia tanpa terkecuali. Dan dzikrullah atau mengingat Allah merupakan jalan utama dalam mendapatkan ketenangan dan ketentraman jiwa.
 
7.      Ampunan Allah

laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.(QS. 33:35)

Rabu, 30 Oktober 2013

CARA-CARA MEMIMPIN HATI

Pertama:
Ada ilmu tentang hati atau roh. Tujuannya untuk mengenal sifat-sifat hati yang positif dan yang negatif. Kalau tidak ada ilmu tentangnya, sifat-sifat mazmumah tidak akan dapat dikesan. Apalagi untuk ditumpaskan. Begitu juga dengan sifat-sifat mahmudahnya tidak akan dapat dikesan untuk disuburkan.
Kedua:
Perlu latihan-latihan praktikal melalui:
a. Mujahadatunnafsi
b. Istiqamah
c. Tafakur
d. Bergaul dengan orang yang baik-baik
e. Pimpinan mursyid
A. MUJAHADATUNNAFSI
Mujahadatun nafsi itu, di antara caranya ialah dengan menem-puh tiga peringkat iaitu:
1. Takhalli – mengosongkan, membuang atau menyu-cikan daripada sifat-sifat yang keji.
2. Tahalli  - mengisi atau menghiasi dengan sifat-sifat terpuji.
3. Tajalli  - terasa kebesaran dan kehebatan Allah atau sentiasa rasa bertuhan.
Pada ketiga-tiga peringkat ini hendaklah dilakukan dengan mengadakan latihan yang dinamakan riadatunnafsi( Yakni latihan melawan atau memerangi semua kehendak-kehendak hati yang jahat, yang didorong oleh hawa nafsu. Cara memeranginya ialah melalui latihan-latihan menolak kemahuan jahat yang ditimbulkan oleh nafsu. Langkah-langkahnya adalah seperti berikut:
1. TAKHALLI
Di peringkat takhalli, kita mesti melawan dan membuang dengan memaksa terus-menerus semua kehendak-kehendak nafsu yang rendah (jahat) dan dilarang oleh Allah. Selagi kita tidak memaksa diri untuk membenci, memusuhi dan membuangnya jauh-jauh secara terus-menerus dari diri kita, selagi itulah nafsu jahat akan sentiasa menguasai dan memperhambakan kita.
Rasulullah SAW bersabda: “Sejahat-jahat musuh engkau ialah nafsu engkau yang terletak di antara dua lambung engkau.” (Riwayat Al Baihaqi)
Kerana kejahatannya itu, telah ramai manusia yang ditipu dan diperdayakan untuk tunduk dan bertuhankan hawa nafsu. Ini ada diceritakan oleh Allah dengan firman-Nya:  “Apakah engkau tidak perhatikan orang-orang yang mengambil hawa nafsu menjadi Tuhan, lalu dia dibiarkan sesat oleh Allah berdasarkan ilmu-Nya.” (Al Jasiyah: 23)
Apabila nafsu jahat itu dibiarkan menguasai hati, iman tidak akan ada tempatnya. Bila iman tidak ada, manusia bukan lagi menyembah Allah, Tuhan yang sebenarnya tetapi dia akan menyembah hawa nafsu. Oleh itu usaha melawan hawa nafsu janganlah dipermudah-mudah dan dianggap ringan. Ia adalah satu jihad yang besar. Ingatlah sabda Rasulullah SAW pada Sahabat-Sahabat ketika baginda berangkat pulang dari satu medan peperangan:“Kita baru balik dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang besar.” Bila para Sahabat bertanya: “Peperangan apakah itu?” Baginda berkata: “Peperangan melawan nafsu.” (Riwayat Al Baihaqi)
Melawan hawa nafsu sangatlah susah. Barangkali kalau nafsu itu ada di luar jasad kita dan boleh pula dipegang, senanglah kita picit dan membunuhnya sampai mati. Tetapi nafsu kita itu ada dalam diri kita, mengalir bersama aliran darah, menguasai seluruh tubuh kita. Bahkan ia menjadi sebahagian daripada jasad kita iaitu tubuh yang halus (jismul-latif). Kerana itu, tanpa kesedaran, kemahuan dan paksaan yang sungguh-sungguh, kita pasti dikalahkannya, kemudian ia peralatkan semahu-mahunya.
Untuk lebih jelas, disenaraikan peringkat-peringkat nafsu manusia. Sepertimana iman itu sendiri berperingkat-peringkat, begitu juga nafsu. Seseorang yang dapat mengalahkan nafsunya akan meningkat ke taraf nafsu yang lebih baik. Begitulah seterusnya sehingga nafsu manusia itu benar-benar dapat ditundukkan kepada perintah Allah.
Berikut ialah peringkat-peringkat nafsu yang saya senaraikan mengikut aturan tingkatannya:
i. Nafsu ammarah
ii. Nafsu lawwamah
iii. Nafsu mulhamah
iv. Nafsu mutmainnah
v. Nafsu radhiah
vi. Nafsu mardhiah
vii. Nafsu kamilah
Orang yang imannya di taraf iman ilmu, nafsunya berada di taraf yang kedua iaitu nafsu lawwamah. Kita mesti berjuang melawan nafsu itu hingga ia mahu tunduk sepenuhnya pada perintah Allah iaitu paling minima, nafsu mutmainnah. Nafsu mutmainnah ada pada orang yang memiliki iman ayan. Di peringkat inilah sahaja kita akan dapat menyelamatkan diri daripada seksaan Neraka. Ini dinyatakan sendiri oleh Allah SWT dengan firman-Nya:  “Hai jiwa yang tenang (nafsu mutmainnah), kembalilah pada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diredhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam Syurga-Ku.” (Al Fajr: 27-30)
Di sini diperpanjangkan lagi, bagaimana mahu membersihkan sifat-sifat mazmumah yang melekat pada hati itu. Sifat-sifat mazmumah yang melekat pada hati sepertilah daki yang melekat di badan. Kalau kita malas menggosoknya, akan bertambah menebal dan kuatlah ia bertapak di badan. Sebaliknya kalau kita rajin meneliti dan menggosoknya, maka akan bersihlah badan. Begitulah mazmumah (daki) hati. Jika kita rajin meneliti dan membersihkannya, maka bersihlah hati itu, malah ia bercahaya.
Bagaimanakah cara membuang sifat-sifat mazmumah dari hati? Tentulah tidak sesenang membuang daki di badan. Ia memerlukan latihan jiwa yang sungguh-sungguh, didikan yang berterusan dan tunjuk ajar yang berkesan dari guru mursyid. Yakni guru yang dapat membaca dan menyelami hati muridnya sehingga dia tahu apakah kekurangan dan kelebihan muridnya itu. Malangnya di akhir zaman ini kita ketiadaan guru mursyid. Ini dinyatakan sendiri oleh baginda Rasulullah bahawa di akhir zaman yang banyak adalah mubaligh tetapi sukar mencari guru mursyid.
Nasib kita hari ini umpama anak ayam kehilangan ibu. Tiada yang akan memandu kita melalui jalan kebaikan yang ingin kita tempuhi. Meraba-rabalah kita. Tetapi bagi orang yang mempunyai keazaman yang kuat untuk membersihkan jiwanya, dia tidak akan kecewa hanya kerana tiada orang yang boleh mendidik dan memimpinnya. Ia akan sanggup berusaha sendiri demi kesempurnaan diri dan hidupnya, sekadar yang termampu.
Untuk jelasnya dibuat beberapa contoh, cara membersihkan hati yang jahat ini:
Contoh 1: Rasa Bakhil
Biasanya nafsu mendorong kita bersifat bakhil. Sedangkan bakhil itu dikeji dan dibenci oleh Allah. Kerana Allah mahu kita jadi pemurah. Dalam sebuah Hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Si pemurah yang jahil lebih dicintai Allah daripada ahli ibadah yang bakhil.” (Riwayat Al Khatib)
Oleh itu kita mesti melawan kemahuan nafsu itu. Paksalah hati memberi atau menderma selalu, terutamanya waktu rasa bakhil itu menguasai diri. Yang paling baik, waktu duit tinggal sedikit, waktu itulah kita latih berkorban kerana waktu itulah nafsu rasa paling tercabar. Itulah waktu yang sebaik-baiknya untuk menundukkan nafsu. Sedangkan waktu kita kaya, fungsi menderma tidaklah sebagai riadah melawan nafsu tetapi perbuatan itu sekadar dapat pahala.
Katakanlah kita sedar bahawa pada diri kita ada sifat bakhil. Kita pun tahu bahawa Allah tidak suka pada orang yang bakhil. Kerana itu kita berazam untuk mengikis sifat yang terkutuk itu. Maka kita perlu cuba membiasakan dan membanyakkan sedekah, memberi hadiah dan lain-lain amalan yang berupa pemberian hak kita kepada orang lain. Agar sifat pemurah menjadi subur dan sebati seterusnya menjadi tabiat kita. Sebagai pendorongnya, kita hendaklah selalu membaca firman-firman Allah dan Hadis-Hadis yang banyak menganjurkan kita berkorban. Di sini dipetik beberapa ayat Al Quran dan Hadis untuk menunjukkan Allah dan Rasul-Nya sangat menganjurkan sifat pemurah itu.
Firman Allah SWT: “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkan sebahagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan sebahagian dari hartamu, memperolehi pahala yang besar.” (Al Hadid: 7)
Firman Allah SWT: “Siapakah yang mahu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya dan dia akan memperolehi pahala yang banyak.” (Al Hadid: 11)
Bersabda Rasulullah SAW: “Orang yang membantu perempuan janda dan orang miskin, samalah seperti berjihad di jalan Allah dan seperti bersolat malam tanpa letih, dan seperti berpuasa siang hari tanpa berbuka.” (Riwayat Bukhari)
Sebenarnya sifat bakhil bukan sahaja ada pada orang kaya dan berharta bahkan orang miskin pun tidak mustahil dihinggapi penyakit ini. Kerana itu dalam Islam bukan sahaja sedekah itu boleh dilakukan dengan harta benda tetapi boleh juga dilakukan dengan cara yang lain. Cara-cara ini dapat mendidik akhlak mulia bagi semua orang, memberi peluang pada orang miskin mengikis sifat bakhil selain turut mendapat pahala sedekah.
Allah SWT berfirman: “Perkataan yang baik dan pemberian maaf, lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (Al Baqarah: 263)
Rasulullah SAW pernah memberikan garis-garis panduan berikut dalam satu riwayat Hadisnya: “Segala perbuatan yang baik itu sedekah.” (Riwayat Ahmad dan Bukhari dari Jabir)
Sabda Rasulullah SAW: “Senyuman kepada saudaramu itu adalah sedekah.”(Mashabi Assunah)
Lagi Sabda Baginda: “Aku khabarkan kepadamu, yang lebih tinggi dari darjat puasa, sembahyang dan sedekah. “Khabarkanlah,” kata Sahabat-Sahabat. “Mendamaikan dua golongan yang bergaduh itu sedekah.” (Riwayat Ahmad dari Abi Dardak)
Dengan menggunakan panduan-panduan di atas, orang yang menyedari ada padanya sifat bakhil, bolehlah cuba melatih diri untuk mengubatnya. Bila ada saja peluang untuk sedekah dan sebagainya, jangan dibiar begitu sahaja. Paksalah hati untuk mengeluarkan harta atau bertindak memberi kebaikan kepada orang lain dengan bermacam-macam cara itu.
Di waktu rasa bakhil itu terasa kuat bergantung di hati, waktu itulah perlawanan mesti dihebatkan. Keluarkan apa-apa yang disayangi itu dengan segera dan sebanyak-banyaknya. Latihan ini akan jadi lebih berkesan kalau kita sanggup mengeluarkan harta itu semasa kita sendiri kekurangan. Katakanlah kita didatangi oleh peminta derma di waktu kita hanya ada RM5 di poket. Waktu itu, paksakan hati supaya mengeluarkan separuh yang ada. Tentulah hati rasa berat tetapi keluarkanlah juga. Insya-Allah, kalau ini dibuat dan sanggup kita buat selalu, kita akan jadi seorang yang pemurah dan rasa bakhil akan lenyap terus dari hati kita. Katakanlah kita ada duit RM10,000 tetapi yang kita dermakan hanya RM10 sahaja, tentu tidak akan berkesan apa-apa di hati kita. Di waktu duit sedikit, rasa bakhil sangat kuat maka waktu itu kita akan rasa berat untuk menderma. Ketika itulah kita perlu lawan sifat bakhil itu. Itulah yang dikatakan latihan. Itulah caranya untuk suburkan sifat-sifat pemurah.
Contoh 2: Sifat Takabur
Sifat takabur (sombong) adalah mazmumah yang wajib sangat dikikis segera. Kalau tidak ia akan menutup semua jalan-jalan kebaikan yang mungkin dibuat oleh seseorang itu. Hampir semua dari kita ada sifat ego atau sombong ini. Untuk membuangnya, amat susah sekali. Imam Ghazali ada berkata bahawa sifat ego itu hampir-hampir mustahil dapat dibuang semuanya dari jiwa manusia. Ada ulama sufi berkata, setelah melakukan latihan melawan hawa nafsu, sifat mazmumah yang paling akhir sekali keluar dari dirinya ialah kibir, sombong atau ego.
Bagaimanapun kita perlu berusaha untuk mengurangkannya. Kita mesti cuba merendah diri dengan memaksa hati untuk merasa dan mengakui kelemahan dan kekurangan kita sebagai manusia biasa. Dalam perselisihan pendapat atau pergaduhan kita dengan orang lain misalnya, cuba rasakan kesilapan itu di pihak kita. Atau paling tidak, akuilah bahawa kita juga turut bersalah. Bukankah ada pepatah mengatakan, “Bertepuk sebelah tangan masakan berbunyi.”
Kalau kita mampu dan berani mengakui kesalahan, akan mampu pulalah kita meminta maaf. Hanya dengan meminta maaf sahaja dosa kita sesama manusia akan terhapus. Oleh itu perlu sangatlah kita melatih diri untuk melawan sifat sombong atau takabur itu.
Latihan yang lebih berkesan lagi ialah kita biasakan diri tinggal bersama dengan orang-orang yang dipandang rendah oleh masyarakat. Orang-orang susah, peminta sedekah, orang cacat dan siapa sahaja yang setaraf, kita dampingi dan gauli. Duduk, bercakap-cakap, minum dan tidur baring bersama mereka hingga kita rasa sama seperti mereka. Waktu itu jiwa ego kita akan berasa kesal, terhina dan terseksa sekali kerana kita merasakan orang lain semua mengejek dan merendah-rendahkan kita. Biarkan. Bisikkan di hati, “Memang awak ini asalnya miskin dan hina. Berasal dari tanah dan akan menjadi tanah. Datang ke dunia dulu tanpa seurat benang dan sesen wang.”
Kalaulah amalan ini dibiasakan, insya-Allah sifat ego itu sedikit demi sedikit akan dapat kita buang dari hati kita. Alah bisa tegal biasa dan yakinlah ular menyusur akar tidak akan hilang bisanya. Dan ingatlah selalu firman Allah: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (kerana sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak suka seseorang yang sombong lagi membangga diri.” (Luqman: 18)
Allah berfirman lagi: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah satu golongan menghina golongan yang lain kerana boleh jadi mereka yang dihina lebih baik dari mereka yang menghina. Dan jangan pula wanita (menghina) wanita-wanita lain kerana boleh jadi wanita yang dihina lebih baik dari wanita yang menghina.” (Al Hujurat: 11)
Janganlah kita berjalan di muka bumi dengan sombong kerana kekayaan kita. Kekuatan kita tentu tidak dapat membelah bumi dan ketinggian kita tetap tidak dapat menyamai bukit. Imam Syafie pernah berkata, “Tidak akan mulia orang yang mengangkat diri dan tidak akan hina orang yang merendah diri.”  Sifat berkasih sayang sesama manusia adalah sifat terpuji yang dituntut oleh Allah. Ia adalah lawan pada sifat sombong, hasad dengki dan berdendam sesama manusia. Untuk mendapatkannya, kita kena melakukan latihan. Untuk menyayangi orang yang kita sayang itu mudah. Itu bukan latihan namanya. Untuk sayang ayah dan ibu kita, ia tidak perlukan latihan. Memang fitrah semula jadi kita sayang kepada ibu dan ayah. Tetapi yang memerlukan latihan ialah untuk berbuat baik kepada orang yang tidak pernah berbuat baik kepada kita atau berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepada kita.
Latihan ini sangat susah hendak dibuat kerana ia sangat bertentangan dengan nafsu. Tetapi kita diminta juga untuk mengusahakannya. Sebab itu Rasulullah ada bersabda: “Hendaklah buat baik kepada orang yang buat jahat kepada kamu.”
Biasanya kita hanya boleh berbuat baik dengan orang yang berbuat baik kepada kita sahaja. Kalau ada kawan yang menyinggung kita, kita tidak sanggup berbuat baik kepadanya. Sebab itulah kita kena latih melawan kemahuan jahat itu. Caranya, orang yang kita tidak suka itu, kita ajak makan bersama, ajak berbual, ajak bermesra, ajak berjalan dan lain-lain lagi. Hal ini memanglah boleh membuatkan hati susah sedikit. Tidak mungkin sekali dua kita usahakan, kita terus mendapat hasilnya. Kita kena lakukan latihan ini sepanjang masa. Bila ada peluang melakukannya, teruslah bertindak.
Sanggupkah kita membuat latihan seperti yang telah kita sebutkan tadi? Kalau kita mampu berbuat, kitalah rijal. Kitalah wira kerana sanggup memerangi nafsu. Ertinya sanggup memerangi diri sendiri. Namun ianya bukan mudah. Amat susah. Tersiksa kita dibuatnya. Adakalanya hendak berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat baik kepada kita pun amat susah. Betapa pula hendak berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat jahat kepada kita. Tentu lebih sulit lagi. Namun melalui latihan yang bersungguh-sungguh, insya-Allah ianya akan dipermudahkan oleh Allah. Allah berfirman: “Mereka yang berjuang di jalan Kami nescaya Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah berserta orang yang berbuat baik.” (Al Ankabut: 69)
Contoh 3: Rasa Takut
Rasa takut yang menguasai hati akan bertindak dalam berbagai bentuk mengikut suasana yang dihadapi. Contohnya, takut jin, takut harimau, takut ular, takut penjahat, takut miskin, takut orang kata, takut menegakkan kebenaran, takut maksiat dan takutkan Allah.
Di antara rasa-rasa takut yang disenaraikan di atas, ada rasa takut yang dilarang syariat dan ada pula rasa takut yang disuruh syariat. Perlu diketahui bahawa kedua-dua jenis takut ini tidak mungkin mengisi hati manusia dalam satu masa. Kalau rasa takut yang dilarang syariat ada dalam hati, maka rasa takut yang disuruh syariat, tidak akan bertapak di hati. Sebaliknya kalau takut yang disuruh syariat mengisi ruangan hati, maka hilanglah pula rasa takut yang dilarang syariat.
Tujuan melawan hawa nafsu yang dianjurkan syariat adalah untuk membuang segala rasa takut yang dilarang, untuk diganti dengan rasa takut yang disuruh. Kemuncak rasa takut yang dikehendaki syariat ialah rasa takutkan Allah, dengan erti takutkan segala azab yang dijanjikan oleh Allah di dunia apalagi di Akhirat.
Untuk itu kita mesti melawan nafsu kita yang takut pada hantu atau momok misalnya. Setiap kali kita terserempak dengan suasana itu, jangan kita mengalah dengan nafsu. Kuatkan hati dan tanamkan keyakinan bahawa Allah sahaja yang layak kita takuti. Yang lain-lain hanyalah makhluk seperti kita dan tidak ada apa-apa kuasa.
Untuk lebih berkesan, cuba di waktu tengah malam, kita pergi sendirian ke tanah perkuburan atau ke tempat-tempat yang menyeramkan. Masya-Allah! Tentulah takut. Takut itulah yang mesti kita lawan. Lawan dengan iman dan ilmu. Yakin bahawa tidak ada suatu kuasa pun yang boleh memberi kesan melainkan kuasa dan keizinan Allah. Waktu itu, isikan hati dengan zikrullah. Sedar dan yakinlah bahawa Allah sentiasa bersama dan Allah sangat hampir dengan kita. Allah Maha Melihat dan sedang melihat apa yang kita lakukan. Allah Maha Mendengar dan sedang mendengar apa yang kita katakan. Allah Maha Mengetahui segala masalah yang sedang melanda hati kita. Allah penentu, Allah pemutus, Allah penolong, Allah pembantu, Allah penyelamat dan Allah Maha Kasihan Belas pada hamba-hamba-Nya yang mahu mengikut jalan-Nya.  “Mereka yang bermuhajadah (berjihad untuk mencari keredhaan Allah) pada jalan Kami, akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah berserta orang yang berbuat baik.” (Al Ankabut: 69)
Lakukan latihan ini dengan tawakal dan doa yang sungguh-sungguh, agar Allah merestui dan memudahkan perjalanan kita. Buangkan rasa takut itu dan gantikan dengan ingatan serta keyakinan hanya pada-Nya.
Bagi orang yang ingin menegakkan kebenaran, tetapi takut dikata orang, takut dihina, takut dibuang kerja, takut ditangkap, takut dijel, takut dibenci dan diketepikan, juga wajib bermuhajadah. Lawanlah rasa takut yang begitu dengan bertindak melakukan amalan tersebut. Misalnya kita takut hendak menghantar anak ke sekolah yang terjamin ada pendidikan Islam, dengan alasan takut tidak dapat kerja, takut gelaplah masa depannya di samping takutkan sikap hidup yang konon ketinggalan zaman.
Cara melawannya ialah hantarkan sahaja anak ke sekolah yang ditakuti itu. Kuatkan hati, pejamkan mata, pekakkan telinga dan lepaskan si anak pergi. Apa sahaja yang dibisikkan nafsu dan syaitan itu kita lawan. Jangan dilayan. Tawakal dan berdoa kepada Allah semoga usaha itu direstui dan semoga Allah bukakan jalan-jalan kemenangan kepada kita di dunia dan Akhirat.
Bagi orang-orang yang tidak melawan nafsu, imannya tidak mungkin dapat bertambah. Malah makin berkurang. Sama ada mereka sedar atau tidak, mereka telah diperhambakan oleh nafsu, menempah kecelakaan dan kutukan Allah di dunia dan Akhirat. Sebenarnya apa yang ditakuti itu, baik jin, mahupun kemiskinan atau penghinaan dari orang lain, pada hakikatnya tidak begitu. Adakah selama ini jin yang mencekik dan membunuh orang? Benarkah orang yang berpendidikan Islam itu miskin dan hina? Benarkah orang yang berpendidikan sekular terjamin hidup dunianya? Cubalah renung dan fikirkan hakikat ini. Kemudian sesuaikan pula dengan firman Allah:  “Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu tolong Allah, Allah akan menolong kamu dan Dia akan menetapkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)
Demi Allah yang tidak akan mungkir janji, yakinlah bahawa setiap usaha yang bertujuan mencari keredhaan-Nya pasti mendapat jaminan dan dimuliakan. Seperkara yang harus kita sedar bahawa Allah yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih itu, sentiasa bersedia untuk menolong sesiapa sahaja dari hamba-hamba-Nya. Kerana telah ditetapkan-Nya bahawa untuk mendidik hati, menambah iman itu perlu kita banyakkan latihan melawan hawa nafsu, maka Allah sendiri selalu memberi peluang pada kita untuk berbuat demikian.
Mehnah atau ujian dari Allah yang selalu menimpa kita seperti miskin, sakit, kematian, kecacatan anggota, kekurangan rupa paras, lemah dan bodoh, kata nista, hasad dengki orang, bencana alam dan lain-lain kesusahan serta penderitaan itu adalah peluang yang Allah berikan untuk kita bermujahadah.
Lagi tinggi taraf iman seseorang, lagi banyaklah mehnah yang Allah datangkan. Demikian maksud sabda Rasulullah SAW: “Bala yang paling berat akan ditimpa pada nabi-nabi, kemudian orang yang paling mulia (selepas nabi), kemudian yang paling mulia selepas itu. Seseorang itu diuji mengikut pegangan agamanya. Jika kuat agamanya beratlah ujiannya. Jika lemah agamanya, maka diuji mengikut agamanya.” (Riwayat At Tirmizi)
Apabila jiwa dihimpit dengan kesusahan-kesusahan, ertinya nafsu tercabar. Nafsu bakhil, sombong, penakut dan lain-lain mazmumah itu menjadi sakit dan terseksa setiap kali ditimpa ujian. Sesiapa sahaja sama ada orang Islam atau bukan Islam, asalkan dia hamba Allah, pasti merasakan hal ini. Bagi orang-orang yang beriman, dia sedar maksud Allah berbuat begitu. Setiap kali ditimpa ujian dia cepat-cepat memberitahu hatinya bahawa kalau ia sabar dan redha dengan ujian itu ia pasti akan mendapat satu dari dua yakni:
1. Penghapusan dosa atau
2. Kasih sayang Allah dan pangkat darjat di Syurga
Apabila diyakini sungguh-sungguh, bagi kita yang bertaraf iman ilmu tentu akan sanggup bermujahadah, memaksa nafsu untuk tenang dan merasa tidak ada apa-apa dengan penderitaan itu. Kalau kita miskin, maka pujuklah hati untuk tidak sedih dan susah hati dengan kemiskinan. Kajilah kebaikan yang diperolehi oleh orang miskin, di dunia mahupun di Akhirat. Misalnya di dunia kita beruntung, tidak payah mengurus, tidak payah bertanggungjawab membantu orang lain. Di Akhirat pula hisab akan dikurangkan dan dipercepatkan masuk ke Syurga.
Kemudian ajaklah hati untuk menerima pemberian Allah itu dengan redha, tanpa kesal dan buruk sangka dengan Allah. Yakinlah bahawa Allah cukup tahu kenapa kita perlu miskin. Kita pula sangat lemah untuk memahami hakikatnya apalagi untuk menangkisnya. Ibarat baju kita yang mana ia tidak pernah tahu kenapa kadang-kadang dibasuh, kadang-kadang digosok, kadang-kadang dijahit, kadang-kadang dipakai dan kadangkadang dibuang. Maka begitulah kita yang jahil tentang rahsia diri dan hati sendiri. Amat munasabahlah untuk kita redha dan sabar dengan ketentuan Allah kepada kita.
Memang di peringkat mujahadah, hati masih sakit dan tidak puas hati. Hanya jagalah supaya kita tidak gelisah, tidak mengungkit-ungkit, tidak mengadu-ngadu serta tidak buruk sangka dengan Allah. Kalau sifat ini dapat dikekalkan, insya-Allah peluang untuk meningkatkan iman adalah besar. Sebaliknya kalau setiap ujian dihadapi dengan keluh-kesah dan gelisah, kebimbangan, tidak sabar dan buruk sangka dengan Allah, bersedialah untuk menanggung kegelisahan jiwa yang perit dan penderitaan di Akhirat yang amat sangat.
Untuk pengetahuan kita, perlu dinyatakan bahawa bagi orang-orang muqarrobin dan nabi-nabi, iman yang tinggi menjadikan mereka lebih senang hidup dalam kesusahan daripada kesenangan. Mereka lebih inginkan kekurangan daripada kecukupan. Sebagai bukti cuba kita lihat doa Rasulullah SAW: “Wahai Tuhan, hidupkan aku di dalam ke-miskinan, matikan aku dalam kemiskinan dan kumpulkan aku dalam Syurga bersama orang-orang miskin.” (Riwayat At Tirmizi)
Sayidina Ali dalam sejarahnya pernah ketika dia hanya ada sebiji kurma untuk berbuka puasa, tiba-tiba datang peminta sedekah meminta makanan, terus diberikannya kurma yang sebiji itu.
Seorang perempuan di zaman Rasulullah SAW, yang punya tiga anak lelaki, sanggup melepaskan kesemua anaknya ke medan perang. Dia senyum ketika anak sulung dan anak keduanya mati syahid di medan perang tetapi menangis bila diberitahu anak bongsunya juga syahid. Bila ditanya kenapa dahulu senyum, sekarang menangis? Beliau menjawab: “Aku sedih kerana tiada lagi anak yang boleh aku korbankan untuk jihad fisabilillah.”
Nafsu kita juga selalu membuatkan kita kelu dan takut untuk bercakap bila berhadapan dengan orang-orang besar atau raja. Sedangkan bercakap benar di hadapan raja yang zalim itu adalah dituntut. Rasulullah SAW bersabda:  “Jihad yang paling utama itu berkata benar kepada penguasa yang zalim.” (Riwayat Abu Daud, Tirmizi dan Ibnu Majah)
Oleh itu kita mesti berusaha dapatkan sifat berani. Untuk melakukannya, mesti biasakan bercakap kebenaran bila semajlis dengan orang-orang besar. Memanglah di permulaannya kita akan rasa gementar tetapi lama kelamaan rasa takut pada makhluk itu pasti hilang. Yang timbul hanya rasa takut pada Allah sahaja.
Tanpa latihan tidak mungkin kita boleh buat peningkatan. Sedangkan latihan itu memang sulit. Kerana kita dihalang oleh nafsu. Rasa takut dan rendah diri itu sudah lama mendarah mendaging. Jadi dengan jiwa tauhid yang kuat dan ampuh bertunjang di hati saja, kita mampu menolak nafsu-nafsu takut dan hina diri itu. Terutama bila berhadapan dengan orang besar atau orang yang berkuasa.
2. TAHALLI
Tahalli bererti menghias. Yakni perkataan lawan bagi takhalli. Sesudah kita mujahadah yakni mengosongkan hati dari sifat-sifat terkeji atau mazmumah, segera pula kita menghiasi hati dengan sifat-sifat terpuji atau mahmudah. Untuk mudah difahami, cuba gambarkan hati kita sebagai sebuah mangkuk yang kotor. Kemudian mangkuk itu dibersihkan. Setelah bersih, jangan dibiarkan ianya kosong. Isikan dia dengan barang-barang yang berharga dan makanan yang lazat. Begitu jugalah dengan hati yang telah dibersihkan daripada sifat-sifat mazmumah tadi. Janganlah dibiarkan ianya kosong. Mestilah diisi dengan sifatsifat mahmudah pula.
Untuk mengisi hati dengan sifat mahmudah, sekali lagi kita perlu mujahadah. Saya tegaskan sekali lagi, bahawa dalam pe-ringkat mujahadah ini, kita masih berasa berat dan susah. Susahnya memerangi hawa nafsu itu kerana hakikatnya kita terpaksa memerangi diri kita sendiri. Bukankah sebelum ini kita katakan nafsu itu sebahagian dari jasad kita, iaitu jasad halus kita (jismul latif). Maknanya belum ada ketenangan dan kelazatan yang sebenar. Bagaimana hendak lazat kalau terpaksa memerangi diri sendiri. Insya-Allah, kalau kita bersungguh-sungguh, lama kelamaan bila ia sebati dengan hati, di waktu itu akan terasalah lazatnya. Kerana setelah kita bersungguh-sungguh, Allah akan membantu sepertimana janji-Nya dalam Al Quran.
Cara-cara mujahadah dalam tahalli samalah seperti kita mujahadah untuk takhalli. Macamlah juga orang yang buat latihan senaman untuk sihatkan badan. Peringkat awal tentulah terasa letih, menjemukan dan sakit-sakit badan. Tetapi akhirnya nanti, dia akan rasa seronok dan terhibur dengan senaman itu. Begitulah juga dalam riadatunnafsi ini. Ertinya, kita bersenam secara rohaniah. Peringkat awal tentulah jemu dan terseksa tetapi akhirnya ia akan mesra dengan tabiat diri kita.
Misalnya, kita mahu menghiasi hati dengan sifat pemurah. Maka kita mujahadah dengan mengeluarkan harta atau barang kita, terutama yang kita suka dan sayang, untuk diberi pada yang memerlukannya. Mulanya tentu terasa berat dan payah. Tetapi jangan menyerah. Kita lawan. Ingatkan hati bagaimana orang-orang muqarrobin berebut-rebut untuk dapatkan pahala sedekah. Sayidatina Aisyah r.ha. di waktu tiada apa yang hendak dimakan, beliau cuba juga mendapatkan walau sebelah kurma untuk disedekahkan. Begitu kuat keinginan mereka pada pahala dan rindunya dengan Syurga. Mereka berlumba-lumba menyahut pertanyaan Allah SWT: “Siapakah yang mahu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperolehi pahala yang banyak.” (Al Hadid: 11)
Setiap kali kita rasa sayang pada harta, setiap kali itulah pula kita keluarkannya. Insya-Allah lama-kelamaan kita akan memiliki sifat pemurah. Begitu juga dengan sifat-sifat mahmudah yang lain seperti kasih sayang, berani, tawadhuk dan sebagainya, perlulah kita miliki. Untuk itu kenalah bermujahadah. Jika tidak, iman juga turut hilang. Sebab iman itu terdiri di atas sifat-sifat mahmudah.
3. TAJALLI
Sebagai hasil mujahadah dalam takhalli dan tahalli , kita akan memperolehi tajalli. Iaitu sejenis perasaan yang datang sendiri tanpa memerlukan usaha lagi. Agak sukar untuk dituliskan atau digambarkan dengan bahasa. Apakah yang dikatakan tajalli? Yang sebenarnya ia adalah sejenis perasaan yang bersifat maknawiah (zauk), yang hanya mungkin dimengertikan oleh orang-orang yang mengalami dan merasainya. Sepertilah kemanisan gula, tidak akan dapat digambarkan secara tepat.
Tajalli secara ringkas, secara asas dan secara mudah difahami ialah perasaan rasa bertuhan, rasa dilihat dan diawasi. Hati seakan-akan celik, hidup, nampak dan terasa kebesaran Allah. Ingatan dan rindu penuh tertuju pada Allah. Hati tenggelam dalam kebesaran-Nya atau dalam mencintai-Nya dengan tidak putus-putus lagi. Harapan dan pergantungan hatinya tidak lagi pada yang selain dari Allah. Dirasakan oleh hatinya bahawa seluruh amal bakti yang dibuatnya, adalah kerana dan untuk Allah semata-mata. Atau hadiah daripada Allah kepadanya. Apa sahaja masalah hidup, dihadapi dengan tenang dan bahagia. Tidak ada pun kesusahan dalam hidupnya. Sebab semua itu dirasa pemberian dari Kekasihnya, Allah SWT. Kalau begitu, bagi orang-orang yang beriman, dunia ini sudah terasa bagaikan Syurga. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan sejati dan kebahagiaan abadi iaitu kebahagiaan hati.
Setakat ini yang mampu saya gambarkan rasa tajalli yang agak rasional yang boleh dihuraikan secara ilmiah. Yang selebihnya, lemahlah tinta untuk menulisnya. Hanya siapa yang dapat, dia akan merasakannya dan tidak dapat berkongsi dengan orang lain pula. Kalau cuba juga diceritakannya, akan menimbulkan fitnah di sisi orang-orang yang jahil. Sementara orang-orang yang hasad dengki pula akan mengambil peluang menuduhnya sesat, kafir atau zindik. Dalam soal ini ada seorang Sahabat Rasulullah SAW pernah berkata: “Kalau aku luahkanlah apa yang terasa dalam hati ini, orang akan menuduh aku kafir dan lantas membunuh aku.”
B. ISTIQAMAH
Sikap istiqamah (tetap) beramal adalah benteng iman yang keempat. Seseorang yang memiliki sikap ini sebenarnya telah mendirikan benteng untuk mengawal imannya daripada gangguan musuh. Sebaliknya, tanpa sikap ini seseorang telah membuka satu pintu kepada musuh-musuhnya untuk masuk ke hati dan merosakkan imannya. Bagaimana ini boleh terjadi?
Telah dikatakan berulang kali bahawa tujuan ibadah serta membersihkan hati itu adalah untuk membuahkan iman dan akhlak. Kalau tidak begitu, ibadah itu tidaklah bererti apa-apa. Amalan yang membuahkan iman dan akhlak itu adalah benteng yang menjaga iman. Maka melaksanakannya secara tetap dan berterusan akan menetapkan iman dan akhlak itu pada hati kita. Sebaliknya, kalau amalan yang berbuah itu dilakukan sekalisekala dan tidak berterusan, maka tentulah iman itu juga tidak terjamin keselamatannya. Di waktu amalan itu kita lakukan, iman akan tinggi tetapi ketika amalan itu ditinggalkan, iman akan menurun atau merosot.
Oleh itu supaya iman sentiasa ada dan stabil, sikap istiqamah beramal adalah penting. Ia akan bertindak sebagai benteng yang dapat memelihara dan menyelamatkan iman daripada serangan musuh terutama nafsu dan syaitan. Sabda Rasulullah SAW: “Amalan yang paling disukai Allah ialah amalan yang berterusan (berkekalan) walaupun sedikit.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Yang penting dalam beramal ialah mengekalkan amalan itu. Kalau tidak mampu berbuat banyak amalan, cukuplah sedikit, asal dikekalkan (istiqamah), daripada banyak amalan tetapi tidak kekal. Contohnya, membaca Al Quran, cukuplah lima baris sahaja tetapi dibuat tiap-tiap hari daripada lima juz sekali baca tetapi dibuat sebulan sekali. Sembahyang sunat pula, cukuplah dua rakaat tiap-tiap malam daripada seratus rakaat tetapi sebulan sekali. Begitu juga dengan sedekah. Biar hanya 10 sen setiap hari daripada RM10 tetapi setahun sekali.
Kebaikan dari sikap istiqamah ini ialah:
1. Amalan yang dibuat secara istiqamah akan berkesan. Umpama setitik air kalau terus-menerus memukul batu, lama-kelamaan akan melekukkan batu. Sebaliknya kalau banjir sekalipun yang datang tetapi hanya sekali datangnya, tentu tidak berbekas pada batu.
2. Tujuan beramal dan membersihkan hati agar iman dan akhlak subur. Setiap kali kita beramal kita akan merasai nikmat buahnya itu. Jadi kalau sesuatu amalan itu kita kekalkan, maknanya kita akan sentiasa dapat menikmati nikmatnya. Nikmat inilah yang akan memelihara iman kita.
3. Musuh kita terutama nafsu dan syaitan tidak pernah rehat daripada memusuhi kita. Dengan istiqamah, barulah seim-bang pertahanan kita terhadap musuh-musuh itu. Makna-nya kita juga tidak pernah berehat mempertahankan iman dan akhlak kita.
Imam Al Ghazali pernah mengingatkan, “Banyakkanlah olehmu akan amalan yang terasa berbekas di hati.”
Lain orang lain hatinya, maka lain pulalah minat dan kegemaran beramal. Ada orang seronok dengan zikir ‘alhamdulillah’. Maknanya bila sebut ‘alhamdulillah’ terasa di hati lazatnya zikir itu. Maka untuk orang ini banyakkanlah zikir itu. Orang lain pula rasa lazat dengan puasa. Maka banyakkanlah puasa sunat. Begitu juga ada orang yang terasa lazat dengan berfikir. Bila berfikir terasa bertambah iman. Maka banyakkanlah berfikir.
Kebaikan dari sikap ini ialah apabila sesuatu amalan itu dilakukan dengan suka dan rela, ia akan lebih berkesan dan tidak menjemukan. Orang yang beramal kerana terpaksa dan ikut-ikutan atau secara jahil dan tidak faham falsafah ibadah itu, tidak akan memperolehi apa-apa kesan baik. Sebaliknya akan mudah terasa jemu. Orang yang jemu beramal akan putus hati dengan Allah. Bila putus hubungan hati dengan Allah, bermakna orang itu sedang berada dalam kemurkaan Allah. Allah berfirman dalam Hadis Qudsi:  “Hai hamba-Ku, mengapa kamu jemu beramal sedangkan Aku tidak pernah jemu memberi pahala padamu?”
Allah SWT sentiasa bersedia untuk melimpahkan rahmat dan pahala pada kita tetapi mengapa kita tidak mempedulikan-Nya? Untuk mengelak dari sikap itu, kita mesti berhati-hati dalam beramal. Jangan beramal kerana ikut-ikut orang dan kerana terpaksa. Tilik dahulu hati dan minat kita, kemudian pilihlah amalan yang betul-betul sesuai. Barulah dilakukan amalan itu. Kalau tidak, lama-kelamaan penyakit jemu beramal akan menyerang kita.
Bila jemu, banyaklah perkara yang boleh berlaku. Ada yang langsung meninggalkan amalan itu. Ada pula yang langsung benci dengan Islam. Ada yang kadang-kadang buat, kadang-kadang tinggalkan. Sebab itu, banyak berlaku orang lari meninggalkan jemaah Islam, pergi meneruskan hidup yang sesuai dengan kehendak nafsu dan syaitan.
Dalam beramal elok dipraktikkan teori: “Biar sedikit tetapi banyak jenis daripada banyak tetapi satu jenis.”
Mencari keuntungan Akhirat samalah seperti mencari keuntungan di dunia. Di dunia macam-macam yang kita buat seperti berniaga, tanam padi, tanam sayur, tangkap ikan, ternak kambing dan lembu. Kalau satu daripada usaha-usaha itu mengalami kerugian, kita masih boleh bergantung pada usaha-usaha yang lain. Tetapi kalau kerja kita satu jenis sahaja, katakanlah berniaga sahaja, tiba-tiba kita rugi, akan menderitalah kita waktu itu.
Begitulah juga halnya dalam mencari keuntungan hidup di Akhirat. Elok kita beramal banyak jenis selain yang difardhukan seperti sembahyang, puasa, sedekah, zikir, baca Quran, tolongmenolong, berkhidmat, berdakwah dan lain-lain yang dianjurkan oleh syariat. Katalah ada di antara amalan itu tidak diterima oleh Allah, waktu itu masih ada lagi amalan yang lain boleh kita harapkan. Tetapi kalau satu jenis sahaja amalan, tiba-tiba yang satu itu tidak diterima, apalagi yang boleh diharapkan? Oleh itu cuba jangan tumpukan amalan kita pada satu jenis sahaja. Usahakan supaya banyak jenis. Biarlah sedikit asalkan istiqamah.
C. BERTAFAKUR
Seterusnya kita lalui jalan berfikir (tafakur). Banyak ayat Al Quran yang menganjurkan kita berfikir. Firman Allah SWT: “Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?” ( Rom:8 )
Firman Allah: “Apakah kamu tidak memikirkannya?” (Al An’am: 50)
Firman Allah: “Pada diri kamu mengapa kamu tidak memerhatikannya.” (Az Zariyat: 21)
Berfikir yang dimaksudkan di sini ialah merenung dengan hati dan akal tentang ciptaan Tuhan hingga datang rasa insaf dan terasa kelemahan diri. Misalnya memikirkan rahsia ciptaan alam sehingga terasa kebesaran Allah dan timbul rasa gerun pada kekuasaan-Nya. Seterusnya memikirkan rahsia perjalanan hati yang bergelombang antara berbagai alunan rasa mazmumah dan mahmudah. Yakni tanpa dikontrol oleh kita, dapat kita rasakan satu pentadbiran Yang Maha Agung sedang mengawasi diri kita. Kesannya kita akan rasa sungguh takut untuk menderhakai Allah. Merenung dan berfikir tentang mati, yang tidak pernah ada seorang pun dapat mengelak darinya sehingga timbul rasa ingin beramal secara serius, sekaligus mahu membuat persiapan ke arah itu. Berfikir terus tentang itu semua, insya-Allah hati kita akan dimasuki sifat-sifat mahmudah.
Jadi untuk memiliki sifat-sifat mahmudah mestilah seseorang itu membuat latihan-latihan berfikir seperti berfikir tentang kesalahan diri, tentang dosa dan tentang mazmumah dalam diri. Bawa tafakur dan merenung barulah terasa betapa buruknya mazmumah. Ketika itu barulah mahu menyerah dan menghina diri kepada Allah. Kesannya akan mendorong kita untuk tunduk dan patuh kepadaAllah dan perintah-Nya. Mendorong kita menjadi tawadhuk, rendah diri, berlemah-lembut sesama manusia dan memiliki lain-lain sifat mahmudah. Jadi berfikir juga salah satu cara boleh membaiki diri seseorang.
D. BERGAUL
Tarbiah dan didikan juga boleh didapati melalui pergaulan. Imam Al Ghazali r.hm. ada berkata, di antara cara-cara yang praktikal untuk membaiki diri, hendaklah kita bergaul dengan orang ramai. Melalui pergaulan dapat dikesan sifat-sifat buruk kita. Manusia umum biasanya lebih memperkatakan tentang keburukan kita daripada kebaikan kita yang kadang-kadang kita sendiri tidak sedar dan tidak tahu itu satu kejahatan. Jadi bila kita dikata orang, barulah kita tahu akan kejahatan diri. Maka di waktu itu mudahlah untuk membaikinya.
E. PIMPINAN MURSYID
Cara membaiki diri seterusnya ialah melalui pimpinan. Pemimpin atau guru mursyid itu mampu memimpin kerana kelebihannya yakni dia lebih tahu tentang kecacatan dan kelemahan muridnya lebih daripada muridnya mengenali dirinya sendiri. Mengetahui tentang sir dan batin muridnya. Tahu pula membaca hal-hal halus yang ada pada hati seseorang. Pemimpin yang soleh atau guru mursyid itu juga nampak dan boleh menunjuk kelemahan diri kita. Boleh mendidik dan menunjuk ajar. Biasanya cara ini lebih berkesan dan lebih cepat untuk kita membuat perubahan diri. Asalkan kita dapat memberi kepatuhan kepadanya tanpa berbelah lagi. Biasanya dia sentiasa buat teguran kepada pengikut-pengikutnya atau murid-muridnya sama ada secara langsung dengan lisan mahupun dengan perbuatan secara tidak langsung.
Jadi pimpinan pemimpin yang mursyid itu lebih berkesan daripada latihan-latihan lain dalam membaiki diri yakni membaiki roh kita itu. Walau bagaimanapun pelbagai macam latihan lagi boleh dibuat. Terpulanglah kepada kesedaran dan kemampuan kita. Begitulah ilmu tentang roh atau ilmu rohani. Ia adalah ilmu untuk dapat mengesan sifat-sifat roh sama ada yang mahmudah untuk disuburkan mahupun yang mazmumah untuk ditumpaskan supaya roh kita ini bersih dan murni. Membersihkan roh atau hati itu mestilah melalui dua peringkat. Peringkat awal dengan mengetahui ilmu dan peringkat kedua melalui latihan.
Setelah menempuh kedua-dua jalan ini, dengan hidayah dan taufik daripada Allah, hati atau roh itu akan bersih. Sedangkan hati ini merupakan raja dalam kerajaan diri. Dialah yang mengarah, dialah yang menahan, dialah yang menyuruh dan sebagainya.
Bila mana roh dan hati ini menjadi raja dalam diri, kalau raja sudah bersih, ertinya raja itu sudah baik, maka segala anggota lahir atau jawarih seperti tangan, kaki, mulut, mata, telinga dan lain-lainnya, akan mematuhinya. Walaupun terasa berat, bila hati sebagai raja dalam negara diri sudah memerintah, maka seluruh rakyat dalam dirinya akan mematuhinya.
Ditegaskan sekali lagi, anggota-anggota lahir itu adalah ibarat rakyat dalam negara diri dan hati adalah rajanya. Bila raja baik, seluruh rakyat akan baik. Maknanya seluruh anggota lahir kita ini akan baik. Tetapi bila raja itu jahat, maka dikerahkan pula anggota lahir kita ini untuk buat kerja-kerja jahat. Bila raja dalam diri baik, baiklah seluruh jawarih, maka jawarihkita ini akan tunduk kepada perintah Allah. Itulah anggota manusia yang bersyariat. Jadi anggota lahir ini boleh bersyariat kerana hati itu bersyariat. Anggota lahir kita ini baik, kerana hati itu baik. Anggota lahir kita ini boleh rukuk dan sujud, kerana hati itu sudah rukuk dan sujud. Anggota lahir ini walau bagaimana susah pun, dia sanggup juga tunduk kepada Allah kerana hati sudah tunduk. Inilah yang dimaksudkan oleh sabda Rasulullah SAW:  “Dalam diri anak Adam itu ada seketul daging, kalau baik daging itu maka baiklah manusia, kalau ia rosak maka rosaklah manusia. Ketahuilah itulah hati atau roh.” (Riwayat Bukhari dan Muslim dari Nukman bin Basyir)
Begitu besarnya peranan hati atau roh ini. Ia adalah raja dalam kerajaan diri. Sebab itu Allah memerintahkan hati atau roh mesti dibersihkan. Bersihkan mazmumahnya digantikan dengan mahmudah melalui takhalli, tahalli dan tajalli, sepertimana yang telah dibahaskan. Jadi baru kita tahu anggota lahir kita ini akan bersyariat bila hati itu bersyariat. Anggota lahir itu baik bilamana hati itu baik. Bila anggota lahir itu tidak patuh kepada Allah atau tidak bersyariat, itu menunjukkan hati tidak baik. Jahatnya berpunca dari hati yang tidak baik. Ertinya raja dalam kerajaan diri ini sudah khianat dan sudah zalim hingga dia menzalimi semua rakyatnya yang ada dalam dirinya, iaitu anggota lahir atau jawarih kita itu.
Jadi kalau hati yang menjadi raja dalam kerajaan diri sudah baik, maka dia akan kerahkan anggota lahirnya sebagai rakyat dalam diri membuat baik. Maka Allah berkata dalam Al Quran: “Sesungguhnya mendapat kemenanganlah orang yang membersihkan hatinya (roh atau nafsu). Dan kecewalah orang-orang yang mengotorinya.”(As Syams: 9-10)
Jadi Allah sebut orang yang hatinya baik, dia akan berjaya atau menang dalam hidup. Berjaya di dunia dan berjaya di Akhirat. Mendapat kemenangan di dunia dan mendapat kemenangan di Akhirat. Sebaliknya, kalaulah hati seseorang itu sudah rosak, hatinya kotor hingga mazmumahnya subur, mahmudahnya kurus, maka hati yang kotor itulah yang akan mengecewakan manusia di dunia lagi. Hidupnya lintang-pukang, haru-biru, tidak ada kasih sayang, tidak ada kemesraan, selalu bergaduh, bergeseran dan krisis hingga membawa peperangan. Maka dengan kerosakan itu tidak ada lagi keamanan di dunia ini. Ini semua adalah hasil atau kesan daripada roh atau jiwa atau hati yang tidak dibersihkan. Akibatnya gagallah hidupnya walaupun dia seorang kaya, seorang raja, seorang pembesar atau seorang alim. Orang yang gagal di dunia, akan gagal di Akhirat. Orang yang kecewa di dunia, akan kecewa di Akhirat. Di Akhirat terjun ke Neraka.
Sebab itu dalam ajaran Islam, membersihkan roh itu amat penting sekali bahkan diwajibkan yakni dengan cara mempelajari ilmu rohaniah atau ilmu mengetahui tentang sifat-sifat roh atau hati. Roh itulah hakikat diri manusia. Ia adalah penentu baik atau jahatnya seseorang itu. Oleh itu bila roh manusia baik, ertinya manusia itu kembali kepada hakikatnya iaitu bersifat seperti manusia. Kalau rohnya diabaikan hingga penuh dengan sifat mazmumah, maka dia tidak kembali kepada hakikatnya. Walaupun rupanya manusia tetapi sifatnya mungkin haiwan atau mungkin syaitan.
Begitulah pentingnya roh atau hati dalam Islam. Begitu penting mempelajari ilmu rohani supaya kita tahu tentang sifat-sifat roh itu. Yang mahmudahnya hendak kita suburkan manakala yang mazmumahnya hendak kita tumpaskan dan dicabutbuangkan. Perbincangan atau perbahasan ini hanya ada di dalam ilmu tasawuf.